SISTEM
INFORMASI MANAJEMEN DAN PERANAN NYA DALAM OPERASIONAL PERUSAHAAN
Sistem Informasi Manajemen
Informasi dapat diibaratkan sebagai darah yang mengalir di
dalam tubuh manusia, seperti halnya informasi di dalam sebuah perusahaan yang sangat
penting untuk mendukung kelangsungan perkembangannya, sehingga terdapat alasan
bahwa informasi sangat dibutuhkan bagi sebuah perusahaan. Akibat bila kurang
mendapatkan informasi, dalam waktu tertentu perusahaan akan mengalami
ketidakmampuan mengontrol sumber daya, sehingga dalam mengambil
keputusan-keputusan strategis sangat terganggu, yang pada akhirnya akan
mengalami kekalahan dalam bersaing dengan lingkungan pesaingnya. Disamping itu,
sistem informasi yang dimiliki seringkali tidak dapat bekerja dengan baik.
Masalah utamanya adalah bahwa sistem informasi tersebut terlalu banyak
informasi yang tidak bermanfaat atau berarti (sistem terlalu banyak data).
Memahami konsep dasar informasi adalah sangat penting (vital) dalam mendesain
sebuah sistem informasi yang efektif (effective business system).
Menyiapkan langkah atau metode dalam menyediakan informasi yang berkualitas
adalah tujuan dalam mendesain sistem baru.
Sebuah
perusahaan mengadakan transaksi-transaksi yang harus diolah agar bisa
menjalankan kegiatannya sehari-hari. Daftar gaji harus disiapkan, penjualan dan
pembayaran atas perkiraan harus dibutuhkan: semua ini dan hal-hal lainnya
adalah kegiatan pengolahan data dan harus dianggap bersifat pekerjaan juru
tulis yang mengikuti suatu prosedur standar tertentu. Komputer bermanfaat utnuk
tugas-tugas pengolahan data semacam ini, tetapi sebuah sistem informasi
menajemen melkasanakan pula tugas-tugas lain dan lebih dari sekedar sistem
pengolahan data. Adalah sistem pengolahan informasi yang menerapkan kemampuan
komputer untuk menyajikan informasi bagi manajemen dan bagi pengambilan
keputusan.
Sistem
informasi manajeman digambarkan sebagai sebuah bangunan piramida dimana lapisan
dasarnya terdiri dari informasi, penjelasan transaksi, penjelasan status, dan
sebagainya. Lapisan berikutnya terdiri dari sumber-sumber informasi dalam
mendukung operasi manajemen sehari-hari. Lapisan keriga terdiri dair sumber
daya sistem informasi untuk membantu perencanaan taktis dan pengambilan
keputusan untuk pengendalian manajemen. Lapisan puncak terdiri dari sumber daya
informasi utnuk mendukung perencanaan dan perumusan kebijakan oleh tingkat
manajemen.
Definisi
sebuah sistem informasi manajemen, istilah yang umum dikenal orang
adalah sebuah sistem manusia/mesin yang terpadu (intregeted) untuk
menyajikan informasi guna mendukung fungsi operasi, manajemen, dan pengambilan
keputusan dalam sebuah organisasi. Sistem ini menggunakan perangkat keras (hardware)
dan perangkat lunak (software) komputer, prosedur pedoman, model manajemen
dan keputusan, dan sebuah “data base”.
peranan SIM dalam operasional perusahaan
Sistem informasi memiliki peran yang sangat penting dalam sebuah
organisasi . sistem informasi memiliki peran dalam menunjang kegiatan bisnis
operasional, menunjang manajemen dalam pengambilan keputusan, dan menunjang
keunggulan strategi kompetetif organisasi.
Peran sistem informasi manajemen untuk mencapai keunggulan
strategis dapat dicontohkan pada suatu perusahaan yang mutuskan untuk mengubah
seluruh datanya menjadi basis data dengan alat penghubung standar (seperti alat
penghubung browser web) sehingga memungkinkan berbagi informasi dengan para
sekutu-sekutu bisnis dan pelanggannnya. Basis data yang terstandarisasi dan
dapat diakses melalui browser web mencerminkan pergeseran posisi perusahaan
secara strategis.
Persaingan merupakan
kunci penentu keberhasilan sebuah organisasi bisnis. Strategi persaingan yang
diterapkan oleh bisnis/industri mampu memberikan keunggulan organisasi, dengan
memperhatikan faktor biaya, mutu dan kecepatan proses. Keunggulan kompetitif
akan membawa organisasi pada kemampuan mengendalikan pasar dan meraih
keuntungan usaha. Strategi bisnis menjadi pusat yang mengendalikan strategi
organisasi dan strategi informasi. Perubahan pada salah satu strategi
membutuhkan penyesuaian, agar tetap setimbang.
Hubungan antara
strategi kompetitif perusahaan dan manfaat penggunaan sistem informasi
dikembangkan melalui beberapa lapisan, mulai dari perencanaan, analisa dan
perancangan. Sejalan dengan semakin luasnya pemanfaatan teknologi informasi di
lingkungan bisnis, maka pemisahan antara teknologi informasi dan strategi
kompetitif perusahaan semakin tidak terlihat. Hal ini karena seluruh strategi
kompetitif perusahaan harus memiliki teknologi informasi.
Strategi perusahaan berbasis sistem informasi perlu dibuat karena
sumber daya yang dimiliki perusahaan sangat terbatas, sehingga harus
dimanfaatkan secara optimal. Strategi ini juga digunakan untuk meningkatkan
daya saing atau kinerja perusahaan karena para kompetitor memiliki sumberdaya
teknologi yang sama dan memastikan bahwa aset teknologi informasi dapat
dimanfaatkan secara langsung maupun tidak langsung dalam meningkatkan
profitabilitas perusahaan, baik berupa peningkatan pendapatan mapun pengurangan
biaya. Selain itu, strategi perusahaan berbasis sistem informasi digunakan
untuk mencegah terjadinya kelebihan atau kekurangan investasi serta menjamin
bahwa teknologi informasi yang direncanakan benar-benar menjawab kebutuhan
bisnis perusahaan akan informasi.
Sistem Informasi Manajemen (SIM) (Management Information System, MIS)
adalah bagian dari pengendalian internal suatu
bisnis yang meliputi pemanfaatan manusia,
dokumen, teknologi,
dan prosedur
oleh akuntansi
manajemen untuk memecahkan masalah bisnis seperti biaya produk,
layanan, atau suatu strategi bisnis. Sistem
informasi manajemen dibedakan dengan sistem informasi
biasa karena SIM digunakan untuk menganalisis sistem informasi lain yang
diterapkan pada aktivitas operasional organisasi. Secara akademis, istilah ini
umumnya digunakan untuk merujuk pada kelompok metode manajemen informasi yang
bertalian dengan otomasi atau dukungan terhadap pengambilan
keputusan manusia, misalnya sistem
pendukung keputusan, sistem pakar,
dan sistem
informasi eksekutif.
Tujuan Umum
- Menyediakan informasi yang dipergunakan di dalam perhitungan
harga pokok jasa, produk, dan tujuan lain yang diinginkan manajemen.
- Menyediakan informasi yang dipergunakan dalam perencanaan,
pengendalian, pengevaluasian, dan perbaikan berkelanjutan.
- Menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan.
Ketiga tujuan tersebut menunjukkan bahwa manajer
dan pengguna lainnya perlu memiliki akses ke informasi akuntansi
manajemen dan mengetahui bagaimana cara menggunakannya. Informasi akuntansi
manajemen dapat membantu mereka mengidentifikasi suatu masalah, menyelesaikan
masalah, dan mengevaluasi kinerja (informasi akuntansi dibutuhkan dam
dipergunakan dalam semua tahap manajemen, termasuk perencanaan, pengendalian
dan pengambilan keputusan).
Proses Manajemen
Proses manajemen didefinisikan sebagai aktivitas-aktivitas:
- Perencanaan, formulasi terinci untuk mencapai suatu tujuan
akhir tertentu adalah aktivitas manajemen yang disebut perencanaan. Oleh
karenanya, perencanaan mensyaratkan penetapan tujuan dan identifikasi metode
untuk mencapai tujuan tersebut.
- Pengendalian, perencanaan hanyalah setengah dari peretempuran.
Setelah suatu rencana dibuat, rencana tersebut harus diimplementasikan,
dan manajer serta pekerja harus memonitor pelaksanaannya untuk memastikan
rencana tersebut berjalan sebagaimana mestinya. Aktivitas manajerial untuk
memonitor pelaksanaan rencana dan melakukan tindakan korektif sesuai kebutuhan,
disebut kebutuhan.
- Pengambilan Keputusan, proses pemilihan diantara berbagai alternative disebut
dengan proses pengambilan keputusan. Fungsi manajerial ini merupakan
jalinan antara perencanaan dan pengendalian. Manajer harus memilih
diantara beberapa tujuan dan metode untuk melaksanakan tujuan yang
dipilih. Hanya satu dari beberapa rencana yang dapat dipilih. Komentar
serupa dapat dibuat berkenaan dengan fungsi pengendalian.
Definisi Teori Organisasi menurut Herbert Simon
Menurut Herbert Simon and Gullet, yang merupakan ilmuwan
yang mempelajari tentang persoalan organisasi mengungkapkan bahwa yang dimaksud
dengan pengorganisasian merupakan proses yang mana struktur suatu organisasi
dibuat dan ditegakan. Proses ini meliputi ketentuan dari kegiatan-kegiatan yang
spesifik yang perlu untuk menyelesaikan semua sasaran organisasi, pengelompokan
kegiatan tersebut berkaitan dengan susunan yang logis, dan tugas dari kelompok
kegiatan ini bagi suatu jabatan atau orang yang bertanggung jawab.
Teori organisasi merupakan sebuah teori untuk mempelajari
kerjasama pada setiap individu. Hakekat kelompok dalam individu untuk mencapai
tujuan beserta cara-cara yang ditempuh dengan menggunakan teori yang dapat
menerangkan tingkah laku, terutama motivasi, individu dalam proses kerjasama.
Terdapat beberapa jenis tujuan dalam organisasi yang
memberikan arah bagi pelaksanaan kegiatan maupun pengambilan keputusan, yaitu:
(a) Sasaran lingkungan, yaitu kondisi dimana suatu
organisasi-organisasi lain yang terdapat pada lingkungannya
(b) Sasaran output, yaitu menunjukan bentuk dan banyaknya
output yang akan dihasilkan oleh organisasi
(c) Sasaran sistem, yaitu berhubungan dengan pemeliharaan
atau perawatan maintenance organisasi
sendiri
(d) Sasaran produk menggambarkan karakteristik produk atau
jasa yang akan diberikan kepada konsumen, sasaran ini menentukan jumlah, mutu,
jenis, corak, dan karakteristik lainnya yang menggambarkan karakteristik produk
atau jasa yang ditawarkan
(e) Sasaran bagian (sub unit goal) yaitu menggambarkan
sasaran dari suatu bagian atau suatu satuan unit kerja yang merupakan bagian
dari unit organisasi.
Level-level yang Terdapat Pada Suatu Organisasi
atau Institusi di bidang Sistem Informasi Manajemen/Perusahaan
- TOP
Management
Manajemen tingkat teratas dalam pengelompokkan level
manajemen sistem informasi yang memiliki pergerakan dan pemikiran yang
strategis sebagai penunjang aktivitas dan konektivitas suatu organisasi atau
perusahaan.
-
MIDDLE Management
Manajemen tingkat menengah dalam pengelompokkan level
manajemen sistem informasi yang memiliki pergerakan sebagai operator, connector, acceptor, dan accelerator. Yang bergerak pada
bidang-bidang tertentu dalam menjalankan tugas masing-masing bagan.
-
FIRST Level Management
Manajemen tingkat bawah atau satu lebih rendah dibandingkan
dengan Middle Management dalam pengelompokkan level manajemen sistem informasi
yang memiliki peranan penting sebagai generator penggerak, penyuplai, dan spirit
dalam menjalankan serta memimpin para staff untuk menjalankan tugas sesuai
bidang masing-masing pada tiap-tiap bidang tertentu dalam memberikan suatu
informasi atau produksi barang dan jasa.
-
Supporting Staff
Suatu kelompok yang terdiri dari 2 orang atau lebih dalam
suatu bidang pekerjaan di suatu organisasi atau perusahaan yang memiliki fungsi
sebagai penggerak langsung dan penyaji produk berupa barang, jasa dan juga
informasi. Staff berfungsi sebagai pendukung penuh pada kinerja management yang
ada.
Teori-teori Permasalahan dalam Organisasi
Teori yang diungkapkan oleh Herbert Simon merupakan teori
modern yang ditandai dengan lahirnya gerakan contingency yang dipelopori Herbert Simon, yang menyatakan :
“ The theory of
Organization need more shallow principles and too simple for knowledges about
telling conditions that under of it which is applying princples competetive
with each other.”
Yang artinya :
“ Teori organisasi perlu melebihi prinsip-prinsip yang
dangkal dan terlalu disederhanakan bagi suatu kajian mengenai kondisi yang
dibawahnya dapat diterapkan prinsip yang saling bersaing.”
Herbert Simon mengungkapkan suatu teori yang lain, yaitu :
“ Moreover the comptible of hierarchy in
the organization, then the problem that have been done in the organization
moreover unstructured.”
Yang artinya :
“ Semakin tinggi hierarki (tingkatan) dalam suatu
organisasi, maka persoalan yang terdapat dalam organisasi tersebut makin tidak
terstruktur.”
Dalam pandangan struktural organisasi diperlukan adanya
koordinasi pola interaksi para anggota organisasi secara formal. Struktur
organisasi menetapkan bagaimana tugas akan dibagi, siapa melapor kepada siapa,
dan mekanisme koordinasi yang formal serta pola interaksi yang akan diikuti. Sebuah
struktur organisasi mempunyai tiga komponen yang harus diperhatikan, yaitu;
kompleksitas, formalisasi dan sentralisasi. Kompleksitas mempetimbangkan
tingkat differensasi atau perbedaan yang ada dalam organisasi yang meliputi
tingkat pembagian kerja, jumlah tingkatan di dalam hierarkhi organisasi, serta
tingkat sejauhmana unit-unit organisasi tersebar secara menyeluruh.
Kompleksitas pada sebuah organisasi dipengaruhi oleh besar kecilnya organisasi
tersebut, semakin besar kekuatan sebuah organisasi maka akan semakin kompleks
juga struktur organisasi yang ada di dalamnya.
Formalisasi merupakan tingkatan pada sejauhmana sebuah
organisasi menyandarkan dirinya kepada peraturan dan prosedur untuk mengatur
perilaku dari para pegawainya. Dengan struktur organisasi yang besar, maka akan
semakin sulit mengawasi dan mengendalikan para anggota organisasi di dalam
efektifitas kinerja organisasi. Untuk itu, diperlukan adanya peraturan dan
pedoman operasional standar organisasi dalam performansi kerja dari para anggota
organisasi, baik di tingkat bawahan maupun pada tingkat manajer.
Fungsi organisasi merupakan pemanfaatan dan pengerahan
segala sumber daya (pikiran, kemauan, perasaan dan tenaga) untuk mewujudkan
tujuan yang telah ditetapkan. Dilihat dari langkah-langkah kegitan organisasi,
maka yang dimaksud fungsi-fungsi organisasi mencakup sumber masukan (input), proses, dan keluaran (output) dengan melibatkan feedback sebagai kontrol.
Menurut Simon, dalam pemecahan masalah akan terlibat dalam
beberapa hal, yaitu :
-
Aktivitas Intelijen ( Mencari kondisi-kondisi yang membutuhkan solusi didalam
lingkungan ).
-
Aktivitas Perancangan ( Menemukan, mengembangkan, dan menganalisis
kemungkinan-kemungkinan tindakan ).
-
Aktivitas Pemilihan ( Memilih satu tindakan tertentu dari berbagai tindakan
yang tersedia ).
-
Aktivitas Peninjauan ( Menilai pilihan-pilihan masa lalu ).
Selanjutnya, teori manajemen ini akan dikemukan oleh G.
Anthony dan Michael S. Scott Morton (keduanya merupakan profesor MIT) yang
dikenal dengan istilah Sistem Pendukung Pengambil Keputusan (Deciasion Support System-DSS). Suatu sistem pendukung
pengambil keputusan adalah suatu sistem yang membantu seorang manajer atau
sekelompok kecil manajer memecahkan suatu masalah. DSS sebagai sebuah sistem
yang memberikan dukungan kepada seorang manajer, atau kepada sekelompok manajer
yang relative kecil yang bekerja sebagai tim pemecah masalah, dalam memecahkan
masalah semi terstruktur dengan memberikan informasi atau saran mengenai keputusan
tertentu. Informasi tersebut diberikan oleh laporan berkala, laporan khusus,
maupun output dari model matematis. Model tersebut juga mempunyai kemampuan
untuk memberikan saran dalam tingkat yang bervariasi.
Struktur Masalah dalam Suatu Manajemen Organisasi
atau Perusahaan beserta Contoh Konkritnya
Terdapat permasalahan yang terjadi dalam suatu
instansi baik berupa organisasi ataupun perusahaan. Dan dalam tiap-tiap
permasalahan tersebut terdapat adanya tingkatan-tingkatan tertentu, antara lain
:
- Unstructured Problems
Adalah tingkatan permasalahan pada level TOP Manajemen yang
sifatnya tidak terstruktur namun memiliki karakteristik yang khas dalam
kompleksitas masalah yang ada. Tidak akan diketahui oleh pihak lain dan dapat
menjadi rahasia suatu organisasi atau perusahaan. Masalah yang terjadi
sangatlah rumit untuk diatasi.
è Marketing Problems (Masalah Pemasaran)
Permasalahan dalam hal pemasaran merupakan hal yang sulit
diketahui terutama bagaimana cara pengelolaan produksi dan penyebaran, apa saja
yang menjadi kebutuhan masyarakat konsumen saat ini, dan dimana lokasi-lokasi
yang strategis. Seorang manajer perlu memahami dan mempelajari betul betapa
susahnya menyelesaikan masalah seperti ini. Cara yang perlu digunakan manajer
tingkat TOP atau level atas adalah menciptakan suatu produk dan jasa yang
digemari oleh semua khalayak konsumen. Pengelolaan yang spesifik dan persebaran
dengan lokasi yang strategis perlu dilakukan agar tidak terjadi kesinambungan
dalam polemik masalah tersebut.
è Human Resource Problems (Masalah Sumber Daya Manusia)
Ada kalanya seorang manajer kelas atas memiliki masalah
dalam hal pemanfaatan SDM dalam organisasi atau perusahaan yang dikelolanya,
masalah yang terjadi adalah seringnya missed-communication dengan manajer dibawahnya atau bahkan dengan relasi-relasinya.
Bagaimana manajer harus bisa mengatur SDM dalam jumlah banyak dan
mengimbanginya dengan produktivitas ketenagakerjaan yang teratur dan
tertib.
è Manufacturing Problems (Masalah Penghasilan)
Suatu instansi, organisasi atau perusahaan yang
menghasilkan produk, jasa atau informasi mengalami masalah dalam hal hasil
tersebut, dalam artian bahwa apa yang telah dibuat terkadang tidak membuat para
konsumen puas. Hal tersebut yang menjadikan seorang manajer kerepotan untuk
membuat inovasi yang unik dan menarik konsumen agar tidak merugikan
produktivitas perusahaan
è Financial Problems (Masalah Pendapatan)
Penghasilan per bulan adalah hasil yang wajib diberikan
oleh instansi atau perusahaan kepada para SDM sebagai upah hasil jerih payah
mereka, namun seringkali para SDM atau buruh menuntut upah dinaikkan, inilah
yang menjadikan masalah pendapatan kian memburuk. Hasil kesepakatan bersama
terkadang tidak menguntungkan sepihak. Dan sebagai seorang manajer harus dapat
memutar otaknya agar tidak kehilangan SDM yang bermanfaat dan tidak mengurang
pula hasil produksinya.
- Semi-structured Problems
Adalah tingkatan permasalahan yang cukup kompleks dan
sedikit rumit dalam penyelesaiannya dengan struktur yang terlihat semu karena
permasalahan ini dimiliki oleh para Manajer Madya atau posisi manajemen level
menengah. Dimana pada permasalahan ini korelasinya terkadang kacau karena
bergantung pada baik-buruknya seorang manajer mengkomunikasikan antara pihak
yang satu dengan yang lain atau sebagai perantara yang komunikan.
è Marketing Problems (Masalah Pemasaran)
Permasalahan pada pemasaran yang terjadi pada manajer Madya
atau pada pengelolaan Middle Management terkait pada hal yang subjektif antara
para pimpinan staff bidang pemasaran dengan penangggungjawab pemasaran (Leader
Staff Marketing). Manajer Madya harus mampu sebagai penengah dan perantara yang
terjadi akibat tidak adanya koordinasi yang baik terhadap beberapa pihak.
è Human Resource Problems (Masalah Sumber Daya Manusia)
Persoalan ini terjadi dan sering bilamana seorang manajer
Madya tidak mampu mengelola dan mengkoneksikan antara lawatan para pimpinan
staff di suatu bidang dengan beberapa bidang yang lain atau mendiamkan masalah
yang ada akan menimbulkan efektivitas pada SDM ketenagakerjaan yang kacau.
Perlu diwaspadai sebab dapat mengurangi efisiensi kerja secara maksimal.
è Manufacturing Problems (Masalah Penghasilan)
Penghasilan produksi yang dimiliki suatu instansi
organisasi atau perusahaan terkadang mengalami kendala tertentu dalam
pengelolaannya. Seorang manajer Madya harus mampu memiliki strategi yang jitu
agar penghasilan produksi barang, jasa, dan informasi ada secara maksimal.
Rata-rata mengalami penurunan, namun terkadang sebaliknya mengalami kenaikan.
Konvensi yang terjadi adalah bagaimana cara seorang manajer Madya dapat
mengatasi masalah pada penghasilan produk perusahaan yang berlebih namun kurang
diminati para konsumen. Jalan keluar haruslah dicari dan dimanfaatkan sebaik
mungkin.
è Financial Problems (Masalah Pendapatan)
Pendapatan para karyawan yang seringkali mendapat komplain
dari para pimpinan staff terkadang berujung pada tindakan anarkis para buruh
atau karyawan yang tidak dapat menerima pendapatan mereka yang dinilai minim
dan tidak sepadan dengan hasil jerih payah mereka. Sebagai manajer Madya
haruslah mampu menjembatani permasalahan ini karena pengawasan dan
tanggungjawab masalah ini hanya dapat dikomunikasikan kepada para atasan untuk
mendapatkan jalan keluar yang lebih baik. Sebagai penengah dalam suatu
problematik, maka harus adil dan tidak memihak siapapun.
- Structured Problems
Adalah tingkatan permasalah yang tidak begitu rumit dalam
penanganannya, namun fleksibilitas kurang dan sering terjadi didalam suatu
organisasi atau instansi suatu perusahaan. Permasalahan ini muncul dan dihadapi
oleh para manajer suatu bidang atau First Level Management. Permasalahan ini
terlihat dan terstruktur karena berkaitan langsung dengan para staff atau para
pekerja.
è Marketing Problems (Masalah Pemasaran)
Persebaran produk barang dan jasa serta informasi tertentu
yang dimiliki suatu instansi organisasi atau perusahaan menjadi tanggungjawab
langsung para pimpinan staff atau manajer bidang tertentu. Sebagai seorang
manajer haruslah tahu dan pandai menemukan lokasi yang strategis, banyak minat
konsumen, dan tahu harga saing dalam pemasaran yang ada.
è Human Resource Problems (Masalah Sumber Daya Manusia)
Pemberdayaan SDM adalah salah satu faktor kemajuan
organisasi atau perusahaan untuk dijadikan sebagai tenaga kerja yang ahli pada
bidangnya merupakan tanggungjawab langsung Manajer staff bidang tertentu.
Namun, masalah yang sering terjadi adalah penempatan SDM yang tidak sesuai
bidangnya dan berakibat pada menghambatnya produktivitas instansi organisasi
atau perusahaan. Perlu diperhatikan agar tidak terjadi kesalahan tertentu
didalamnya.
è Manufacturing Problems (Masalah Penghasilan)
Penghasilan produk barang, jasa, maupun informasi yang
terjadi langsung merupakan tanggungjawab seorang Manajer Staff atau First Level
Management yang mana acapkali terjadi persoalan yang tidak sesuai dengan
pemikiran atau strategi yang dimiliki dalam menangani persoalan tertentu.
Terkadang produktivitas berlebih namun minat konsumen kurang, atau sebaliknya
produktivitas tidak mampu mengatasi permintaan para konsumen. Maka, wajib dan
harus mampu memikirkan kembali serta memiliki strategi yang ampuh bagaimana
cara menanggulanginya.
è Financial Problems (Masalah Pendapatan)
Pendapatan merupakan hak bagi para pekerja atau semua
faktor SDM yang ada diperusahaan atau organisasi tertentu sebagai ganti jerih
payah mereka. Namun, permasalahan yang sering terjadi adalah protes para
pekerja mengenai gaji yang minim, sebagai manajer yang ahli maka harus
memikirkan apa yang terjadi dan bagaimana cara penyelesaian agar pendapatan
mereka tidak berakibat dalam merugikan perusahaan atau organisasi tersebut.
Serta mampu bertindak dalam konsolidasi agar tidak terjadi kesalahpahaman
antara bawahan dengan pihak yang lebih atas.
Penerapan Sistem Informasi Manajemen Bagi Perusahaan
Semua kegiatan yang dilakukan
oleh perusahaan memerlukan informasi. Demikian pula sebaliknya, semua kegiatan
menghasilkan informasi, baik yang berguna bagi perusahaan yang melaksanakan
kegiatan tersebut maupun bagi perusahaan lain diluar perusahaan yang
bersangkutan, oleh sebab informasi berguna untuk semua macam dan bentuk
kegiatan dalam perusahaan.
Apabila sistem informasi
manajemen dirancang dan dilaksanakan dengan baik, maka akan banyak manfaat yang
bisa diperoleh manajemen perusahaan, yaitu mempermudah manajemen dan membantu
serta menunjang proses pengambilan keputusan manajemen. Karena sistem informasi
manajemen menyediakan informasi bagai manajemen perusahaan dimana sistem
informasi manajemen tersebut dilaksanakan.
Sebagai masukan dalam
proses pengambilan keputusan informasi memegang peranan penting. Pentingnya
peranan informasi bagi pemimpin adalah untuk mengambil keputusan sebagai dasar
tindakan di masa mendatang. Suatu keputusan yang dihasilkan dengan tidak
berdasarkan pada penggunaan informasi yang tepat akan berakibat pada
pengambilan keputusan yang cukup fatal dan tidak dapat dipergunakan untuk
mencapai tujuan.
Manajemen menggunakan informasi
untuk dua tujuan yaitu perencanaan dan pengawasan. Perencanaan terjadi sebelum
pelaksanaan aktivitas organisasi. Tujuan yang ditentukan oleh proses
perencanaan harus dicapai dengan aktivitas itu. Meskipun perencanaan meliputi
semua tingkat organisasi, tetapi kebanyakan terjadi pada tingkat keputusan
strategis dan taktis.
Perencanaan banyak bergantung
pada peramalan dan dan informasi dari luar. Pengendalian merupakan hal mebandingkan
hasil aktual dengan rencana yang ditentukan pada proses perencanaan. Demikian
pentingnya peranan sistem informasi manajemen dalam usaha pencapaian tujuan,
sehingga jelaslah bahwa penggunaan dari sistem informasi manajemennya harus
dikaitkan dengan usaha-usaha modernisasi, sedang proses modernisasi hanya dapat
terjadi bila ditarik manfaatnya dari kemajuan yang telah dicapai dalam bidang
ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dalam manfaat dan peranan sistem
informasi manajemen seorang pemimpin dapat mengikut sertakan orang lain dalam
arti memikirikan masalah bersama-sama dan bersama pula bertanggung jawab dalam
pencapaian tujuan perusahaan
Hampir di seluruh sektor bisnis
di dunia ini menggunakan sistem informasi di perusahaan mereka. Bukan hanya
itu, mereka pun selalu berusaha melakukan berbagai macam cara untuk
menggembangkan sistem informasi yang digunakan di perusahaan mereka. Hal
tersebut disebabkan karena sistem informasi memegang peranan yang cukup penting
dalam bisnis mereka. Adapun peranan dan fungsi utama dari sistem informasi
adalah..
1. Mendukung Operasi Bisnis .
Mulai dari akuntansi sampai
dengan penelusuran pesanan pelanggan, sistem informasi menyediakan dukungan
bagi manajemen dalam operasi/kegiatan bisnis sehari-hari. Ketika
tanggapan/respon yang cepat menjadi penting, maka kemampuan Sistem Informasi
untuk dapat mengumpulkan dan mengintegrasikan informasi keberbagai fungsi
bisnis menjadi kritis/penting.
2. Mendukung Pengambilan
Keputusan Managerial.
Sistem informasi dapat
mengkombinasikan informasi untuk membantu manager menjalankan menjalankan
bisnis dengan lebih baik, informasi yang sama dapat membantu para manajer
mengidentifikasikan kecenderungan dan untuk mengevaluasi hasil dari keputusan
sebelumnya. Sistem Informasi akan membantu para manajer membuat keputusan yang
lebih baik, lebih cepat, dan lebih bermakna.
3. Mendukung Keunggulan
Strategis.
Sistem informasi yang dirancang
untuk membantu pencapaian sasaran strategis perusahaan
dapat men-ciptakan keunggulan bersaing di pasar.
Penjelasan lebih mendalam
mengenai fungsi utama sistem informasi dalam suatu organisasi akan dijelaskan
pada bagian klasifikasi sistem informasi di bawah ini:
Klasifikasi Sistem Informasi
Pada prakteknya, berbagai peranan tersebut diintegrasi menjadi suatu gabungan atau
fungsi-silang (cross-functional) sistem informasi yang menjalankan berbagai
fungsi, lebih jelasnya diperlihatkan pada gambar 1 berikut.
1. Sistem Informasi untuk
Operasi Bisnis
Sistem Informasi
Operasi memproses data yang berasal dari dan yang digunakan dalam kegiatan
usaha. Peranan sistem informasi untuk operasi bisnis adalah untuk memproses
transaksi bisnis, mengontrol proses industrial, dan mendukung komunikasi serta
produktivitas kantor secara efisien.
Transaction Processing Systems
Transaction processing
systems (TPS) berkembang dari sistem informasi manual untuk sistem proses
data dengan bantuan mesin menjadi sistem proses data elektronik (electronic
data processing systems). TPS mencatat dan memproses data hasil dari transaksi
bisnis, seperti penjualan, pembelian, dan perubahan persediaan. TPS
menghasilkan berbagai informasi produk untuk penggunaan internal maupun
eksternal. Sebagai contoh, TPS membuat pernyataan konsumen, cek gaji karyawan,
kuitansi penjualan, order pembelian, formulir pajak dan rekening keuangan. TPS
juga memperbaharui database yang digunakan perusahaan untuk diproses
lebih lanjut oleh SIM.
Process Control Systems
Sistem informasi operasi secara
rutin membuat keputusan yang mengendalikan proses operasional, seperti
keputusan pengendalian produksi. Hal ini melibatkan process control
systems (PCS) yang keputusannya mengatur proses produksi fisik yang secara
otomatis dibuat oleh komputer.
Office Automation Systems
Office automation
systems (OAS) mengumpulkan, memproses, menyimpan, dan mengirim data dan
informasi dalam bentuk komunikasi kantor elektronik. Contoh dari office
automation (OA) adalah word processing, surat elektronik (electronic
mail),teleconferencing, dan lain-lain.
2. Sistem Informasi untuk
Pengambilan Keputusan Manajemen.
Sistem informasi manajemen atau
SIM (management information system) adalah sistem informasi yang dirancang
untuk menyediakan informasi akurat, tepat waktu, dan relevan yang dibutuhkan
untuk pengambilan keputusan oleh para manajer. Konsep SIM adalah meniadakan
pengembangan yang tidak efisien dan penggunaan komputer yang tidak efektif.
Konsep SIM sangat penting untuk sistem informasi yang efektif dan efisien oleh
karena:
Menekankan pada orientasi
manajemen (management orientation) dari pemrosesan informasi pada bisnis yang
bertujuan mendukung pengambilan keputusan manajemen (management decision
making).
Menekankan bahwa kerangka sistem
(system framework) harus digunakan untuk mengatur penggunaan sistem informasi.
Penggunaan sistem informasi pada bisnis harus dilihat sebagai suatu integrasi
dan berhubungan, tidak sebagai proses yang berdiri sendiri.
Secara garis besar SIM terdiri
dari 3 macam yakni:
Information Reporting Systems
Information reporting
systems (IRS) menyediakan informasi produk bagi manajerial end
users untuk membantu mereka dalam pengambilan keputusan dari hari ke hari.
Akses data IRS berisi informasi tentang operasi internal yang telah diproses
sebelumnya oleh transaction processing systems. Informasi produk memberi
gambaran dan laporan yang dapat dilengkapi (1) berdasarkan permintaan, (2)
secara periodik, atau (3) ketika terjadi situasi pengecualian. Sebagai contoh,
manajer penjualan dapat menerima laporan analisa penjualan setiap minggunya
untuk mengevaluasi hasil penjualan produk.
Decision Support Systems
Decision support
systems (DSS) merupakan kemajuan dariinformation reporting
systems dan transaction processing systems. DSS adalah interaktif,
sistem informasi berbasis komputer yang menggunakan model keputusan dan
database khusus untuk membantu proses pengambilan keputusan bagi
manajerial end users. Sebagai contoh, program kertas kerja elektronik
memudahkan manajerial end user menerima respon secara interaktif
untuk peramalan penjualan atau keuntungan.
Executive Information Systems
Executive information
systems (EIS) adalah tipe SIM yang sesuai untuk kebutuhan informasi
strategis bagi manajemen atas. Tujuan dari sistem informasi eksekutif berbasis
komputer adalah menyediakan akses yang mudah dan cepat untuk informasi selektif
tentang faktor-faktor kunci dalam menjalankan tujuan strategis perusahaan bagi
manajemen atas. Jadi EIS harus mudah untuk dioperasikan dan dimengerti
(O’brien, 2000).
3. Sistem Informasi untuk
Keuntungan Strategis
Sistem informasi dapat memainkan
peran yang besar dalam mendukung tujuan strategis dari sebuah perusahaan.
Sebuah perusahaan dapat bertahan dan sukses dalam waktu lama jika perusahaan
itu sukses membangun strategi untuk melawan kekuatan persaingan yang berupa (1)
persaingan dari para pesaing yang berada di industri yang sama, (2) ancaman
dari perusahaan baru, (3) ancaman dari produk pengganti, (4) kekuatan
tawar-menawar dari konsumen, dan (5) kekuatan tawar-menawar dari pemasok.
Kelima faktor tersebut merupakan hal-hal yang harus diperhatikan dalam membangun
upaya peamsaran yang mengarah kepada competitive advantage strategies.
Hubungan kelima faktor tersebut dapat digambarkan seperti pada gambar 2
berikut.
Beberapa strategi bersaing yang
dapat dibangun untuk memenangkan persaingan adalah:
- Cost leadership (keunggulan biaya) –
menjadi produsen produk atau jasa dengan biaya rendah.
- Product differentiation (perbedaan
produk) – mengembangkan cara untuk menghasilkan produk atau jasa yang
berbeda dengan pesaing.
- Innovation – menemukan cara baru untuk
menjalankan usaha, termasuk di dalamnya pengembangan produk baru dan cara
baru dalam memproduksi atau mendistribusi produk dan jasa.
Peran Strategis Untuk Sistem
Informasi
Sistem informasi manajemen (SIM)
dapat menolong perusahaan untuk (1) meningkatkan efisiensi operasional, (2)
memperkenalkan inovasi dalam bisnis, dan (3) membangun sumber-sumber informasi
strategis.
1. Meningkatkan efisiensi
operasional
Investasi di dalam teknologi
sistem informasi dapat menolong operasi perusahaan menjadi lebih efisien.
Efisiensi operasional membuat perusahaan dapat menjalankan strategi keunggulan
biaya (low-cost leadership).
Dengan menanamkan investasi pada
teknologi sistem informasi, perusahaan juga dapat menanamkan rintangan untuk
memasuki industri tersebut (barriers to entry) dengan jalan meningkatkan
besarnya investasi atau kerumitan teknologi yang diperlukan untuk memasuki
persaingan pasar.
Selain itu, cara lain yang dapat
ditempuh adalah mengikat (lock in) konsumen dan pemasok dengan cara membangun
hubungan baru yang lebih bernilai dengan mereka.
2. Memperkenalkan inovasi dalam
bisnis
Penggunaan ATM (automated teller
machine) dalam perbankan merupakan contoh yang baik dari inovasi teknologi
sistem informasi. Dengan adanya ATM, bank-bank besar dapat memperoleh
keuntungan strategis melebihi pesaing mereka yang berlangsung beberapa tahun.
Penekanan utama dalam sistem
informasi strategis adalah membangun biaya pertukaran (switching costs) ke
dalam hubungan antara perusahaan dengan konsumen atau pemasoknya. Sebuah contoh
yang bagus dari hal ini adalah sistem reservasi penerbangan terkomputerisasi
yang ditawarkan kepada agen perjalanan oleh perusahaan penerbangan besar. Bila
sebuah agen perjalanan telah menjalankan sistem reservasi terkomputerisasi
tersebut, maka mereka akan segan utnuk menggunakan sistem reservasi dari
penerbangan lain.
3. Membangun sumber-sumber
informasi strategis
Teknologi sistem informasi
memampukan perusahaan untuk membangun sumber informasi strategis sehingga
mendapat kesempatan dalam keuntungan strategis. Hal ini berarti memperoleh
perangkat keras dan perangkat lunak, mengembangkan jaringan telekomunikasi,
menyewa spesialis sistem informasi, dan melatihend users.
Sistem informasi memungkinkan
perusahaan untuk membuat basis informasi strategis (strategic information base)
yang dapat menyediakan informasi untuk mendukung strategi bersaing perusahaan.
Informasi ini merupakan aset yang sangat berharga dalam meningkatkan operasi
yang efisien dan manajemen yang efektif dari perusahaan. Sebagai contoh, banyak
usaha yang menggunakan informasi berbasis komputer tentang konsumen mereka
untuk membantu merancang kampanye pemasaran untuk menjual produk baru kepada
konsumen.
Sistem Informasi Manajemen
Sistem Informasi
Manajemen
Oleh
: Bayu Pramutoko,SE,MM
PENDAHULUAN
Diskripsi
Singkat:
Mata Kuliah Sistem Informasi Manajemen (SIM) ini
dirancang untuk memberi pengetahuan mendasar kepada mahasiswa tentang philosopy
dan skills yang diperlukan bagi pengembangan dan pemanfaatan sistem informasi
yang berbasis Komputer (computer – based information sistem). Titik berat
pembahasan akan ditekankan pada kecocokan sistem informasi pada kegiatan
organisasi.
Topik-topik yang akan dibahas dalam mata
kuliah ini antara lain mencakup penguasaan konsep dasar basis data (data base),
sistem pendukung keputusan (decision support sistem) dan expert systems.
TujuanMata
Kuliah :
Mata kuliah SIM ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa
tentang bagaimana memanfaatkan sistem informasi sebagai alat bantu dalam proses
pengambilan keputusan manajemen.
BAB 1
PENGANTAR SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
Sebuah
masyarakat yang maju dan berkembang, pada dasarnya tidak akan terlepas dari apa
yang dinamakan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimilikinya. Masyarakat
modern yang berkembang pada era millenium dua ini merupakan masyarakat yang
menikmati fasilitas dari sebuah perkembangan teknologi canggih. Dunia seakan
menjadi sempit dengan teknologi, tidak ada yang mampu disembunyikan pada era
modern sekarang ini. Mautidak mau, setuju tidak setuju kemajuan tekhnologi
telah memasuki urat nadi kehidupan manusia.
Maka
saat ini kita lebih mengenal sebagai sebuah era masyarakat informasi dan
tentunya ada masa dimana masyarakat belum mengenal informasi. Dari hampir semua
lini kehidupan manusia dewasa ini telah menggunakan kecanggihan tekhnologi
informasi, baik pada tingkat individual, kelompok, semua jenis organisasi, pada
tingkat negara, dan bahkan dalam hubungan antar organisasi dan antar negara.
Salah satu produk pekembangan tersebut ialah tumbuhnya disiplin ilmiah baru
yang kini dikenal dengan istilah informatika.
Walaupun terbilang masih baru, namun perkembangannya telah sangat dibutuhkan
hampir semua orang, salah satu kontribusi substansial dan bahkan telah membuka
kesadaran pada perbagai pihak tentang pentingnya informasi sebagai suatu Resource (sumber daya) organisasi
yang strategis.
Tentunya
dalam perkembangannya ada suatu proses dalam masyarakat hingga mencapai sebuah
tahapan sebuah sistem informasi yang sedemikian canggih seperti sekarang ini.
Dibawah ini akan dijelaskan tahapan dan perbandingan perkembangan teknologi
informasi di masyarakat :
Masyarakat Pra –
Informational
è adalah masyarakat yang mengolah informasi
secara “ traditional “ dalam arti tidak menggunakan sarana yang bermuatan
tekhnologi tinggi atau bisa dikatakan “manual sistem “
Masyarakat Informational
è adalah masyarakat yang mengolah berbagai komponen
penanganan informasi dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi atau bisa
dikatakan “ Computerisasi sistem “.
Arti
Penting Perlunyasebuah Sistem Informasi
1.Meningkatnya Kebutuhan masyarakat (konsumen) Tiap hari, terhadap kebutuhan Pokok dan kebutuhan
pelengkap lainnya.
2.Tingkat kecerdasan (kemampuan berfikir)
masyarakat meningkat searah dengan berkembangnya kualitas pendidikan di
masyarakat
3.Kualitas hidup semakin meningkat dan
penuh tantangan.
4.Pekerjaan tidak hanya satu (monoton)
tetapi semakin banyak dan luas wilayahnya.
5.Kecenderungan Manusia Modern mencari
alternatif untuk cadangan masa depan.
6.Orientasi hidup semakin jelas dan
pemahaman managerial semakin tinggi.
7.Persaingan hidup semakin ketat dan
membutuhkan banyak energi.
8.Kualitas pekerjaan (hasil karya) berubah
interprestasinya dan dituntut setiap hasil pekerjaan untuk bisa cepat , cerdas,
akurat dan segera bisa dimanfaatkan.
9.Persaingan dunia Usaha makin keras dengan
adanya pasar bebas dunia.
Contoh : Sebuah Perusahaan rokok. Saat
pertama didirikan manajer hanya mengelola semua sistem perusahaan dengan cara
manual. Namun setelah berkembang dan memerlukan perluasan usaha maka yang
dikelola manajer tidak hanya bagian produksi saja, tetapi bagian:
personalia,material, marketing, keuangan dll. Yang membutuhkan penanganan yang
maksimal dan itu tidak bisa dilakukan dengan hanya mengandalkan satu orang
tetapi karyawan yang banyak dari semua cabang yang ada di seluruh dunia. Maka
pentingnya sebuah pengelolaan informasi pada perusahaan rokok tersebut mutlak
diperlukan.
Menurut McLeod, 1995 ( seorang pakar management ) : Seorang manajer mengelola lima jenis
sumber daya utama yaitu :
1.Manusia
2.Material
3.Mesin (fasilitas dan energi)
4.Uang (capital)
5.Informasi ( data )
è Maka selain mengelola sumber daya fisik,
manajer juga mengelola sumber daya informasi.
èSeorang manajer memastikan bahwa sumber
daya yang diperlukan terkumpul dan kemudian diproses menjadi informasi yang
berguna.
èKemudian seorang manajer memastikan bahwa
orang yang berkompeten dalam organisasilah yang menerima informasi tersebut dan
memanfaatkannya.
è Setelah informasi tersebut tidak lagi
bermanfaat, manajer membuang atau menyimpan (sebagai arsip) informasi tersebut dan menggantinya dengan yang baru.
¯Sehingga
seluruh aktivitas tersebut mulai dari :
è Memperoleh informasi è menggunakannya seefektif mungkin è dan membuangnya/menyimpan pada saat yang
tepat disebut
MANAJEMEN
INFORMASI
¯ Dampak Perubahan Dunia Global
Beberapa tahun
yang lalu sedikit sekali organisasi yang memiliki kepedulian terhadap informasi
termasuk bagaimana memperolehnya, mengelola dan mendistribusikan kedalam
seluruh organisasi. Namun karena adanya perubahan lingkungan bisnis, maka
organisasi bisnis tidak bisa mengabaikan sistem informasi, terdapat kekuatan
yang menjadi pendorong perubahan tersebut :
1.Perubahan ekonomi secara Global ( the emergence and strengthening of the
global economy) sehingga
terjadi :
a.Manajemen dan pengendalian pada berbagai
tempat dibanyak negara.
b.Tingkat persaingan di pasar dunia
c.Unit-unit usaha yang berada di lintas negara
d.Sistem pengiriman produk antar negara.
2.Perubahan ekonomi industrial è elemen penting yang sangat berpengaruh
terhadap perubahan ekonomi adalah :
a.Pengetahuan dan informasi yang didasarkan
atas nilai ekonomi.
b.Produktivitas
c.Produk dan jasa-jasa baru
d.Kepemimpinan
e.Persaingan berdasarkan waktu
f.Siklus hidup produk yang lebih pendek
g.Basis pengetahuan karyawan yang terbatas.
3. Perubahan Lingkungan
Bisnis juga berpengaruh pada cara mengorganisir dan mengelola Perusahaan,
sehingga dengan Teknologi informasi cara menciptakan nilai (hasil produksi barang dan jasa) juga berubah.
PadaPerusahaan
Tradisional umumnya :
1.Hirarki (jabatan yang berurutan)
2.Sentralistis
3.Pengelolaan struktur yang ditandai dengan
prosedur operasi standart.
è Perubahanya pada Perusahaan :
a.struktur organisasi yang mendatar
b.Desentralisasi
c.Fleksibilitas
d.Kebebasan lokasi
e.Biaya transaksi dan koordinasi yang
rendah
f.Pemberdayaan
g.Kerjasama team.
ýSISTEM INFORMASI
:Sistem Informasi adalah seperangkat
komponen yang saling berhubungan, dan yang berfungsi mengumpulkan, memproses,
menyimpan dan mendistribusikan informasi untuk mendukung pembuatan keputusan
dan pengawasan dalam organisasi.
: Informasi adalah data yang telah diolah
menjadi suatu bentuk yang mempunyai arti dan bermanfaat bagi manusia.
: Data adalah aliran fakta-fakta mentah yang
menunjukkan peristiwa yang terjadi dalam organisasi dan lingkungan fisik
sebelum diorganisir dan ditata menjadi bentuk yang bisa difahami dan digunakan.
Terdapat tiga Aktivitas
pada Sistem Infromasi :
1.Input è adalah sekumpulan data mentah dalam
organisasi maupun di luar organisasi untuk diproses dalam suatu sistem ekonomi.
2.Processing è adalah konversi/pemindahan, manipulasi dan
analisis input mentah menjadi bentuk yang lebih berarti bagi manusia.
3.Output è adalah distribusi informasi yang sudah
diproses ke anggota organisasi dimana output tersebut akan digunakan.
PERSPEKTIF
BISNIS DALAM SISTEM INFORMASI :
Sistem Informasi terdapat dalam ruang lingkup :
1.ORGANISASIè Terdapat tiga elemen kunci yaitu : Orang,
Struktur dan prosedur,politik dan kultur.
a.Orang Ø orang
yang ahli pada bidangnya dipekerjakan dan dilatih untuk berbagai fungsi :
termasuk penjualan dan pemasaran, manufaktur, keuangan, akuntansi, dan
sumberdaya manusia.
b.Struktur dan prosedur Ø Struktur mengacu pada pembagian tugas menurut keahlian orang di
setiap bagiannya. Suatu organisasi mengkoordinasi kerja melalui hierarki yang
tersruktur, formal, dan prosedur operasional yang standart.
c.Politik dan kultur Ø Tingkatan dan keahlian yang berbeda dalam
organisasi menimbulkan kepentingan dan sudut pandang yang berbeda pula. Hal ini
seing menimbulkan konflik. Konflik juga merupakan dasar bagi politik
organisasi. Sistem informasi muncul dengan berbagai perspektif, konflik,
kompromi dan persetujuan yang semuanya ini merupakan sifat-sifat dari
organisasi.
2.MANAJEMEN è manajemen menyelesaikan masalah-masalah
bisnis dalam lingkungan bisnis, mereka membuat strategi organisasi untuk
merespon, dan mereka mengalokasikan sumberdaya manusia dan keuangan untuk mencapai
strategi dan mengkoordinasikan pekerjaan. Mereka juga harus melatih
kepemimpinan yang bertanggung jawab.
3.TEKNOLOGI è teknologi informasi adalahsatu alat bagi manajer
untuk menyesuaikan diri dengan lingkangan usahannya. Teknologi yang dimaksud misalnya
perangkat keras komputer yang digunakan untuk membantu aktivitas : input, processing dan output dalam suatu
sistem informasi.
ýSISTEM INFORMASIDALAM ORGANISASI
Keterangan Gambar :
1.Sistem Informasi pada
Tingkat Operasional yakni sistem informasi yang memonitor aktivitas mendasar
dan transaksi dari organisasi. Misal Kegiatan penjualan,penerimaan kas
penjualan. Tabungan, gaji keputusan kredit, dan aliran bahan baku suatu pabrik.
2.Sistem Informasi pada
Tingkat Pengetahuan yakni sistem informasi yang mendukung pekerja pengetahuan
dan data dalam suatu organisasi. Tujuannya adalah membantu organisasi
mengontrol aliran kertas kerja.
3.Sistem Informasi pada
Tingkat Manjemen yakni sistem informasi yang mendukung monitoring, pengawasan,
pembuatan keputusan, dan aktivitas administratif manajer.
4.Sistem Informasi pada
Tingkat Strategis yakni sistem informasi yang mendukung kegiatan perencanaan
jangka panjang dari manajemen puncak. Perhatian utama dari sistem ini adalah
menyesuaikan perubahan pada lingkungan eksternal.
Pengaruh Perkembangan Teknologi Informasi :
1.Tahun 1980-an telah
terjadi revolusi pengolahan data, otomatisasi kantor, telekomunikasi, dan
aplikasi lainnya dalam teknologi informasi yang digunakan dan berpengaruh
langsung pada kinerja perusahaan besar maupun kecil.
2.Tahun 1990-an banyak
organisasi yang menerapkan teknologi informasi hampir pada setiap peningkatan
kinerja perusahaan dalam pengawasan manajerialnya. Contoh : Mesin scanning
untuk harga produk pada pasar swalayan/supermarket, ATM (outomatic teller machine/ anjung
tunai mandiri) sebuah
mesin transaksi pengambilan uang tunai perbankan langsung secara langsung.
3.Selanjutnya pada
tahun-tahun berikutnya perkembangan ide mendesain sebuah sistem informasi kian
meningkat pesat seperti pada stasiun radio, stasiun televisi dan surat kabar.
Juga pada media telekomunikasi hand phone dengan fasilitas yang kian canggih
dengan permance menarik dan kecil, tetapi bisa mengakses internet dan hubungan
telebanking sistem.
4.Kesempatan penerapan
sistem informasi telah membawa penggunaan teknologi yang lebih besar daripada
sebelumnya. Karena dihadapkan pada permintaan jasa yang berkembang, kebanyakan
departemen sistem informasi telah melakukan perubahan dramastis dengan dukungan
teknologi. Perubahan-perubahan tersebut diantaranya :
a.Penurunan waktu
pengembangan produk dan biaya pemanufacturan, tehnik yang biasa digunakan MAP
(manufacturing automatic protocol) dan CIM (Computer intgrated manufacturing
b.Jasa perbankan
cross-selling
c.Perbaikan sistem
perdagangan eceran
d.Peningkatan akses
informasi pelanggan
e.Memungkinkan pencatatan
otomatis
f.Mengintegrasikan semua
fungsi nilai tambah
g.Kontribusi terhadap
persaingan secara keseluruhan.
BAB 2
KOMPONEN DAN STRUKTUR
SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
* Batch
Procesing (Proses Pengelompokan)
FPada tahap awal perkembangan komputer
, semua pemrosesan komputer berdasarkan batch-nya (Kelompoknya). Tehnisnya
organisasi mengumpulkan tumpukan
traksaksi lalu diolah pada suatu waktu, kemudian dicatat kedalam media computer
yang dapat dibaca, seperti pita magnetik. Selanjutnya secara fisik dibawa
kepusat Komputer dan seluruh persedian diperbaharui melalui pemrosesan dimana
tumpukan data harian ditambah master file persediaan komputer. Baru setelah itu
menghasilkan laporan.
* On –
line sistem
FDengan
maksud menghindari kelambatan waktu dalam pemrosesan sistem Batch, dengan
sistem on-line setiap transaksi dimasukkan langsung ke Komputer ketika terjadi
transaksi.
Bidang
Aplikasi Pendukung Manajemen :
1.Transaction
Procesing System► Sistem pemrosesan transaction, sistem ini memprose
ribuan transaksi yang terjadi di organisasi setiap hari : penjualan,
pembayaran, penerimaan, mengiriman dan penerimaan barang, sewa beli dll
2.Decision Support
System (DSS)► adalah sistem yang berbasis komputer,
biasanya bersifat interaktif, dirancang untuk membantu manajer atau membuat
keputusan yang lain. DSS memasukkan baik data atau model untukmembantu pembuat
keputusan dalam mengatasi masalah, khususnya masalah yang tidak terstruktur.
3.Group Decision
Support System (GSS) ► sistem dirangcang untuk
mendukung suatu kelompok tidak hanya individu sistem ini disebut GSS (Group
Decision Support System) atau Electronik Meeting System (EMS) yang bertujuan
untuk memberi keuntungan kekuatan bagi kelompok organisasi dalam membuat
keputusan yang lebih baik dibandingkan dengan keputusan yang dibuat sendiri.
4.Geographic
Information System (GIS) ► adalah suatu sistem berbasis komputer yang dirancang untuk
mengumpulkan, menyimpan, mengambil, memanipulasi dan menampilkan data tempat
(spatial data). GIS menghubungkan data ke peta yang ada dalam komputer sehingga
karakteristik tempat dari data bisa dihimpun dengan mudah. GIS seringkali
berfungsi sebagai DSS untuk menjalankan tugas penyeleksian tempat restauran fas
food dan penetapan rute pengiriman barang.
5.Exccutive
Information System (EIS) ► Konsep kunci dari sistem ini adalah mampu mengirim informasi terbaru
tentang keadaan bisnis langsung pada eksekutif puncak. EIS didesain untuk
digunakan secara langsung oleh manajer puncak tanpa bantuan perantara. EIS
menggunakan tampilan grafik, komunikasi, dan metode penyimpanan data untuk
memudahkan para eksekutif dalam mengakses secara on-line informasi terbaru
tentang keadaan organisasi yang dipimpinnya.
Bidang Aplikasi
Pendukung Fungsional :
1.Office Automation► Otomasi
kantor melibatkan seperangkatfungsi yang saling berhubungan dan dapat
diintegrasikan dalam sistem tunggal. Fungsi-fungsi yang biasa dipakai adalah
electronic mail, word processing, pengopian, penyimpanan dokumen, voice mail,
desktop publishing.
2.Factory Automation
►melibatkan seperangkat mesin-mesing yang terkontrol secara numerik (numericsal
controlled machines) yang menggunakan program komputer untuk mengawasi jalannya
mesin-mesin canggih.
3.Computer Integrated
Manufacturing (CIM) ► sistem yang menghubungkan MRP dan mesin yang dikontrol
dengan angka (numerik) memungkinkan tidak hanya membuat jadwa,tapi mengawasi
berbagai mesin yang sedang bekerja.
Bidang Aplikasi
Berbasis Teknologi :
1.Aftificial Intelligence
(AI) ► Ide AI sendiri berdasarkan pemikiran bahwa bagaimana membuat komputer
melakukan pekerjaan lebih baik dari yang dilakukan manusia. Sistem AI ini
meliputi bahasa Natural, robot, sistem penglihatan dan pendengaran, sistem pakar,
dan jaringan neural .
a.Bahasa Naturalð ditujukan untuk menghasilkan sistem yang
mampu menerjemahkan instruksi manusia ke dalam suatu bahasa yang memungkinkan
komputer memahami dan melaksanakannya.
b.sistem penglihatan dan
pendengaran ð melibatkan pembuatan mesin yang memiliki
kemampuan melihat atau bicara (atau keduanya) yang mempengaruhi prilaku dasar
mereka.
c.Sistem pakar ð (Expert Sistem) berkaitan dengan sistem
bangunan yang memasukkan pembuatan keputusan yang logis dari seorang ahli
manusia.
d.Jaringan Neural ð yakni sistem terbaru yang mempelajari
bagimana sistem nervous bekerja.
2.Virtual Reality ► sistem
yang mengacu pada penggunaan sistem berbasis komputer yang menciptakan suatu
lingkungan yang tampak nyata terhadap satu atau lebih sensor dari pengguna.
3.Bidang Aplikasi Berbasis
Rancang Bangun ►
a.Distibuted System ð adalah sistem dimana komputer dari
beberapa ukuran diletakkan diberbagai tempatsuatu organisasi menjalankan
aktivitas bisnisnya (kantor pusat,pabrik,toko,gudang,bangunan kantor) dan
komputer tersebut dengan jalur telekomunikasi agar mampu menyokong proses
bisnis.
b.Keuntunngan :
1.Pelayanan dan respon yang
meningkat terhadap pengguna lokal
2.Perilaku yang membaik
karena melibatkan orang dalam (lokal)
3.Kemampuan untuk
mengadaptasi struktur organisasi
4.Kemampuan mengelola yang
meningkat karena bagian-bagian sistemnya lebih kecil.
5.Biaya penghitungan yang
berkurang.
c.Kelemahan:
1.Sangat tergantung pada
jalur telkomunikasi
2.Menggunakan teknologi yang
relatif baru dan kurang dipahami dengan baik.
3.Resiko pengamanan yang
lebih besar karena mudah untuk diakses oleh orang lain
4.Tempat-tempat di dalam
yang mungkin berbeda standarnya.
5.Membutuhkan koordinasi
yang lebih besar.
6.Biaya komunikasi yang
meningkat.
d.Client.Server system ð adalah sistempemrosesan yang
didistribusikan antara komputer server pusat, seperti minicomputer atau
workstation, dengan jumlah komputer klien, yang biasanya dalam bentuk
microkomputer destop.
BAB 3
Sistem Informasi Dan Organisasi
1. PENGERTIAN ORGANISASI
“ Organisasi
yaitu kumpulan orang – orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan yang
dilakukan berdasar atas suatu aturan tertentu dan penjabaran fungsi pekerjaan
secara formal serta memiliki struktur formal, stabil yang membutuhkan
sumberdaya dari lingkungan dan memprosesnya untuk menghasilkan output/keluaran
yang maksimal “.
2. Tujuan
a.Secara umum è Agar proses pekerjaan tercapai dengan cara
diatur, disusun sehingga seluruh pekerjaan dapat diselesaikan secara efektif
dan efisien.
b.Secara khusus
1.Bidang
agama> meningkatkan pendidikan moral dan iman.
2.Bidang
sosial>kemanusiaan
3.Bidang ekonomi
> mencari laba
4.Bidang
politik> mencari kekuasaan
3.Manfaat
Agar pelaksanaan tugas dilakukan lebih baik
terkoordinir dan tujuan serta jalannya pekerjaan tercapai secara efektif dan
efisien.
4. Asas / prinsip organisasi
a.Asas / prinsip
perumusan dan penentuan tujuan
b.Asas / prinsip
pembagian kerja
c.Asas / prinsip
pendelegasian wewenang
d.Asas / prinsip
organisasi
e.Asas / prinsip
efisiensi sederhana
f.Asas / prinsip
pengawasan umum
5. Struktur Organisasi
a.Struktur
Organisasi Garis è Digunakan pada
perusahaan / lembaga yang sederhana / kecil
b.Struktur
Organisasi Fungsionalè
Susunan organisasi yang memberikan gambaran pembagian tugas dan wewenang
menurut fungsi pekerjaan
c.Organisasi
membutuhkan sistem informasi, agar tujuan dan kepentingan organisasi dapat
tercapai.
d.Sebuah Sistem
Informasi agar berhasil dengan baik, maka kita harus mengenali organisasi dan
berupaya mencari bentuk sistem informasi yang paling sesuai.
Mengapa Perilaku Organisasi Penting Untuk Dipelajari ?
Organisasi
seperti halnya manusia dapat diidentifikasi dari perilakunya. Perilaku Tersebut
dapat positif ataupun negatif. Banyak definisi tentang perilaku organisasi.
Menurut Gibson (1996) perilaku Organisasi adalah sebagai penelaahan perilaku,
sikap, dan prestasi manusia di dalam suatu kerangka organisasi, penggunaan
teori, metode dan prinsip-prinsip dari berbagai disiplin ilmu seperti :
psikologi, sosiologi dan antropologi budaya untuk mempelajari persepsi
nilai-nilai, kapasitas belajar dan tindakan-tindakan individu ketika bekerja
didalam kelompok dan didalam organisasi secara keseluruhan, penganalisisan
dampak lingkungan luar atas organisasi dan sumber daya manusia, misi, tujuan,
dan strateginya. Perilaku Organisasi adalah juga merupakan :
1.Cara berfikir, perilaku
yang berada pada diri individu, kelompok dan tingkat organisasi.
2.Perilaku adalah
multidisiplin, yang menggunakan prinsip, model, teori, dan metode-metode
disiplin lain. Perilaku organisasi adalah bidang yang terus tumbuh dan
berkembang dalam kedudukan dan pengaruhnya.
3.Adanya Orientasi
Humanistik (humanistik Orientation)yang jelas dalam prilaku organisasi.ð Manusia dan prilaku
mereka, persepsi, kapasitas pembelajaran, perasaan dan sasaran merupakan hal
penting bagi perusahaan/organisasi.
4.Perilaku Organisasi
berorientasi pada Kinerja, menyangkut sebab kinerja rendah atau tinggi dan
bagamana cara meningkatkan kinerja.
5.Lingkungan eksternal
memberikan dampak signifikan terhadap prilaku organisasi.
6.Karena bidang prilaku
organisasi sangat tergantung dari disiplin yang dikenal, maka metode ilmiah
menjadi penting dalam mempelajari variabel dan keterkaitan.
Organisasi Merupakan Sistem
sosial:
hubungan antar individu dan kelompokdalam suatu organisasi
menciptakan harapan bagi prilaku individu. Harapan ini diwujudnya dalam
peran-peran tertentu yang harus dihasilkan. Orang harus memainkan peran seorang
pemimpin, Sementara yang lainnya sebagai yang dipimpin. Manager menengah,
karena mempunyai atasan dan bawahan, harus memainkan dua peran diatas.
Organisasi memiliki kewenangan, status dan kekuasaan dan manusia dalam
organisasi mempunyai beragam kebutuhan dari masing-masing sistem. Kelompok
didalam organisasi juga mempunyai pengaruh yang kuat atas prilaku individu dan
kinerja organisasi.
Struktur dan Desain Organisasi
Untuk bekerja
secara efektif, manajer harus secara jelas memahami struktur organisasi.
Struktur organisasi adalah pola formal aktivitas dan hubungan antara berbagai
subunit organisasi. Didalamnya terkait dengan :
1.Desain
Pekerjaan ý Desain
Pekerjaan dihubungkan pada proses dimana manajer menspesifikasikan isi, metode
dan hubungan pekerjaan untuk memenuhi kepentingan organisasi dan individu, dan
harus bisa menjelaskan isi dan tugas serta posisi pimpinan unit dan hubungan
posisi masing-masing anggota team.
2.Desain
Organisasi ýBerkaitan
dengan struktur organisasi secara keseluruhan dan berencana mengubah filosofi
dan orientasi team. Usaha ini akan memberikan suatu struktur baru dari tugas,
wewenang, dan hubungan antar personel yang dipercayainya akan menghubungkan
perilaku individu dan kelompok dalam meningkatkan kinerja mutu.
3.Proses
Organisasi : memberikan
kehidupan terhadap struktur organisasi. Jika proses ini tidak berfungsi dengan
baik, masalah yang tidak diinginkan akan berkembang.
4.Komunikasi
: kelangsungan
organisasi tergantung dari kemampuan manajemen menerima, meneruskan dan
bertindak atas informasi. Proses komunikasi menggabungkan organisasi dengan
lingkungan, demikian juga sebaliknya. Informasi mengalir dan dari organisasi
serta di dalam organisasi. Informasi akan menyatukan aktivitas dalam
organisasi.
5.Pengambilan
Keputusan : Mutu pengambilan
keputusan di suatu organisasi tergantung atas pemilihan sasaran yang tepat dan
mengidentifikasi cara untuk mencapainya. Dengan integrasi yang baik antara
faktor prilaku dan struktur, manajemen dapat meningkatkan kemungkinan
tercapainya keputusan yang bermutu tinggi. Organisasi akan sangat tergantung
pada keputusan individu maupun keputusan kelompok. manajemen yang efektif
membutuhkan pengetahuaan dan kedua tipe keputusan tersebut.
6.Karakteristik Struktur Organisasi
tersebut adalah :
a.Pembagian tugas yang jelas
b.Hirarki
c.Aturan dan prosedur yang jelas
d.Pertimbangan yang tidak terpisah-pisah
(Impartial judgements)
e.Kualifikasi posisi tehnis
f.Efisiensi organisasi yang maksimum
7.Organisasi mempengaruhi
sistem informasi :
a.Karena
organisasi akan berpengaruh terhadap sistem informasi melalui
keputusan-keputusan yang dibuat oleh manajer dan karyawan. Manajer membuat
keputusan tentang desain sistem. Mereka juga menggunakan teknologi informasi.
b.Sistem informasi
mampu mengubah cara hidup suatu organisasi. Beberapa sistem informasi mengubah
keseimbangan hak, priviliges, kewajiban, pertanggungjawaban dan perasaan yang
telah terbangun sekian lama pada suatu organisasi.
8.Teknologi Komputer
memiliki kemiripan dengan tekhnologi yang lain termasuk didalamnya salah
satunya,
9.teknologi Otomotif : Masyarakat
membutuhkan jalan bebas hambatan, mechanic (ahli mesin), pompa bensin, desainer
mesin, polisi dan produsen spare part.
10.Membangun sebuah sistem
informasi dalam organisasi : Manajer
mempunyai alasan yang rasional baik menyangkut umum ataupun khusus. Alasan yang
paling pokok bagi manajer untuk memilih menggunakan sistem adalah untuk
mencapai alasan-alasan ekonomi, menyediakan pelayanan yang baik. Dampak
komputerisasi terhadap organisasi tergantung dari bagian dan bagaimana manajer
membuat keputusan.
Gambar 7
11.SISTEM INFORMASI
MEMPENGARUHI ORGANISASI
a.Pada Teori Ekonomi dan Teori Ekonomi
Mikro, dimana membicarakan keterlibatan sejumlah besar perusahaan di suatu
negara dan negara lain dalam skala bahasan ekonomi mikro dan makro dengan
segala aspek perdagangan dalam lingkup negara dan international. Maka dengan
demikian dalm teori ekonomi mikro teknologi informasi semestinya menghasilkan
keikutsertaan sejumlah manajer menengah dan pekerja khusus yang lebih sedikit
yaitu pada saat teknologi informasi menggantikan tenaga kerja manusia.
b.Teori Biaya Transaksi : teknologi
informasi dapat membantu perusahaan dalam menurunkan biaya transaksi, dan
membuatnya lebih bernilai bagi perusahaan untuk melakukan kontrak dengan
pemasok luar daripada menggunakan sumber-sumber penawaran dari luar.
c.Teori Agensi : teknologi informasi
memungkinkan bagi organisasi untuk mengurangi keseluruhan biaya manajemen dan
memungkinkan untuk meningkatkan revenues, sementara manajemen menengah dan
pekerjaan-pekerjaan klerikal dapat dikurangi.
d.Teori Prilaku : Karena teknologi
informasi digunakan untuk mempromosikan nilai-nilai dan keinginan organisasi.
Pengaruh teknologi informasi adalah sebuah refleksi dari apa yang diorencanakan
atau diinginkan organisasi dan perancang sistem. Dalam model prilaku
perusahaan, pengaruh sistem informasi tidaklah sesederhana dan langsung seperti
model ekonomi.
e.Teori keputusan dan pengawasan : Fungsi
organisasi adalah membuat keputusan dibawah kondisi yang tidak pasti dan
beresiko serta tetap berada dibawah batasan rasionalitas.
√Maka seorang manajer
senior memungkinkan dapat menggunakan teknologi infromasiuntuk berhubungan
langsung dengan unit operasi tingkat bawah melalui jaringan telekomunikasi
maupun komputer LAN dan meniadakan manajer perantara tingkat menengah. Secara
alternative tekonologi informasi dapat mendistribusikan informasi kepada
pekerja level bawah, yang selanjutnya dapat membuat keputusan-keputusannya
berdasarkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tanpa intervensi manajemen.
f.Teori Sosiologi :
Oligarchi dan Rutin
Teori sosiologi memfokuskan pada pertumbuhan hirarki, sruktur
birokrasi dan prosedur operasi standart sebagai alat utama bagi organisasi
dalam rangka menghadapi lingkungan yang tidak stabil.
√ Dewasa ini beberapa
organisasi teleh merubah dan mendistribusikan otoritasnya dari kantor pusat,
mengurangi staff, dan menempatkan lebih banyak kekuasaan pada para manajer
divisi dan manajer perusahaan pada tingkat lokal.Namun organisasi yang lain
secara sadar mencari dan mengumpulkan informasi dari unit-unit operasi dalam
jumlah besar. Manajer membuat keputusan berdasarkan interes yang dimiliki.
g.Teori Post-industrial :
bentuk dan struktur yang bermuatan Pengetahuan.
√ Dalam masyarakat paska
industri, yaitu ekonomi paska industri tahun 1960-an. Sektor pelayanan
mendominasi aktivitas perekonomian. Sektor pelayanan itu sendiri sangat
mengutamakan knowledge worker(ilmuan, ahli tehnik, dan bahkan manajer) dan data
worker seperti sekretaris, akuntan atau sales people. Dalam masyarakat paska
ekonomi industri global, industri manufaktur dipindahkan kenegara-negara
berupah rendah dan high skill, sementara pekerjaan berbasis pengetahuan
(knowledge based) tumbuh dengan cepat di negara-negara maju dengan upah yang
tinggi.
h.Teori Budaya : Teknologi
Informasi dan Asumsi Dasar.
√ Teknologi informasi dapat
mengancam atau mendukung budaya sebuah organisasi. Berkembangnya teknologi
komputer mikro mengancam manufaktur komputer mainframe dan para pelanggannya.
Sebaliknya, Teknologi informasi dapat mendukung budaya dalam organisasi,
sebagaimana yang terjadi dalam industri asuransi yang menggunakan teknologi
komputer untuk menekan cost. Khususnya dalam memproses klaim.
i.Teori Politik :
Teknologi Informasi sebagi sumber daya Politik
√ Organisasi dibagi ke dalam
sub-sub kelompok fungsional sepertipemasaran, akuntasi, dan produksi.
Kelompok-kelompok inimempunyai nilai (value) yang berbeda dan mereka bersaing
untuk mendapatkan resources, membuat kompetisi dan konflik. Teori politik
menggambarkan sistem informasi sebagai outcome dari persaingan politik antar
sub-sub kelompok untuk mempengaruhi kebijakan, prosedur, dan resources
organisasi.
Faktor – Faktor yang perlu dipertimbangkan pada
rencana-rencana sistem, Yaitu :
1.Lingkungan dimana
organisasi harus melakukan fungsi
2.Struktur organisasi,
Hirarki, spesialisasi, standart prosedur operasi
3.Budaya dan politik
organisasi
4.Tipe organisasi
5.Kemampuan mendukung dan
memahami top manajemen
6.Level organisasi dimana
sistem diadakan
7.Kelompok kepentingan
utama yang dipengaruhi sistem
8.Jenis tugas dan
keputusan dalam mana sistem informasi didesain
9.Sentimen dan sikap
karyawan dalam organisasi yang akan menggunakan sistem informasi
10.Riwayat organisasi:
investasi dalam bidang teknologi informasi yang telah dilakukan skill yang
dimiliki, program-program penting, dan sumber daya manusia.
Konsep Dasar Sistem
Terdapat
2 kelompok pendekatan yang digunakan dalam mendefinisikan sistem, yaitu :
1. Lebih menekankan
pada prosedur yang digunakan dalam sistem dan mendefinisikan sistem sebagai
jaringan prosedur, metode, dan cara kerja yang saling berinteraksi dan
dilakukan untuk pencapaian suatu tujuan tertentu.
2. Lebih menekankan
pada elemen atau komponen penyusun sistem, mendefinisikan sebagai kumpulan
elemen baik abstrak maupun fisik yang saling berinteraksi untuk mencapai tujuan
tertentu.
Kedua definisi di atas sama benarnya dan
tidak saling bertentangan. Yang berbeda hanyalah cara pendekatan yang dilakukan
pada sistem. Karena pada hakekatnya setiap komponen sistem, untuk dapat saling
berinteraksi dan untuk dapat mencapai tujuan tertentu harus melakukan sejumlah
prosedur, metode, dan cara kerja yang juga saling berinteraksi. Beberapa
karakteristik sistem informasi adalah sasaran, sumber daya, jaringan
komunikasi, konversi data, masukan data, keluaran informasi, dan
pengguna-pengguna informasi.
2.1.1 Sasaran
Setiap sistem berupaya mencapai satu atau
lebih sasaran : artinya, sasaran merupakan kekuatan pemotivasi yang mengarahkan
suatu system.
2.1.2 Masukan – Proses – Keluaran
Masukan terdiri dari semua arus berwujud
(tangible) yang masuk ke dalam sistem di samping juga dampak tak berwujud
(intangible) terhadap sistem. Keluaran terdiri dari semua arus keluar atau
hasil. Dan proses terdiri dari metode yang digunakan untuk mengubah masukan
menjadi keluaran.
Mekanisme kerja dalam suatu sistem dijelaskan dalam
gambar berikut :
Gambar 8
Gambar 2.1 Mekanisme Kerja Sistem
Sasaran sistem mempengaruhi dan sering mengendalikan
konten masukan menjadi keluaran.
2.1.3 Lingkungan
Setiap sistem (barangkali kecuali sistem
jagad raya) secara fisik terbatas. Alam yang terletak di luar suatu sistem
dinamai lingkungan sistem. Suatu batas sistem memisahkan sistem itu dengan
lingkungannya. Walaupun batas-batas sistem tertentu tidak kelihatan dan mungkin
sukar ditetapkan secara pasti, setiap sistem pasti dibatasi oleh batas-batas
tertentu.
2.1.4 Saling Kebergantungan
Setiap sistem mempunyai saling
kebergantungan. Selain memiliki subsistem-subsistem yang erat berkaitan, suatu
sistem pada dasarnya merupakan bagian integral dari sistem lain yang lebih
besar. Hubungan antara subsistem dengan sistem dan dengan supersistem dinamai
hirarki sistem.
2.1.5 Jaringan Kerja Sistem
Jaringan kerja sistem menggambarkan macam
saling kebergantungan yang lain. Jaringan kerja (network) terbentuk bilamana
sebuah sistem digabungkan dengan sistem lain yang tingkat hirarkinya sama.
Sistem-sistem yang membentuk jaringan kerja berinteraksi satu sama lain melalui
penghubung (kopling/coupling) atau batas bersama (shared boundaries) yang
dinamakan antarmuka (interfaces). Antarmuka ini memungkinkan sumber daya
mengalir di antara sistem-sistem yang berinteraksi.
Subsistem-subsistem yang saling bergantung
dalam suatu sistem tunggal juga membentuk jaringan kerja, karena mereka saling
berhubungan. Sumber daya mengalir di antara subsistem-subsistem, dengan
keluaran dari satu subsistem menjadi masukan bagi subsistem lain yang
berantarmuka.
Konsep saling kebergantungan sistem ini
berguna dalam studi sistem informasi. Konsep ini mengingatkan analis bahwa
sebuah sistem atau subsistem tidak boleh dilihat secara terpisah dari sistem
atau subsistem lain yang terkait dengannya. Konsep ini juga mengatakan bahwa
analis dapat berpindah ke tingkat sistem yang lebih rendah hirarkinya guna
menyempitkan cakupan analisis.
2.1.6 Kendala
Setiap sistem menghadapi kendala,
batasan-batasan intern atau ekstern yang menentukan konfigurasi atau kemampuan
sistem. Batas / boundary sistem, misalnya, merupakan kendala fisik yang
menentukan ukuran dan bentuk sistem. Dalam beberapa keadaan kendala dapat
dihilangkan atau dikurangi. Cara yang biasa digunakan untuk engurangi kendala
yang mempengaruhi operasi dikenal dengan dekopling (decoupling).
2.1.7 Pengendalian Sebagai Konsep Inti
Sistem
Pengendalian dapat dianggap sebagai
konsepsi inti sistem, karena faktor inilah yang menjiwai ide pokok dari
pengembangan sebuah sistem dan sekaligus juga merupakan manifestasi nyata dari
tiap sistem. Sistem-sistem dibentuk secara langsung atau tidak, untuk melakukan
pengendalian, misal :
· Pemerintah dibentuk untuk menentukan apa
yang boleh dilakukan dalam masing-masing yuridiksinya.
· Sistem kardiovaskuler bertanggung jawab
untuk mengontrol aliran darah dan pendistribusian oksigen dalam tubuh.
Pengendalian bisa berarti menciptakan atau
memelihari nilai atau karakteristik suatu variabel agar selalu berada dalam
batas yang telah ditentukan. Melakukan pengendalian berarti menyebabkan segala
sesuatu berjalan sesuai keinginan atau rencana sehingga suatu tujuan akhir bisa
tercapai. Setiap sistem harus mengatur subsistem-subsistemnya agar dapat
mencapai sasaran. Pengendalian adalah proses regulasi (pengaturan) yang
dilakukan sistem untuk mengoreksi setiap penyimpangan dari rangkaian langkah
menuju sasaran yang diinginkan. Pengendalian anggaran, pengendalian mutu,
pengendalian kredit, dan pengendalian sediaan, merupakan proses-proses
pengendalian yang biasa dilakukan perusahaan.
Pengendalian yang efektif tergantung pada
umpan balik. Melalui umpan balik, keluaran sistem dukur terhadap standar untuk
menentukan penyimpangan, yang kemudian dikoreksi dengan mengubah masukan atau
proses. Pengendalian yang efektif dalam konteks suatu sistem juga ditegaskan
dengan kaidah keragaman keperalihan (law of requisite Variety). Menurut kaidah
ini, sistem yang baik harus memiliki satu atau lebih mekanisme atau variasi
pengendalian untuk menanggulangi setiap kemungkinan keadaan lepas kendali.
2.2 Konsep Dasar Informasi
Informasi dibutuhkan oleh manajemen untuk
menghindari proses enthropi. Proses enthropi adalah proses berakhirnya
keberadaan suatu sistem manajemen yang didahului kondisi tanpa pola dan tidak
menentu. Informasi adalah hasil pengolahan data yang dapat digunakan sebagai
dasar pengambilan keputusan. Data sebagai bahan baku informasi adalah gambaran
kejadian yang berwujud karakter, angka, atau simbol tertentu yang memiliki
arti.
2.2.1 Siklus Informasi
Data merupakan bentuk yang masih mentah
yang belum dapat berbicara banyak, sehingga perlu diolah lebih lanjut. Data
yang diolah melalui suatu model menjadi informasi, penerima kemudian menerima
informasi tersebut, membuat suatu keputusan dan melakukan tindakan, yang
berarti menghasilkan tindakan lain yang akan membuat sejumlah data kembali.
Data yang ditangkap dianggap sebagai input, diproses kembali melalui model dan
seterusnya membentuk suatu siklus. Menurut John Burch dan Gary Grudnitski,
(“Information Systems Theory and Practice”, John Wiley and Sons, New York 1986)
siklus ini disebut dengan Siklus Informasi (Information Cycle) atau Siklus
Pengolahan Data ( Data Processing Cycle).
Gambar 9
Gambar 2.2 Siklus informasi
2.2.2 Kualitas Informasi
Agar informasi dapat mempunyai manfaat
dalam proses pengambilan keputusan, informasi harus mempunyai kualitas dan
nilai. Kriteria kualitas informasi adalah :
§ Akurat : yang berarti informasi harus
tidak bias atau menyesatkan dan bebas dari kesalahan.
§ Tepat waktu : yang berarti informasi yang
sampai kepada penerima tidak boleh terlambat. Mahalnya nilai informasi saat ini
adalah karena harus cepatnya informasi tersebut didapatkan, sehingga diperlukan
teknologi mutakhir untuk mendapatkan, mengolah, dan mengirimkan.
§ Relevan : yang berarti informasi harus
mempunyai manfaat bagi pihak yang menerimanya.
2.2.3 Konsep Umpan Balik Informasi
Konsep umpan balik informasi menjelaskan
perihal pencarian sasaran dan saling mempengaruhi antar bagian sistem yang
mengkoreksi dengan sendirinya. Pada dasarnya konsep umpan balik ini berkaitan
dengan cara informasi digunakan untuk maksud pengendalian. Pengendalian sebagai
konsepsi inti sistem sangat membutuhkan umpan balik informasi. Informasi
tentang mekanisme sistem atau input sistem jika perlu, untuk menjaga agar
sistem bekerja sesuai dengan rencana pencapaian sistem.
2.2.4 Pendekatan Sistem Dalam Pertukaran
Informasi
Pendekatan sistem adalah suatu gagasan yang
bersumber pada paham sinergistik yang menyatakan bahwa total keluaran suatu
organisasi dapat ditingkatkan jika bagian-bagian komponennya dapat
diintegrasikan. Penerapan konsep umpan balik informasi, yang juga merupakan
pengertian dasar pendekatan sistem, selaras dengan paham sinergistik.
Pada masa lalu, efektivitas organisasi
bisnis berada di bawah titip optimum kaarena terhambatnya komunikasi, yang
dapat disebabkan oleh birokrasi atau ketiadaan teknologi. Dewasa ini ketika
kemajuan teknologi yang semakin pesat menyebabkan umur hidup relatif bertambah
pendek, organisasi bisnis mulai membutuhkan suatu sistem yang bisa
mengintegrasikan bagian atau sub sistem yang ada, melalui pertukaran informasi
agar tetap hidup.
Pendekatan sistem diperlukan untuk mengubah
mekanisme pertukaran informasi antara setiap bagian sistem yang terhubungkan
melalui jalur kewenangan klasik, agar menjadi hubungan informasi antar setiap
bagian sistem secara terintegrasi.
2.3 Konsep Dasar Sistem Informasi
Telah
diketahui bahwa informasi merupakan hal yang sangat penting bagi manajemen
dalam pengambilan keputusan. Informasi diperoleh dari sistem informasi
(information systems) atau disebut juga processing systems atau information
processing systems atau information-generating systems. Menurut Robert K.
Leitch dan K. Roscoe Davis, (“Accounting Information Systems”, Prentice-Hall,
New Jersey, 1983) hal 6 Sistem Informasi adalah :
Suatu sistem di dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan
transaksi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial dan kegiatan strategi
dari suatu organisasi dan menyediakan pihak luar tertentu dengan
laporan-laporan yang diperlukan.
Komponen Sistem Informasi
John Burch dan Gary Grudnitski,
(“Information Systems Theory and Practice”, John Wiley and Sons, New York,
1986) mengemukakan bahwa sistem informasi terdiri dari komponen-komponen yang
disebutnya sebagai blok bangunan (block building).
Block building ini kemudian dibagi menjadi
:
1 Blok masukan (input block)
2 Blok model (model block)
3 Blok keluaran (output block)
4 Blok teknologi (technology block)
5 Blok basis data (data base block)
6 Blok kendali (controls block)
Gambar
10
Gambar
2.3 Blok Bangunan
2.4 Konsep Dasar Sistem Informasi
Manajemen
Dalam organisasi bisnis, harus ada hubungan
timbal balik dan keterkaitan yang erat antara setiap fungsi manajemen dengan
setiap teknik manejemen agar kondisi sinergi bisa tercapai. Fungsi manajemen
menjelaskan apa yang dilakukan dan bagaimana mengendalikan sumber daya agar
tujuan bisa dicapai dari dalam melakukan hal ini bersandar pada pengetahuan
teknik manajemen. Untuk mewujudkan keterkaitan antara setiap fungsi manajemen
dengan setiap teknik manajemen, dibutuhkan sistem informasi manajemen yang akan
melingkupi seluruh fungsi dan teknik manajemen. Sistem Informasi Manajemen ini
bertugas mengumpulkan, menyimpan dan mengolah data untuk akhirnya menyajikan
informasi kepada semua tingkatan manajemen berkaitan dengan fungsi manajemen
dalam pengelolaan sumber daya. Sistem informasi manajemen bertujuan menunjang
proses pengambilan keputusan dalam melaksanakan fungsi manajemen pada berbagai
tingkatan manajemen, dengan mewujudkan hubungan timbal balik dan keterkaitan
informasi antar bagian organisasi sehingga sinergi organisasi dapat tercapai.
Gregory M. Scott, (“Prcinciples of
Management Information Systems”, McGraw-Hill, New York, 1986) mengemukakan
pengertian Sistem Informasi Manajemen adalah sebagai berikut :
Sistem Informasi Manajemen adalah kumpulan
dari interaksi-interaksi sistem-sistem informasi yang menyediakan infromasi
baik untuk kebutuhan manajerial maupun kebutuhan operasi.
Sedangkan Barry E. Cushing, (“Accounting
Information Systems and Bussiness Organizations”, Addison Wesley Publishing
Company, Philippines, 1974) mengemukakan pengertian Sistem Informasi Manajemen
adalah sebagai berikut :
Sistem Informasi Manajemen adalah kumpulan
dari manusia dan sumber-sumber daya modal di dalam suatu organisasi yang
bertanggung jawab mengumpulkan dan mengolah data untuk menghasilkan informasi
yang berguna untuk semua tingkatan manajemen dalam kegiatan perencanaan dan
pengendalian.
Menurut Frederick H. Wu, (“Accounting
Information Systems Theory and Practice”, (International Student Edition:
Tokyo: McGraw-Hill Japan, 1984), pengertian Sistem Informasi Manajemen adalah :
Kumpulan dari sistem-sistem yang
menyediakan informasi untuk mendukung manajemen.
Menurut Gordon B. Davis, (“Management Information
Systems: Conceptual Foundations, Structures and Development”, International
Student Edition, McGraw-Hill, Kogakusha, 1974) Sistem Informasi Manajemen
adalah :
Sistem manusia/mesin yang menyediakan
informasi untuk mendukung operasi, manajemen dan fungsi pengambilan keputusan
dari suatu organisasi.
Menurut Raymond McLeod, Jr., (“Sistem
Informasi Manajemen: Studi Sistem Informasi Berbasis Komputer”, PT.
Prenhallindo, Jakarta, —- ) hal. 30 menyatakan pengertian Sistem Informasi
Manajemen sebagai berikut :
Sistem Informasi Manajemen adalah suatu
sistem berbasis komputer yang menyediakan informasi bagi beberapa pemakai
dengan kebutuhan sistem serupa
Model Sistem Informasi Manajemen menurut Raymond McLeod, Jr. ini dapat
digambarkan modelnya sebagai berikut :
(Alter, 1992)
1 Berpartisipasi dalam pelaksanaan tugas-tugas Otomasi
2 Mengaitkan perencanaan, pengerjaan, dan pengendali dalam sebuah subsistem
3 Mengkoordinasikan subsistem-subsistem
4 Mengintegrasikan subsistem-subsistem.
TANTANGAN MANAJEMEN
Ada banyak teknologi alternatif untuk membantu perusahaan mencapai keamanan dan
kontrol, tapi disiplin organisasi diminta untuk menggunakan teknologi-teknologi
tersebut secara efektif.
1. Tantangan investasi sistem informasi
2. Tantangan strategik bisnis
3. Tantangan globalisasi
4. Tantangan infrastruktur teknologi informasi
5. Tantangan tanggung jawab dan pengawasan: etika dan keamanan.1. Pendekatan
Teknis
1 Ilmu Komputer, fokus pada akses penyimpanan data.
2 Metode Kuantitatif, fokus pada praktik manajemen.
3 Riset Operasi, fokus pada parameter terpilih.
4 Menekankan pada model normatif berbasis matematis pada ilmu sistem
informasi sebagaimana teknologi fisik dan kapabilitas formal pada sistem.
5 Disiplin yang disumbangkan pada pendekatan teknis adalah ilmu komputer,
ilmu manajemen dan riset operasi. Ilmu komputer menekankan pada teori tentang
kemampuan menghitung, metode komputasi, dan metode penyimpanan dan akses data
yang efisien. Ilmu manajemen menekankan pada pengembangan model untuk
pengambilan keputusan dan praktek manajemen.
2. Pendekatan Perilaku
1 Ahli Sosiologi, mempelajari keterkaitan Individu.
2 Ahli Psikologi, mempelajari keterkaitan dengan pola pengambilan
keputusan.
3 Ahli Ekonomi, mempelajari keterkaitan dengan proses produksi.
4 Bagian penting dalam bidang sistem informasi adalah isu perilaku yang
muncul dalam pengembangan dan pemeliharaan jangka panjang dari sistem
informasi. Isu seperti integrasi strategik bisnis, desain, implementasi,
utilisasi dan manajemen tidak dapat digali dengan baik dengan pendekatan
teknis.
3. Pendekatan lain Sistem Sosioteknik
1 SIM menggabungkan tataran teoritis dari ilmu komputer, ilmu manajemen
& riset operasi dengan orientasi praktis melalui pembuatan sistem dan
aplikasi. Juga menekankan pada isu keperilakuan yang diangkat oleh sosiologi,
ekonomi dan psikologi.
2 Perspektif sistem sosioteknik membantu menghindari pendekatan teknologi
murni pada sistem informasi. Penekanannya adalah pada perlunya optimasi kinerja
sistem secara keseluruhan, baik teknis maupun perilaku. Hal ini berarti bahwa
teknologi harus diubah dan didesain agar sejalan dengan kebutuhan organisasi
dan individu.
PERAN BARU SISTEM INFORMASI MANAJEMEN DALAM ORGANISASI
1 Inisiasi dan perancangan sistem informasi strategis.
2 Perencanaan, pengembangan dan pengendalian infrastruktur.
3 Menggabungkan internet dan e-commerce kedalam bisnis.
4 Mengelola integrasi sistem, termasuk internet, intranet dan extranet.
5 Kerjasama dengan tingkat eksekutif dalam menjalankan bisnis.
6 Mengelola outsourcing.
7 Secara proaktif menggunakan pengetahuan bisnis dan teknologi untuk
menggali ide-ide inovatif tentang TI.
8 Menciptakan aliansi bisnis dengan vendor dan IS Department dalam
organisasi lain.
9 Menyediakan lingkungan komputasi yang baru.
10 Sebagai tambahan dari fungsi tradisioanl : pengelolaan keamanan
sistem, pengembangan dan perawatan, operasional komputer.
PERAN SIM PADA PENGAMBILAN KEPUTUSAN DI DALAM ORGANISASI
Dukungan sistem informasi manajemen pada pembuatan keputusan dalam suatu
organisasi dapat diuraikan menurut tiga tahapan proses pembuatan keputusan,
yaitu pemahaman, perancangan (design), dan pemilihan. Dukungan SIM biasanya
melibatkan pengolahan, file komputer maupun non komputer.
Pada tahap pemahaman hubungannya dengan SIM adalah pada proses penyelidikan
yang meliputi pemeriksaan data baik dengan cara yang telah ditentukan maupun
dengan cara khusus. SIM harus memberikan kedua cara tersebut. Sistem Informasi
sendiri harus meneliti semua data dan mengajukan permintaan untuk diuji
mengenai situasi-situasi yang jelas menuntut perhatian. Baik SIM maupun
organisasi harus menyediakan saluran komunikasi untuk masalah-masalah yang
diketahui dengan jelas agar disampaikan kepada organisasi tingkat atas sehingga
masalah-masalah tersebut dapat ditangani. Pada tahap ini juga perlu ditetapkan
kemungkinan-kemungkinannya. Dukungan SIM memerlukan suatu data base dengan data
masyarakat, saingan dan intern ditambah metode untuk penelusuran dan penemuan
masalah-masalah.
Pada tahap perancangan (design), kaitannya dengan SIM adalah membuat
model-model keputusan untuk diolah berdasarkan data yang ada serta memprakarsai
pemecahan-pemecahan alternatif. Model-model yang tersedia harus membantu
menganalisis alternatif-altematif. Dukungan SIM terdiri dari perangkat lunak
statistika serta perangkat lunak pembuatan model lainnya. Hal ini melibatkan
pendekatan terstruktur, manipulasi model, dan sistem pencarian kembali data
base.
Pada tahap pemilihan, SIM menjadi paling efektif apabila hasil-hasil
perancangan disajikan dalam suatu bentuk yang mendorong pengambilan keputusan.
Apabila telah dilakukan pemilihan, maka peranan SIM berubah menjadi pengumpulan
data untuk umpan balik dan penilaian kemudian. Dukungan SIM pada tahap
pemilihan adalah memilih berbagai model keputusan melakukan analisis kepekaan
(analisis sensitivitas) serta menentukan prosedur pemilihan. Dukungan SIM untuk
pembuatan keputusan terdiri dari suatu database yang lengkap, kemampuan
pencarian kembali database, perangkat lunak statistika dan analitik liainnya, serta
suatu dasar model yang berisi perangkat lunak pembuatan model-model keputusan.
Pada dasarnya peranan SIM tersebut pada proses pemahaman yang menyangkut
penelitian lingkungan untuk kondisi-kondisi yang memerlukan keputusan. Istilah
pemahaman di sini mempunyai arti sama dengan pengenalan masalah. Kemudian pada
proses perancangan serta pada prosed pemilihan. Sering orang menyatakan bahwa
komputer akan mengambil keputusan, ini merupakan suatu pemyataan yang salah
kaprah dan tidak mengetahui letak peranan komputer serta bagaimana suatu proses
pengambilan keputusan dilakukan. Keputusan sebenarnya hanya dapat diambil atau
dilakukan oleh manusia.
Dukungan SIM pada tahapan penelusuran dapat dilakukan menggunakan perangkat
lunak untuk penelusuran masalah. Pada tahapan ini kegiatan-kegiatan yang
dilakukan adalah mencari atau menyaring keadaan lingkungan organisasi baik
internal maupun eksternal untuk menunjukkan adanya peluang dan masalah.
Jenis-jenis peluang atau masalah yang ditemukan pada tahapan penelusuran dapat
dikelompokkan sebagai berikut:
a. Peluang, meliputi:
1) Peluang untuk laba
2) Peluang untuk pengurangan resiko masyarakat
3) Peluang untuk pelayanan
b. Masalah, meliputi:
1) Masalah yang mempengaruhi permintaan akan barang/jasa
2) Masalah yang mempengaruhi prestasi
3) Masalah resiko
Sistem informasi untuk mengidentifikasi peluang atau masalah memerlukan unsur
sebagai berikut:
a. Basis data, meliputi:
1) Basis data masyarakat
2) Basis data lingkungan
3) Basis data lingkungan persaingan
4) Basis data intern organisasi
b. Pengolahan dan penelusuran
1) Penelusuran terstruktur yang kontinyu
2) Penelusuran terstruktur yang khusus (adhoc)
3) Penelusuran tidak terstruktur yang khusus
4) Penelusuran tidak terstruktur yang khusus memerlukan kemampuan SIM untuk menyediakan
sarana pencarian kembali data-data secara langsung (on line)
c. Laporan, meliputi:
1) Keluaran yang langsung untuk perangkat lunak tahapan desain
2) Keluaran yang menyatakan desain keputusan
3) Keluaran yang menyatakan langkah pilihan keputusan yang harus diikuti
4) Keluaran yang menyatakan suatu pemecahan atau peluang yang mungkin tetapi
tanpa indikator-indikator tindakan mendatang
PELUANG BARU DENGAN TEKNOLOGI INFORMASI
Perusahaan-perusahaan saat ini memiliki peluang untuk menciptakan website yang
reliabel dan strategi-strategi yang dapat mendukung e-commerce dan e-business.
Lebih mendalam, pendapatan, liabilitas, reputasi, kesan merek – dan bahkan
kemampuan perusahaan untuk bertahan.
Pengembangan sistem informasi yang baru membutuhkan suatu perencanaan sistem
teknologi informasi. Pembuatan perencanaan strategis sistem teknologi informasi
adalah sebagai langkah awal dalam membuat perencanaan sistem teknologi
informasi. Pada tahap awal penelitian dilakukan studi literatur tentang sistem
informasi dan perencanaan strategis sistem teknologi informasi. Tahap
selanjutnya dilakukan pengumpulan data dan informasi sesuai dengan kebutuhan
penelitian. Tahap berikutnya dilakukan analisis bisnis dan analisis sistem
teknologi informasi. Analisis bisnis yang dilakukan adalah analisis 5
competitive forces model Porter, analisis Strength Weaknesses Opportunity
Threaths (SWOT), analisis value chain. Analisis sistem teknologi informasi yang
dilakukan adalah analisis Information System Strategic Grid model McFarlan dan
analisis kesenjangan. Bagian akhir analisis dilengkapi dengan rekomendasi
strategi untuk pengembangan sistem teknologi informasi. Perbandingan antara
kondisi sistem teknologi informasi XYZ dan kedua kompetitornya, yaitu THF dan
MAF, dari segi teknis dan spesifikasinya adalah tidak jauh berbeda.
|
|
|
|
|
Management
Information System
|
|
Banyak
organisasi yang ingin membangun sistem Informasi Manajemennya sendiri, dan
telah menyediakan dana yang cukup, tetapi ternyata usaha tersebut sering
kali gagal. Penyebabnya antara lain ialah: struktur organisasi keseluruhan
yang kurang wajar, rencana organisasi keseluruhan yang belum memadai,
personil sistem yang tidak memadai, dan yang terpenting adalah kurangnya
partisipasi manajemen dalam bentuk keikutsertaan para manajer dalam merancang
sistem, mengendalikan upaya pengembangan sistem dan memotivasi seluruh
personil yang terlibat.
Sistem
Informasi Manajemen merupakan serangkaian sub-sistem informasi yang
menyeluruh dan terkoordinasi yang secara rasional mampu menstransformasikan
data sehingga menjadi informasi dengan berbagai cara guna meningkatkan
produktivitas yang sesuai dengan gaya dan sifat manajer.
Beberapa point dalam Sistem Informasi Manajemen :
|
|
Sistem
Informasi Manajemen memiliki sub-sistem informasi dimana sub-sistem tersebut
mendukung tercapainya sasaran Sistem Informasi Manajemen dan organisasi
sebagian dari sub-sistem berperan hanya dalam satu kegiatan atau lapisan
manajemen, sementara yang lainya berperan ganda.
|
|
|
Sistem
Informasi Manajemen adalah menyeluruh.
Sebuah Sistem Informasi Manajemen mencakup sistem informasi formal maupun
informal baik yang manual maupun berkomputer. Komponen yang terpenting
dalam Sistem Informasi Manajemen adalah manajer yang memproses dan
menyebarkan informasi secara berinteraksi dengan elemen-elemen lain dari
Sistem Informasi Manajemen.
|
|
|
Sistem
Informasi Manajemen adalah terkoordinasi.
Sistem Informasi Manajemen dikoordinasikan secara terpusat untuk menjamin
bahwa data yang di proses dapat di operasikan secara terencana dan terkoordinasi.
Semuanya untuk menjamin bahwa informasi melewati dan menuju sub-sistem
yang diperlukan, serta menjamin bahwa sistem informasi bekerja secara
efisien.
|
|
|
Sistem
Informasi Manajemen terintegrasi secara rasional.
Sub-sistem dalam Sistem Informasi Manajemen adalah terintegrasi (terpadu)
sehingga kegiatan dari masing-masing saling berkaitaan satu dengan yang
lainnya, integrasi ini dilakukan terutama dengan melewatkan data diantara
sub-sistem tersebut.
|
|
|
Sistem
Informasi Manajemen mentransformasikan data kedalam informasi. Apabila
data diolah dan berguna bagi manajer untuk tujuan tertentu, maka ia akan
menjadi informasi.
|
|
|
Sistem
Informasi Manajemen meningkatkan produktivitas.
Sistem Informasi Manajemen dengan berbagai cara mampu meningkatkan produktivitas,
antara lain: dengan kemampuan melaksanakan tugas rutin seperti penyajian
dokumen dengan efisien, mampu memberikan layanan bagi organisasi intern
dan ekstern, serta mampu meningkatkan kemampuan manajer untuk mengatasi
masalah-masalah yang tidak terduga.
|
|
|
Sistem
Informasi Manajemen sesuai dengan gaya manajer Sistem Informasi Manajemen
dikembangkan lewat pengenalan atas sifat dan gaya manajerial dari
personil yang akan menggunakannya. Para perancang sistem apabila akan
mengembangkan Sistem Informasi Manajemen hendaknya mempertimbangkan
faktor manusiawi dengan cermat. Apabila tidak demikian, maka sistem yang
dihasilkan tidak efektif.
|
Pengelolaan
sistem informasi manajemen bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan
efektifitas kerja dalam suatu perusahaan /pemerintahan. Aplikasi ini
mencakup, sistem informasi sumber daya manusia / sistem informasi manajemen
kepegawaian, sistem informasi keuangan, dan lain-lain.
|
|
|
” Packard-Bell dapat memproduksi
komputer-komputer yang mahal dengan ciri-ciri komputasi tingkat atas yang
sangat hebat seandainya perusahaan itu mengabaikan biaya-biaya masukan bahan
dan tenaga kerja. Dan sejumlah lembaga pemerintah federal telah dikritik
terus-menerus berdasarkan alasan bahwa mereka itu cukup efektif tetapi sangat tidak
efisien. Artinya mereka memang menyelesaikan tugas-tugas mereka tetapi dengan
biaya amat tinggi. Oleh karena itu manajemen menaruh perhatian bukan pada
perampungan kegiatan-kegiatan dan mencapai sasaran-sasaran organisasi (
efektifitas atau hasil guna ). “
Mungkin organisasi itu efisien
namun tidak efektif? Ya, dengan melakukan hal-hal yang keliru secara baik!
contoh :
“Banyak Universitas telah
menjadi sangat efisien dalam memproses mahasiswa. Dengan menggunakan
pembelajaran yang dibantu komputer dan bahan kuliah berdasarkan internet, kelas
belajar jarak jauh, kelas yang besar, dan mengandalkan dosen penggal waktu.
Para pengelola itu telah sangat banyak memangkas biaya pendidikan masing-masing
mahasiswa. Namun, para mahasiswa alumni dan badan-badan akreditasi telah
mempertanyakan apakah mahasiswa-mahasiswa itu di didik sebagaimana mestinya.
Tentu saja, dalam organisasi yang sukses, biasanya efisiensi yang tinggi
terjadi bersama dengan efektifitas yang tinggi. Dan manajemen yang buruk itu
seringkali sekaligus diakibatkan oleh ketidakefisienan dan ketidakefektifan
atau oleh efektivitas yang dicapai melalui ketidakefisienan.”
E- Government: Munuju Efektivitas dan Efisiensi Birokrasi
Indonesia
Negera Indonesia adalah negera besar . Salah satu negara
yang termasuk kawasan Asia Tenggara ini memiliki luas wilayah sebesar 1,904,569
km2 yang terbentang dari Sabang hingga Merauke. Luas wilayah yang demikian
besarnya masih terbagi-bagi menjadi belasan ribu kepulauan dengan akses ke
daerah satu dengan daerah lain tidak selalu mudah. Hal ini disebabkan karena pembangunan
diberbagai aspek kehidupan, khususnya pembangunan dalam bidang transportasi
belum merata menjangkau ke semua daerah. Tidak hanya itu, jumlah penduduk
Indonesia yang mencapai 250 juta jiwa merupakan jumlah penduduk terbesar ke
empat di dunia dengan tingkat heterogenitas suku, budaya, agama, dan ras yang
tinggi. Kondisi demikian menjadi tantangan tersendiri bagi pengelolaan
birokrasi di Indonesia.
Negara yang memiliki sekitar 13.487 pulau ini beribu kota
di Jakarta yang terletak di Pulau Jawa. Oleh sebab itu, Pulau Jawa menjadi
salah satu pusat peradaban, moderenisasi, dan pemerintahan. Maka tidaklah heran
segala aktivitas vital yang berkaitan dengan penyelenggaraan negara terpusat di
Pulau Jawa. Keadaan demikian tentu menjadi penghalang bagi masyarakat-masyarakat
non-Pulau Jawa untuk mengakses berbagai kepentingannya sebagai warga negara,
termasuk dalam hal ini yang berkaitan dengan birokrasi. Maka sejak reformasi
yang bergulir pada tahun 1998 Indonesia mengubah dari sistem pemerintahan
sentralistik menjadi sistem pemerintahan desentralisasi. Maksud dari perubahan
ini adalah , pemerintah berharap pelayanan publik di daerah akan semakin baik
dengan menggali keinginan dan kebutuhan masyarakat daerah tersebut. Sehingga
kebijakan dan pelayanan publik yang diberikan benar-benar merepresentasikan
harapan dan karakteristik masing-masing daerah. Sehingga prinsip efektivitas
dan efisiensi birokrasi yang dicita-citakan dapat tercapai.
Namun pada kenyataannya, desentralisasi yang dicita-citakan
akan memberikan pelayanan publik yang maksimal di seluruh wilayah Indonesia
tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Di sisi lain permasalahan baru
muncul, desentralisasi justru menjadi celah berkembangnya tindakan korupsi yang
semakin merajalela. Jika pada sistem sentralistik, cenderung pejabat pusat yang
melakukan tindak pidana korupsi karena kewenangannya yang tidak terbatas,
sedangkan pada sistem desentralisasi pejabat daerah pun dapat melakukan
tindakan korupsi. Hal ini terjadi mengingat mereka kini juga memiliki kekuasaan
yang besar pada proses penyelenggaraan negara, termasuk dalam hal pelayanan
publik.
Maka tidaklah heran, apabila kita pernah mendengar bahwa
semboyan para birokrat Indonesia adalah “kalau bisa sulit kenapa dipermudah?”.
Karena dengan semboyan tersebut maka setiap aspek penyelenggaraan negara
terutama dalam hal pelayanan publik dapat digunakan untuk mengumpulkan
pundi-pundi uang tambahan bagi Sang Birokrat. Masyarakat yang mendapat
pelayanan yang cepat dan baik adalah mereka yang mau membayar pungutan-pungutan
liar. Sedangkan yang tidak mau membayar, akan cenderung dikesampingkan dan
diperlambat. Akibatnya prinsip birokrasi yang seharusnya efektif dan efisien
justru menjadi birokrasi yang sulit dan berbelit-belit.
Selain itu, sistem birokrasi yang dikelola masing-masing
daerah juga tidak terintegrasi dengan baik dengan pemerintah pusat. Akibatnya
pengawasan dan evaluasi peyelenggaran negara oleh pemerintah pusat di
masing-masing daerah sangat lemah. Hal ini kembali menjadi celah untuk
melakukan tindak pidana korupsi. Contoh yang sering kita dengar adalah masalah
korupsi dalam hal pengadaan barang, baik dengan sistem lelang, tender, maupun
sistem yang lainnya. Sebelum adanya e-procurenment sistem pengadaan barang
tersebut cenderung dilakukan secara tertutup. Masyarakat pun juga memiliki
tingkat keasadaran yang rendah dalam pengawasan penyelenggaraan negara.
Konsdisi demikian membuat sejumlah pejabat terkait dengan mudah melakukan
deal-deal tertentu dengan pengusaha. Sehingga pengadaan barang yang seharusnya
untuk memenuhi kebutuhan publik justru menjadi kesempatan untuk meraup
keuntungan pihak atau kelompok tertentu. Akibatnya tidak jarang anggaran untuk
proyek-proyek tertentu di daerah digelembungkan dari sewajarnya.
Dengan segala permasalahan yang semakin hari semakin rumit
tersebut sudah selayaknya dilakukan reformasi birokrasi untuk menunjang
terciptanya Good Governence yang dicita-citakan oleh hampir semua negara di
dunia ini. Salah satu alternatif reformasi birokrasi tersebut adalah dengan
memanfaat teknologi atau sistem informasi yang kini berkembang semakin cepat
dan semakin canggih.
Gagasan e-Government
Perkembangan teknologi yang semakin canggih menyebabkan
semakin beragamnya sistem informasi yang berkembang. Kondisi ini juga didukung
oleh kemampuan finansial masyarakat yang semakin berkembang dari hari ke hari,
maka sebagian besar masyarakat kini memiliki teknologi yang setidaknya akan
memudahkan komunikasinya. Namun ternyata sistem informasi yang ada kini tidak
hanya mempermudah hubungan antar individu saja tetapi juga mempermudah hubungan
antara pemerintah dengan warga negaranya.
Salah satu konsep yang mempermudah hubungan tersebut adalah
sistem E-Government. E-Government yang “juga disebut e-gov, digital government,
online government atau dalam konteks tertentu transformational government
adalah penggunaan teknologi informasi oleh pemerintah untuk memberikan
informasi dan pelayanan bagi warganya, urusan bisnis, serta hal-hal lain yang
berkenaan dengan pemerintahan. Berdasarkan definisi dari World Bank,
eGovernment adalah penggunaan teknologi informasi oleh pemerintah (seperti :
Wide Area Network, Internet dan mobile computing) yang memungkinkan pemerintah
untuk mentransformasikan hubungan dengan masyarakat, dunia bisnis dan pihak
yang berkepentingan. (www.worldbank.org). Dalam prakteknya,eGovernment adalah
penggunaan Internet untuk melaksanakan urusan pemerintah dan penyediaan
pelayanan publik yang lebih baik dan cara yang berorientasi pada pelayanan
masyarakat.
E-Government dapat diaplikasikan pada legislatif,
yudikatif, atau administrasi publik, untuk meningkatkan efisiensi internal,
menyampaikan pelayanan publik, atau proses kepemerintahan yang demokratis.
Model penyampaian yang utama adalah Government-to-Citizen atau
Government-to-Customer (G2C), Government-to-Business (G2B) serta
Government-to-Government (G2G). Keuntungan yang paling diharapkan dari
e-government adalah peningkatan efisiensi, kenyamanan, serta aksesibilitas yang
lebih baik dari pelayanan publik.”
Secara ringkas tujuan yang ingin dicapai dengan implementasi eGovernment adalah
untuk menciptakan customer online dan bukan in-line. eGovernment bertujuan
memberikan pelayanan tanpa adanya intervensi pegawai institusi publik dan
sistem antrian yang panjang hanya untuk mendapatkan suatu pelayanan yang
sederhana. Selain itu eGovernment juga bertujuan untuk mendukung good
governance. Penggunaan teknologi yang mempermudah masyarakat untuk mengakses
informasi dapat mengurangi korupsi dengan cara meningkatkan transparansi dan
akuntabilitas lembaga publik. eGovernment dapat memperluas partisipasi publik
dimana masyarakat dimungkinkan untuk terlibat aktif dalam pengambilan
keputusan/kebijakan oleh pemerintah. eGovernment juga diharapkan dapat
memperbaiki produktifitas dan efisiensi birokrasi serta meningkatkan
pertumbuhan ekonomi. Adapun konsep dari eGovernment adalah menciptakan
interaksi yang ramah, nyaman, transparan dan murah antara pemerintah dan
masyarakat (G2C-government to citizens), pemerintah dan perusahaan bisnis
(G2B-government to business enterprises) dan hubungan antar pemerintah
(G2G-inter-agency relationship).
Di Indonesia, gagasan tentang E-Government ini mulai
berkembang sejak tahun 2000-an. Pada saat itu berbagai usaha mulai dilakukan
untuk menginternetkan pemerintah, baik di sisi proyek, maupun karena desakan
masalah transparansi pada masyarakat. Melihat tingginya desakan untuk melakukan
internetisasi serta semakin sadarnya pemerintah pentingnya birokrasi sebagai
urat nadi pemerintahan dan birokrasi yang baik adalah yang efektif dan efisien
maka tidak sedikit uang rakyat digunakan bagi pengembangan teknologi informasi
bagi operasionalisasi pemerintahan dan pelayanan umum. Sedangkan dari
pemerintah sendiri inisiatif e-Government di Indonesia telah diperkenalkan
melalui Instruksi Presiden No. 6/2001 tgl. 24 April 2001 tentang Telematika
(Telekomunikasi, Media dan Informatika) yang menyatakan bahwa aparat pemerintah
harus menggunakan teknologi telematika untuk mendukung good governance dan
mempercepat proses demokrasi. Lebih jauh lagi, eGovernment wajib diperkenalkan
untuk tujuan yang berbeda di kantor-kantor pemerintahan. Administrasi publik
adalah salah satu area dimana internet dapat digunakan untuk menyediakan akses
bagi semua masyarakat yang berupa pelayanan yang mendasar dan mensimplifikasi
hubungan antar masyarakat dan pemerintah.
Meskipun masih relatif muda, namun sistemnya sudah cukup
baik. Namun demikian, E-Government belum menunjukkan manfaat yang signifikan
bagi efektifitas dan efisiensi jalannya pemerintahan dan pelayanan umum yang
terbaik. Masih terdapat pulau-pulau E-Government yang terbentuk dalam NKRI dan
memperlebar jurang integrasi database nasional.
Di balik kelemahan-kelemahan tersebut ternyata masih banyak
pihak yang memperjuangkan akan tetap berjalannya e-goverenment. Pada tanggal 27
Juni 2005 Bambang Dwi Anggono, biasa di panggil Ibenk, membentuk mailing list
egov-indonesia@yahoogroups.com tempat berdiskusinya para aktifis e-government
Indonesia, pada pertengahan 2006 telah melibatkan hampir 400 aktifis di
dalamnya. Mailing list egov-indonesia merupakan mailing list paling aktif
diantara berbagai tempat diskusi egov dan berusaha menjebatani keterbatasan
kemampuan daerah dan pusat melalui kebersamaan dan saling mendukung dengan
mengesampingkan ego sektoral. Sinergi antara Akademisi, Bisnis dan Government
diyakini akan mampu membawa E-Government ke arah yang lebih baik.
Prinsip Efektivitas dan Efisiensi Birokrasi
Terkait dengan sistem birokrasi Indonesia yang cenderung
lambat dan berbelit-belit, maka kalangan tertentu mengemukakan pentingnya
reformasi birokrasi. Kata reformasi diarahkan pada terwujudnya efisiensi,
efektivitas, dan clean government. Reformasi ini diarahkan pada perubahan
masyarakat yang termasuk didalamnya masyarakat birokrasi, dalam pengertian
perubahan ke arah kemajuan. Dalam pengertian ini perubahan masyarakat diarahkan
pada development (Susanto, 180). Khan (1981) memberi pengertian reformasi
sebagai suatu usaha perubahan pokok dalam suatu sistem birokrasi yang bertujuan
mengubah struktur, tingkah laku, dan keberadaan atau kebiasaan yang telah
lama.Sedangkan Quah (1976) mendefinisikan reformasi sebagai suatu proses untuk
mengubah proses, prosedur birokrasi publik dan sikap serta tingkah laku
birokrat untuk mencapai efektivitas birokrasi dan tujuan pembangunan nasional.
Aktivitas reformasi sebagai padanan lain dari change, improvement, atau
modernization.
Dari pengertian ini, maka reformasi ruang lingkupnya tidak
hanya terbatas pada proses dan prosedur, tetapi juga mengaitkan perubahan pada
tingkat struktur dan sikap tingkah laku (the ethics being). Arah yang akan
dicapai reformasi antara lain adalah tercapainya pelayanan masyarakat secara
efektif dan efisien.
Istilah efektivitas dan efisiensi merupakan konsep
engineering yang diadaptasi dari sektor privat, yang kemudian dalam
perkembangannya diterapkan dalam sektor publik yakni pemerintah. Efektivitas
adalah pencapaian tujuan secara tepat atau memilih tujuan-tujuan yang tepat
dari serangkaian alternatif atau pilihan cara dan menentukan pilihan dari
beberapa pilihan lainnya. Efektifitas bisa juga diartikan sebagai pengukuran
keberhasilan dalam pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan. Sebagai
contoh jika sebuah tugas dapat selesai dengan pemilihan cara-cara yang sudah
ditentukan, maka cara tersebut adalah benar atau efektif. Sedangkan efisiensi
adalah penggunaan sumber daya secara minimum guna pencapaian hasil yang
optimum. Efisiensi menganggap bahwa tujuan-tujuan yang benar telah ditentukan
dan berusaha untuk mencari cara-cara yang paling baik untuk mencapai
tujuan-tujuan tersebut Apabila membicarakan efektivitas dan efisiensi maka
harus dihubungkan dengan sasaran dan tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan
tersebut.
Dalam pelayanan publik apabila kedua hal diperbandingkan
maka efektivitas jauh lebih penting dari efisiensi. Suatu pelayanan publik yang
tidak efisien masih dapat dimaklumi sepanjang pelayanan itu efektif bagi
masyarakat (Putra :19).Efektivitas dapat dilihat dari 3 pendekatan yakni
(Putra:22)
• Pendekatan Sasaran (goal approach), mengukur efektivitas dari segi output.
• Pendekatan Sumber (system resource approach), melihat dari inputnya
• Pendekatan Proses (process approach), yakni menekankan pada faktor internal
organisasi publik, seperti efisiensi dan iklim organisasi.
Akan tetapi walaupun pelayanan publik lebih menekankan
efektivitas daripada efeisiensi, dalam tataran praktis konsep efektivitas tidak
dapat dipisahkan dari konsep efisiensi. Unsur efisiensi adalah salah satu
determinan untuk mengetahui apakah suatu kegiatan bisa dikategorikan efektif
atau tidak sebagaimana pendekatan ketiga.
Sementara itu Birokrasi diartikan sebagai kekuasaan atau
pengaruh dari para kepala dan staf biro pemerintah. Dalam pengertian
selanjutnya birokrasi adalah pegawai pemerintah, yang menjalankan dan
menyelenggarakan tugas yang ditentukan oleh konstitusi, menjalankan program
pembangunan, pelayanan publik, dan penerapan kebijakan pemerintah, yang
biasanya disebut pegawai Sipil (Rozi:10). Dalam hal di Indonesia lebih dikenal
dengan istiah Aparatur Pemerintah.
Birokrasi dalam pengertian keseharian selalu dimaknai institusi resmi yang
melakukan fungsi pelayanan terhadap kebutuhan dan kepentingan masyarakat
(Tjokrowinoto:112). Segala bentuk upaya pemerintah dalam mengeluarkan produk
kebijakannya semata-mata dimaknai sebagai manifestasi dari fungsi melayani
orang banyak. Walaupun persepsi ini mengandung titik–titik kelemahan, namun
sampai saat ini pemerintah yang diwakili oleh institusi birokrasi tetap saja
diakui sebagai motor penggerak pembangunan. Pemaknaan birokrasi sebagai organ
pelayanan bagi masyarakat luas tentu merupakan pemaknaan yang bersifat idealis,
dan pemaknaan ideal terhadap fungsi pelayanan yang diperankan birokrasi
tidaklah bisa menjelaskan orientasi birokrasi.
Lalu pertanyaanya bagaimana upaya yang dilakukan agar
birokrasi mampu melaksanakan misi utama yakni memberikan pelayanan secara
efektif dan efisien kepada masyarakat. Jawabannya harus dengan melakukan
perubahan atau reformasi, bukan saja terbatas pada proses dan prosedur, tetapi
juga mengaitkan perubahan pada tingkat struktur, sikap dan tingkah laku / etika
(the ethics being).
E-Government Terkait dengan Efektifitas dan
Efisiensi Birokrasi
Penggunaan TI ini dapat mempermudah masyarakat untuk
mengakses informasi untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas di
instansi pemerintah. E-Government juga dapat memperluas partisipasi publik
dimana masyarakat dimungkinkan untuk terlibat aktif dalam pengambilan kebijakan
Pemerintah.
E-Government merupakan sistem TI yang dikembangkan oleh
Pemerintah dalam memberikan pilihan kepada masyarakat, untuk bisa mendapatkan
kemudahan akses informasi dan layanan pemerintah. Selain itu, e-Government,
merupakan bentuk pemanfaatan TI untuk mendukung aktivitas Pemerintah Daerah
yang meliputi aktivitas internal maupun di lingkungan Pemerintah Daerah serta
aktivitas pelayanan publik.
Pendayagunaan e-Government juga sejalan dengan kebijakan
penyelenggaraan otonomi daerah, dengan harapan agar penyampaian layanan
pemerintah kepada masyarakat dapat berlangsung secara lebih efisien dan
efektif. Efisiensi dan efektifitas di sini dapat diperoleh karena otonomi
daerah lebih menekankan pada kedekatan pemerintah untuk memberikan layanan
publik kepada masyarakat. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 32 tahun 2004
mengenai pemerintahan daerah, efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan
pemerintahan daerah perlu ditingkatkan dengan lebih memperhatikan aspek-aspek
hubungan antar pemerintahan daerah, potensi dan keanekaragaman daearah, peluang
dan tantangan persaingan global dengan memberikan kewenangan yang
seluas-luasnya kepada Pemerintah Daerah disertai dengan pemberian hak dan
kewajiban menyelenggarakan pemerintahan daerah dalam kesatuan sistem
penyelenggaraan pemerintahan negara.
Uraian di atas menunjukkan bahwa pentingnya efisiensi, efektifitas,
dan transparansi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Efisiensi,
efektifitas dan transparansi ini merupakan unsur yang penting dalam
pengembangan e-Government, sehingga e-Government sangat sejalan dengan upaya
untuk mewujudkan pemerintahan yang baik (good governance). Disamping itu,
e-Government diharapkan dapat mendukung perbaikan produktivitas dan efisiensi
dalam instansi pemerintahan maupun peningkatkan petumbuhan ekonomi. Dengan
demikian, untuk menghadapi era global ini Pemerintah Daerah dituntut untuk
membangun ketangguhan di segala bidang. Disamping itu, tuntutan masyarakat
terhadap pelayanan yang baik atau pelayanan prima menjadikan Pemerintah Daerah
mau tidak mau harus mengikuti perkembangan teknologi yang dapat meningkatkan
efisiensi dan efektifitas yang tinggi. Dengan semakin meningkatnya tuntutan
pembangunan dan pelayanan oleh masyarakat, menjadikan pemerintah daerah harus
kreatif di segala bidang dan mampu memanfaatkan segenap potensi yang ada
termasuk pendayagunaan e-Government.
Efektivitas dan efisiensi juga akan berkaitan erat dengan
good governance. Istilah good governance mulai muncul di Indonesia sejak tahun
1990-an dan semakin mengemuka pada tahun 1996 seiring dengan interaksi
pemerintah dengan negara-negara luar beserta lembaga-lembaga pemberi bantuan
yang semakin menyoroti kondisi obyektif perkembangan ekonomi dan politik di
Indonesia. Lembaga-lembaga pemberi donor baik yang bersifat multirateral maupun
bilateral mengaitkan penerapan good governance dengan kebijakan pemberian
bantuan. Good governance dijadikan salah satu aspek yang perlu dipertimbangkan
dalam pemberian bantuan baik berupa pinjaman (loan) maupun hibah (grant).
Governance merupakan tata pemerintahan, good governance
adalah tata pemerintahan yang baik. Ada tiga komponen yang terlibat dalam
governance, yaitu pemerintah, dunia usaha dan masyarakat. Hubungan ketiganya
harus dalam posisi sejajar dan saling kontrol untuk menghindari penguasaan atau
eksploitasi oleh salah satu komponen terhadap komponen lainnya. Bila salah satu
komponen lebih tinggi dari komponen yang lain, maka akan terjadi dominasi
kekuasaan atas dua komponen lainnya.
Menurut Bintoro, good governance adalah suatu bentuk
manajemen pembangunan, yang juga disebut administrasi pembangunan. Lebih jauh,
Bintoro menyatakan Pemerintah maenjadi agen perubahan (agent of change) dari
suatu masyarakat (berkembang/developing) dalam negara berkembang. Selanjutnya,
UNDP (1997) mendefinisikan good governance sebagai pelaksanaan otoritas
politik, ekonomi dan administrasi untuk mengatur urusan-urusan negara, yang
memiliki mekanisme, proses, hubungan, serta kelembagaan yang kompleks dimana
warga negara dan berbagai kelompok mengartikulasikan kepentingan mereka,
melaksanakan hak dan kewajiban mereka serta menengahi perbedaan yang ada di
antara mereka (http://ww. mirror.undp.org/magnet/policy/ cahapter1.htm,
31/7/2009). Selain itu, menurut Effendi, (2000), istilah good governance juga
diartikan sebagai pemerintahan yang baik (Domai, 2009).
Good governance melebihi ruang lingkup e-Government. E-government didefenisikan
sebagai penyampaian layanan dan informasi dari Pemerintah kepada publik
menggunakan sarana elektronik. E-Goverment memungkinkan warga negara
berkomunikasi antar mereka maupun dengan pemerintah, dan ikut berpartisipasi
dalam proses pembuatan keputusan, mengekpresikan kebutuhan nyata mereka tentang
kesejahteraan dengan menggunakan e-Government sebagai sarana. Pendayagunaan
e-Government, merupakan bentuk pemanfaatan teknologi informasi untuk mendukung
terwujudnya pemerintahan yang baik (good governance) dalam aktivitas Pemerintah
Daerah yang meliputi aktivitas intern dalam satu lembaga maupun antar lembaga
pemerintah serta aktivitas pelayanan publik.
Dari berbagai definisi tersebut di atas, secara sederhana
pemahaman mengenai good governance dapat dikatakan sebagai tata pemerintahan
yang baik, dalam implementasinya tidak mudah untuk mengimplementasikan secara
seragam. Namun demikian, pada hakekatnya keragaman makna tersebut memiliki
kesamaan prinsip dan tujuan yakni terselenggaranya pemerintahan yang seimbang
di antara semua komponen pelaku. Semua pelaku harus saling tahu apa yang
dilakukan oleh pelaku lainnya, ada ruang dialog agar para pelaku saling
memahami perbedaan di antara mereka. Dengan proses seperti ini diharapkan akan
tumbuh konsensus dan sinergi antara pemerintah dan masyakat.
Tujuan dan Manfaat e-Government
Konsep e-Government diterapkan dengan tujuan bahwa hubungan
pemerintah baik dengan masyarakatnya maupun dengan pelaku bisnis dapat
berlangsung secara efisien, efekti,f dan transparan. Hal ini diperlukan
mengingat semakin dinamisnya gerak masyarakat pada saat ini, sehingga
pemerintah harus dapat menyesuaikan fungsinya dalam penyelenggaraan
pemerintahan, agar masyarakat dapat menikmati haknya dan menjalankan
kewajibannya dengan nyaman dan aman, yang kesemuanya itu dapat dicapai dengan
pembenahan sistem. Selain itu seperti telah disebutkan di atas, e-Government
ditujukan untuk mendukung terwujudnya pemerintahan yang baik (good governance)
yang tercermin dari pemerintahan yang bersih, transparan dan akuntabel. Dengan
demikian transparansi merupakan unsur penting untuk penerapan e-Government
dalam pemerintahan yang modern karena mencerminkan nilai-nilai kejujuran,
kebenaran, dan keadilan yang merupakan tanggungjawab dari aparatur negara.
Implementasi e-Government di instansi pemerintahan dapat membawa manfaat,
antara lain :
• Pelayanan/service yang lebih baik kepada masyarakat.
Informasi dapat disediakan 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu, tanpa harus
menunggu pegawai kantor.
• Peningkatan hubungan antar pemerintah, pelaku bisnis, dan masyarakat umum.
Adanya keterbukaan (transparansi) diharapkan hubungan antara berbagai pihak
menjadi lebih baik. Keterbukaan ini menghilangkan perasaan saling curiga dan
kesalahan dari semua pihak.
• Pemberdayaan masyarakat melalui informasi yang mudah diperoleh. Dengan adanya
informasi yang mencukupi, masyarakat akan belajar untuk dapat menentukan
pilihannya misalnya data tentang sekolah, rumah sakit, dll.
• Pelaksananan pemerintahan yang lebih efisien. Sebagai contoh koordinasi
pemerintahan dapat dilakukan melalui email atau bahkan video konferensi. Bagi
indonesia yang memiliki area yang luas hal akan sangat membantu. Koordinasi,
tanya jawab, diskusi antar pimpinan daerah dapat dilakukan tanpa semuanya harus
berada pada lokasi yang sama, tidak lagi harus berkumpul di satu tempat untuk
pertemuan yang hanya berlangsung satu atau dua jam.
Pendayagunaan e-Government bukan berarti menerapkan sistem
pemerintahan secara elektronik saja atau dengan kata lain otomatisasi sistem,
melainkan bertujuan lebih dalam dari itu. Pertama-tama yang harus dilihat
adalah bagaimana sistem pemerintahan berjalan sebelum pendayagunaan
e-Government. E-Government memerlukan suatu sistem informasi yang baik, teratur
dan bersinergi dengan masing-masing lembaga pemerintahan, sehingga didapatkan
suatu sistem informasi yang terjalin dengan baik. Untuk mewujudkan sistem
informasi yang baik, teratur dan sinergi antara lembaga pemerintahan, maka
sistem informasi dari masing-masing lembaga pemerintahan harus memenuhi suatu
standar informasi, dimana standar ini meliputi persyaratan minimal untuk
faktor-faktor dari sistem informasi tersebut.
Tidaklah mengherankan apabila negara yang dapat menjalankan
e-Government sebagian besar adalah negara-negara maju karena dalam konteks
e-Government seutuhnya bukanlah semata-mata hanya situs informasi. Hal tersebut
dapat terjadi karena untuk membereskan sistem informasi dalam satu lembaga
pemerintah saja sudah sangat sulit apalagi harus tercapainya sinergi dari
sistem informasi dari berbagai lembaga-lembaga pemerintahan, karena hal ini
berkaitan erat dengan faktor budaya, politik dan ekonomi suatu negara.
Keuntungan yang dapat diperoleh dari penerapan e-Government
bukan hanya sekedar menyediakan pelayanan on-line akan tetapi lebih luas dari
pada itu karena kinerja pada sektor publik juga akan berkontribusi pada
kemajuan ekonomi dan sosial suatu negara. Gupta & Jana (2003) berpendapat
bahwa e-Government tidak lagi dilihat sebagai suatu pilihan, melainkan suatu
keharusan bagi semua negara yang bertujuan untuk lebik baik dan lebih efisien
(Dhilon, 2008). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pendayagunaan
e-Government ditujukan untuk mendukung terwujudnya pemerintahan yang baik (good
governance). Pendayagunaan e-Government ini diharapkan dapat meningkatkan
pelayanan publik kepada masyarakat dalam administrasi pemerintahan dan dapat
mengurangi kesenjangan informasi antara pusat dan daerah.
Di era globalisasi, penerapan e-Government sangat penting
karena telah memodernisasi pemerintahan publik di seluruh dunia dan juga
hubungan antar pemerintah. Selain di Uni Eropa beberapa negara di Asia telah
menggunakan e-Government untuk melaksanakan hubungan bilateral mereka. Sejalan
dengan kemajuan teknologi dan tujuan yang ingin dicapai mau tidak mau
pemerintahan di Indonesia juga dituntut untuk menerapkan e-Government. Pada
kondisi saat ini penggunaan e-Government sudah menjadi suatu keharusan dalam
rangka menciptakan pelayanan publik yang lebih baik untuk mendukung
pemerintahan yang baik (good governance). Untuk kepentingan hal itu pemerintah
perlu meningkatkan kesadaran dan kesiapan penggunaan kemajuan teknologi
telematika untuk mengimplementasikan government on-line secara efektif, serta
mengintensifkan pendidkan dan pelatihan teknologi telematika untuk meningkatkan
keahlian pegawai pemerintahan di semua tingkatan.
Wujud Efektivitas dan Efisiensi Birokrasi dengan
E-government
Mengingat kelebihan-kelebihan yang dimiliki e-government
dibandingkan dengan sistem birokrasi tradisional maka e-government mulai banyak
diterapkan di negara-negara di dunia, khususnya negara maju. Beberapa negara
telah membuktikan keberhasilan mereka dalam memanfaatkan e-Government untuk
mendukung good governance. Banyak negara telah menggunakan internet sebagai
sarana pelayanan publik yang menghasilkan transparansi, akuntabilitas, adil
(fair), efektif, dan dapat mengakomodasi partisipasi seluruh warga masyarakat.
Sebagai contoh penyelenggaraan distance learning melalui internet yang dirancang
khusus untuk meningkatan pengetahuan dan ketrampilan pegawai negeri di Mexico
dan Kanada merupakan contoh bagaimana TI digunakan dalam mendukung upaya good
governance (Wigrantoro, 2004).
Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Accenture pada
tahun 2001 negara yang telah menerapkan e-Government berdasarkan ranking secara
berurutan, yaitu: Kanada, Singapura, Amerika Serikat, Australia, Denmark,
Inggris, Firlandia, Hong Kong, Jerman, Irlandia, Belanda, Perancis, Norwegia,
Selandia Baru, Spanyol, Belgia, Jepang, Portugal, Malaysia, Italia, Afrika
Selatan dan Meksiko (Setiawati, 2009)..
Beberapa contoh implementasi e-government yang mendominasi
di seluruh dunia saat ini berupa pelayanan pendaftaran warga negara antar lain
pendaftaran kelahiran, pernikahan dan penggantian alamat, perhitungan pajak
(pajak penghasilan, pajak perusahaan dan custom duties), pendaftaran bisnis,
perizinan kendaraan dsb.
Sebagai studi komparatif, dapat kita simak penerapan
e-Government di negara-negara Uni Eropa. Uni Eropa merupakan salah satu
komunitas yang telah menerapkan e-Government dengan sukses. Hanya Canada,
Singapura dan Amerika yang telah mengungguli Uni Eropa dalam area e-Government.
Uni Eropa sendiri telah memiliki official website yang cukup modern dimana setiap
masyarakat dapat mengakses informasi terbaru dan kebijakan serta dasar hukum
kebijakan pemerintah tersebut. Pada waktu-waktu tertentu masyarakat bahkan
dapat berinteraksi langsung dengan para pengambil keputusan melalui fasilitas
chatting. (www.europa.eu.int). Dengan portalnya yang sangat besar kapasitasnya,
para warga dapat melamar pekerjaan serta magang di institusi tersebut. Masih
banyak lagi fasilitas yang diberikan melalui portalnya. Untuk memotivasi public
service dalam melaksanakan e-Government, e-Europe awards
(www.e-europeawards.org) dilaksanakan dalam rangka memfasilitasi sharing
experience dan mutual learning antar anggota Uni Eropa. Selain itu eGovernment
di Eropa juga ditampilkan dengan memberikan fasilitas akses langsung ke portal
pemerintahan negara anggota dan negara aplikan serta negara Eropa lainnya.
Contoh best practice yang terdapat di Belanda antara lain administrasi bea
cukai yang dapat dilakukan secara online sehingga dapat dikontrol dan
mengurangi kasus suap. Di Inggris para warga negaranya dapat melakukan aplikasi
dan pembaharuan paspor secara online. Sedangkan di Perancis, pembayaran kembali
biaya yang dikeluarkan untuk biaya pengobatan oleh perusahaan asuransi telah
dapat dilakukan secara online. Pemerintahan daerah Bonn di Jerman saat ini
menyediakan pelayanan online berupa pendaftaran Taman Kanak-Kanak. Melalui
portal online-nya masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai seluruh TK di
kota itu dan orang tua murid dapat mendaftar secara langsung untuk dihubungi
melalui telepon.
Penerapan benchmarking process dan best practice
dissemination Uni Eropa telah membuahkan hasil yang cukup fantastis.
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Cap Gemini Ernst & Young terhadap
penerapan e-Government di Eropa diperoleh bahwa 5 negara (Denmark, Perancis,
Italia, Swedia dan Finlandia ) telah berhasil menerapkan pelayanan elektronik
secara penuh untuk beberapa jenis pelayanan seperti pajak pendapatan. Survei
tersebut juga menunjukkan bahwa 86 % pelayanan publik di Uni Eropa telah
tersedia secara online.
Selain itu suksesnya e-Government di Eropa merupakan
kontribusi kebijakan publik yang sesuai dengan karakteristik e-Government itu
sendiri. Soft policy berupa kebijakan Open Method Coordination pada
e-Government Eropa yang dimulai dengan visi yang luas dan jelas dan diikuti
dengan dissemination, proses benchmarking, monitoring berkala, evaluasSISTEM
INFORMASI MANAJEMEN DAN PERANAN NYA DALAM OPERASIONAL PERUSAHAAN
Sistem Informasi Manajemen
Informasi dapat diibaratkan sebagai darah yang mengalir di
dalam tubuh manusia, seperti halnya informasi di dalam sebuah perusahaan yang sangat
penting untuk mendukung kelangsungan perkembangannya, sehingga terdapat alasan
bahwa informasi sangat dibutuhkan bagi sebuah perusahaan. Akibat bila kurang
mendapatkan informasi, dalam waktu tertentu perusahaan akan mengalami
ketidakmampuan mengontrol sumber daya, sehingga dalam mengambil
keputusan-keputusan strategis sangat terganggu, yang pada akhirnya akan
mengalami kekalahan dalam bersaing dengan lingkungan pesaingnya. Disamping itu,
sistem informasi yang dimiliki seringkali tidak dapat bekerja dengan baik.
Masalah utamanya adalah bahwa sistem informasi tersebut terlalu banyak
informasi yang tidak bermanfaat atau berarti (sistem terlalu banyak data).
Memahami konsep dasar informasi adalah sangat penting (vital) dalam mendesain
sebuah sistem informasi yang efektif (effective business system).
Menyiapkan langkah atau metode dalam menyediakan informasi yang berkualitas
adalah tujuan dalam mendesain sistem baru.
Sebuah
perusahaan mengadakan transaksi-transaksi yang harus diolah agar bisa
menjalankan kegiatannya sehari-hari. Daftar gaji harus disiapkan, penjualan dan
pembayaran atas perkiraan harus dibutuhkan: semua ini dan hal-hal lainnya
adalah kegiatan pengolahan data dan harus dianggap bersifat pekerjaan juru
tulis yang mengikuti suatu prosedur standar tertentu. Komputer bermanfaat utnuk
tugas-tugas pengolahan data semacam ini, tetapi sebuah sistem informasi
menajemen melkasanakan pula tugas-tugas lain dan lebih dari sekedar sistem
pengolahan data. Adalah sistem pengolahan informasi yang menerapkan kemampuan
komputer untuk menyajikan informasi bagi manajemen dan bagi pengambilan
keputusan.
Sistem
informasi manajeman digambarkan sebagai sebuah bangunan piramida dimana lapisan
dasarnya terdiri dari informasi, penjelasan transaksi, penjelasan status, dan
sebagainya. Lapisan berikutnya terdiri dari sumber-sumber informasi dalam
mendukung operasi manajemen sehari-hari. Lapisan keriga terdiri dair sumber
daya sistem informasi untuk membantu perencanaan taktis dan pengambilan
keputusan untuk pengendalian manajemen. Lapisan puncak terdiri dari sumber daya
informasi utnuk mendukung perencanaan dan perumusan kebijakan oleh tingkat
manajemen.
Definisi
sebuah sistem informasi manajemen, istilah yang umum dikenal orang
adalah sebuah sistem manusia/mesin yang terpadu (intregeted) untuk
menyajikan informasi guna mendukung fungsi operasi, manajemen, dan pengambilan
keputusan dalam sebuah organisasi. Sistem ini menggunakan perangkat keras (hardware)
dan perangkat lunak (software) komputer, prosedur pedoman, model manajemen
dan keputusan, dan sebuah “data base”.
peranan SIM dalam operasional perusahaan
Sistem informasi memiliki peran yang sangat penting dalam sebuah
organisasi . sistem informasi memiliki peran dalam menunjang kegiatan bisnis
operasional, menunjang manajemen dalam pengambilan keputusan, dan menunjang
keunggulan strategi kompetetif organisasi.
Peran sistem informasi manajemen untuk mencapai keunggulan
strategis dapat dicontohkan pada suatu perusahaan yang mutuskan untuk mengubah
seluruh datanya menjadi basis data dengan alat penghubung standar (seperti alat
penghubung browser web) sehingga memungkinkan berbagi informasi dengan para
sekutu-sekutu bisnis dan pelanggannnya. Basis data yang terstandarisasi dan
dapat diakses melalui browser web mencerminkan pergeseran posisi perusahaan
secara strategis.
Persaingan merupakan
kunci penentu keberhasilan sebuah organisasi bisnis. Strategi persaingan yang
diterapkan oleh bisnis/industri mampu memberikan keunggulan organisasi, dengan
memperhatikan faktor biaya, mutu dan kecepatan proses. Keunggulan kompetitif
akan membawa organisasi pada kemampuan mengendalikan pasar dan meraih
keuntungan usaha. Strategi bisnis menjadi pusat yang mengendalikan strategi
organisasi dan strategi informasi. Perubahan pada salah satu strategi
membutuhkan penyesuaian, agar tetap setimbang.
Hubungan antara
strategi kompetitif perusahaan dan manfaat penggunaan sistem informasi
dikembangkan melalui beberapa lapisan, mulai dari perencanaan, analisa dan
perancangan. Sejalan dengan semakin luasnya pemanfaatan teknologi informasi di
lingkungan bisnis, maka pemisahan antara teknologi informasi dan strategi
kompetitif perusahaan semakin tidak terlihat. Hal ini karena seluruh strategi
kompetitif perusahaan harus memiliki teknologi informasi.
Strategi perusahaan berbasis sistem informasi perlu dibuat karena
sumber daya yang dimiliki perusahaan sangat terbatas, sehingga harus
dimanfaatkan secara optimal. Strategi ini juga digunakan untuk meningkatkan
daya saing atau kinerja perusahaan karena para kompetitor memiliki sumberdaya
teknologi yang sama dan memastikan bahwa aset teknologi informasi dapat
dimanfaatkan secara langsung maupun tidak langsung dalam meningkatkan
profitabilitas perusahaan, baik berupa peningkatan pendapatan mapun pengurangan
biaya. Selain itu, strategi perusahaan berbasis sistem informasi digunakan
untuk mencegah terjadinya kelebihan atau kekurangan investasi serta menjamin
bahwa teknologi informasi yang direncanakan benar-benar menjawab kebutuhan
bisnis perusahaan akan informasi.
Sistem Informasi Manajemen (SIM) (Management Information System, MIS)
adalah bagian dari pengendalian internal suatu
bisnis yang meliputi pemanfaatan manusia,
dokumen, teknologi,
dan prosedur
oleh akuntansi
manajemen untuk memecahkan masalah bisnis seperti biaya produk,
layanan, atau suatu strategi bisnis. Sistem
informasi manajemen dibedakan dengan sistem informasi
biasa karena SIM digunakan untuk menganalisis sistem informasi lain yang
diterapkan pada aktivitas operasional organisasi. Secara akademis, istilah ini
umumnya digunakan untuk merujuk pada kelompok metode manajemen informasi yang
bertalian dengan otomasi atau dukungan terhadap pengambilan
keputusan manusia, misalnya sistem
pendukung keputusan, sistem pakar,
dan sistem
informasi eksekutif.
Tujuan Umum
- Menyediakan informasi yang dipergunakan di dalam perhitungan
harga pokok jasa, produk, dan tujuan lain yang diinginkan manajemen.
- Menyediakan informasi yang dipergunakan dalam perencanaan,
pengendalian, pengevaluasian, dan perbaikan berkelanjutan.
- Menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan.
Ketiga tujuan tersebut menunjukkan bahwa manajer
dan pengguna lainnya perlu memiliki akses ke informasi akuntansi
manajemen dan mengetahui bagaimana cara menggunakannya. Informasi akuntansi
manajemen dapat membantu mereka mengidentifikasi suatu masalah, menyelesaikan
masalah, dan mengevaluasi kinerja (informasi akuntansi dibutuhkan dam
dipergunakan dalam semua tahap manajemen, termasuk perencanaan, pengendalian
dan pengambilan keputusan).
Proses Manajemen
Proses manajemen didefinisikan sebagai aktivitas-aktivitas:
- Perencanaan, formulasi terinci untuk mencapai suatu tujuan
akhir tertentu adalah aktivitas manajemen yang disebut perencanaan. Oleh
karenanya, perencanaan mensyaratkan penetapan tujuan dan identifikasi metode
untuk mencapai tujuan tersebut.
- Pengendalian, perencanaan hanyalah setengah dari peretempuran.
Setelah suatu rencana dibuat, rencana tersebut harus diimplementasikan,
dan manajer serta pekerja harus memonitor pelaksanaannya untuk memastikan
rencana tersebut berjalan sebagaimana mestinya. Aktivitas manajerial untuk
memonitor pelaksanaan rencana dan melakukan tindakan korektif sesuai kebutuhan,
disebut kebutuhan.
- Pengambilan Keputusan, proses pemilihan diantara berbagai alternative disebut
dengan proses pengambilan keputusan. Fungsi manajerial ini merupakan
jalinan antara perencanaan dan pengendalian. Manajer harus memilih
diantara beberapa tujuan dan metode untuk melaksanakan tujuan yang
dipilih. Hanya satu dari beberapa rencana yang dapat dipilih. Komentar
serupa dapat dibuat berkenaan dengan fungsi pengendalian.
Definisi Teori Organisasi menurut Herbert Simon
Menurut Herbert Simon and Gullet, yang merupakan ilmuwan
yang mempelajari tentang persoalan organisasi mengungkapkan bahwa yang dimaksud
dengan pengorganisasian merupakan proses yang mana struktur suatu organisasi
dibuat dan ditegakan. Proses ini meliputi ketentuan dari kegiatan-kegiatan yang
spesifik yang perlu untuk menyelesaikan semua sasaran organisasi, pengelompokan
kegiatan tersebut berkaitan dengan susunan yang logis, dan tugas dari kelompok
kegiatan ini bagi suatu jabatan atau orang yang bertanggung jawab.
Teori organisasi merupakan sebuah teori untuk mempelajari
kerjasama pada setiap individu. Hakekat kelompok dalam individu untuk mencapai
tujuan beserta cara-cara yang ditempuh dengan menggunakan teori yang dapat
menerangkan tingkah laku, terutama motivasi, individu dalam proses kerjasama.
Terdapat beberapa jenis tujuan dalam organisasi yang
memberikan arah bagi pelaksanaan kegiatan maupun pengambilan keputusan, yaitu:
(a) Sasaran lingkungan, yaitu kondisi dimana suatu
organisasi-organisasi lain yang terdapat pada lingkungannya
(b) Sasaran output, yaitu menunjukan bentuk dan banyaknya
output yang akan dihasilkan oleh organisasi
(c) Sasaran sistem, yaitu berhubungan dengan pemeliharaan
atau perawatan maintenance organisasi
sendiri
(d) Sasaran produk menggambarkan karakteristik produk atau
jasa yang akan diberikan kepada konsumen, sasaran ini menentukan jumlah, mutu,
jenis, corak, dan karakteristik lainnya yang menggambarkan karakteristik produk
atau jasa yang ditawarkan
(e) Sasaran bagian (sub unit goal) yaitu menggambarkan
sasaran dari suatu bagian atau suatu satuan unit kerja yang merupakan bagian
dari unit organisasi.
Level-level yang Terdapat Pada Suatu Organisasi
atau Institusi di bidang Sistem Informasi Manajemen/Perusahaan
- TOP
Management
Manajemen tingkat teratas dalam pengelompokkan level
manajemen sistem informasi yang memiliki pergerakan dan pemikiran yang
strategis sebagai penunjang aktivitas dan konektivitas suatu organisasi atau
perusahaan.
-
MIDDLE Management
Manajemen tingkat menengah dalam pengelompokkan level
manajemen sistem informasi yang memiliki pergerakan sebagai operator, connector, acceptor, dan accelerator. Yang bergerak pada
bidang-bidang tertentu dalam menjalankan tugas masing-masing bagan.
-
FIRST Level Management
Manajemen tingkat bawah atau satu lebih rendah dibandingkan
dengan Middle Management dalam pengelompokkan level manajemen sistem informasi
yang memiliki peranan penting sebagai generator penggerak, penyuplai, dan spirit
dalam menjalankan serta memimpin para staff untuk menjalankan tugas sesuai
bidang masing-masing pada tiap-tiap bidang tertentu dalam memberikan suatu
informasi atau produksi barang dan jasa.
-
Supporting Staff
Suatu kelompok yang terdiri dari 2 orang atau lebih dalam
suatu bidang pekerjaan di suatu organisasi atau perusahaan yang memiliki fungsi
sebagai penggerak langsung dan penyaji produk berupa barang, jasa dan juga
informasi. Staff berfungsi sebagai pendukung penuh pada kinerja management yang
ada.
Teori-teori Permasalahan dalam Organisasi
Teori yang diungkapkan oleh Herbert Simon merupakan teori
modern yang ditandai dengan lahirnya gerakan contingency yang dipelopori Herbert Simon, yang menyatakan :
“ The theory of
Organization need more shallow principles and too simple for knowledges about
telling conditions that under of it which is applying princples competetive
with each other.”
Yang artinya :
“ Teori organisasi perlu melebihi prinsip-prinsip yang
dangkal dan terlalu disederhanakan bagi suatu kajian mengenai kondisi yang
dibawahnya dapat diterapkan prinsip yang saling bersaing.”
Herbert Simon mengungkapkan suatu teori yang lain, yaitu :
“ Moreover the comptible of hierarchy in
the organization, then the problem that have been done in the organization
moreover unstructured.”
Yang artinya :
“ Semakin tinggi hierarki (tingkatan) dalam suatu
organisasi, maka persoalan yang terdapat dalam organisasi tersebut makin tidak
terstruktur.”
Dalam pandangan struktural organisasi diperlukan adanya
koordinasi pola interaksi para anggota organisasi secara formal. Struktur
organisasi menetapkan bagaimana tugas akan dibagi, siapa melapor kepada siapa,
dan mekanisme koordinasi yang formal serta pola interaksi yang akan diikuti. Sebuah
struktur organisasi mempunyai tiga komponen yang harus diperhatikan, yaitu;
kompleksitas, formalisasi dan sentralisasi. Kompleksitas mempetimbangkan
tingkat differensasi atau perbedaan yang ada dalam organisasi yang meliputi
tingkat pembagian kerja, jumlah tingkatan di dalam hierarkhi organisasi, serta
tingkat sejauhmana unit-unit organisasi tersebar secara menyeluruh.
Kompleksitas pada sebuah organisasi dipengaruhi oleh besar kecilnya organisasi
tersebut, semakin besar kekuatan sebuah organisasi maka akan semakin kompleks
juga struktur organisasi yang ada di dalamnya.
Formalisasi merupakan tingkatan pada sejauhmana sebuah
organisasi menyandarkan dirinya kepada peraturan dan prosedur untuk mengatur
perilaku dari para pegawainya. Dengan struktur organisasi yang besar, maka akan
semakin sulit mengawasi dan mengendalikan para anggota organisasi di dalam
efektifitas kinerja organisasi. Untuk itu, diperlukan adanya peraturan dan
pedoman operasional standar organisasi dalam performansi kerja dari para anggota
organisasi, baik di tingkat bawahan maupun pada tingkat manajer.
Fungsi organisasi merupakan pemanfaatan dan pengerahan
segala sumber daya (pikiran, kemauan, perasaan dan tenaga) untuk mewujudkan
tujuan yang telah ditetapkan. Dilihat dari langkah-langkah kegitan organisasi,
maka yang dimaksud fungsi-fungsi organisasi mencakup sumber masukan (input), proses, dan keluaran (output) dengan melibatkan feedback sebagai kontrol.
Menurut Simon, dalam pemecahan masalah akan terlibat dalam
beberapa hal, yaitu :
-
Aktivitas Intelijen ( Mencari kondisi-kondisi yang membutuhkan solusi didalam
lingkungan ).
-
Aktivitas Perancangan ( Menemukan, mengembangkan, dan menganalisis
kemungkinan-kemungkinan tindakan ).
-
Aktivitas Pemilihan ( Memilih satu tindakan tertentu dari berbagai tindakan
yang tersedia ).
-
Aktivitas Peninjauan ( Menilai pilihan-pilihan masa lalu ).
Selanjutnya, teori manajemen ini akan dikemukan oleh G.
Anthony dan Michael S. Scott Morton (keduanya merupakan profesor MIT) yang
dikenal dengan istilah Sistem Pendukung Pengambil Keputusan (Deciasion Support System-DSS). Suatu sistem pendukung
pengambil keputusan adalah suatu sistem yang membantu seorang manajer atau
sekelompok kecil manajer memecahkan suatu masalah. DSS sebagai sebuah sistem
yang memberikan dukungan kepada seorang manajer, atau kepada sekelompok manajer
yang relative kecil yang bekerja sebagai tim pemecah masalah, dalam memecahkan
masalah semi terstruktur dengan memberikan informasi atau saran mengenai keputusan
tertentu. Informasi tersebut diberikan oleh laporan berkala, laporan khusus,
maupun output dari model matematis. Model tersebut juga mempunyai kemampuan
untuk memberikan saran dalam tingkat yang bervariasi.
Struktur Masalah dalam Suatu Manajemen Organisasi
atau Perusahaan beserta Contoh Konkritnya
Terdapat permasalahan yang terjadi dalam suatu
instansi baik berupa organisasi ataupun perusahaan. Dan dalam tiap-tiap
permasalahan tersebut terdapat adanya tingkatan-tingkatan tertentu, antara lain
:
- Unstructured Problems
Adalah tingkatan permasalahan pada level TOP Manajemen yang
sifatnya tidak terstruktur namun memiliki karakteristik yang khas dalam
kompleksitas masalah yang ada. Tidak akan diketahui oleh pihak lain dan dapat
menjadi rahasia suatu organisasi atau perusahaan. Masalah yang terjadi
sangatlah rumit untuk diatasi.
è Marketing Problems (Masalah Pemasaran)
Permasalahan dalam hal pemasaran merupakan hal yang sulit
diketahui terutama bagaimana cara pengelolaan produksi dan penyebaran, apa saja
yang menjadi kebutuhan masyarakat konsumen saat ini, dan dimana lokasi-lokasi
yang strategis. Seorang manajer perlu memahami dan mempelajari betul betapa
susahnya menyelesaikan masalah seperti ini. Cara yang perlu digunakan manajer
tingkat TOP atau level atas adalah menciptakan suatu produk dan jasa yang
digemari oleh semua khalayak konsumen. Pengelolaan yang spesifik dan persebaran
dengan lokasi yang strategis perlu dilakukan agar tidak terjadi kesinambungan
dalam polemik masalah tersebut.
è Human Resource Problems (Masalah Sumber Daya Manusia)
Ada kalanya seorang manajer kelas atas memiliki masalah
dalam hal pemanfaatan SDM dalam organisasi atau perusahaan yang dikelolanya,
masalah yang terjadi adalah seringnya missed-communication dengan manajer dibawahnya atau bahkan dengan relasi-relasinya.
Bagaimana manajer harus bisa mengatur SDM dalam jumlah banyak dan
mengimbanginya dengan produktivitas ketenagakerjaan yang teratur dan
tertib.
è Manufacturing Problems (Masalah Penghasilan)
Suatu instansi, organisasi atau perusahaan yang
menghasilkan produk, jasa atau informasi mengalami masalah dalam hal hasil
tersebut, dalam artian bahwa apa yang telah dibuat terkadang tidak membuat para
konsumen puas. Hal tersebut yang menjadikan seorang manajer kerepotan untuk
membuat inovasi yang unik dan menarik konsumen agar tidak merugikan
produktivitas perusahaan
è Financial Problems (Masalah Pendapatan)
Penghasilan per bulan adalah hasil yang wajib diberikan
oleh instansi atau perusahaan kepada para SDM sebagai upah hasil jerih payah
mereka, namun seringkali para SDM atau buruh menuntut upah dinaikkan, inilah
yang menjadikan masalah pendapatan kian memburuk. Hasil kesepakatan bersama
terkadang tidak menguntungkan sepihak. Dan sebagai seorang manajer harus dapat
memutar otaknya agar tidak kehilangan SDM yang bermanfaat dan tidak mengurang
pula hasil produksinya.
- Semi-structured Problems
Adalah tingkatan permasalahan yang cukup kompleks dan
sedikit rumit dalam penyelesaiannya dengan struktur yang terlihat semu karena
permasalahan ini dimiliki oleh para Manajer Madya atau posisi manajemen level
menengah. Dimana pada permasalahan ini korelasinya terkadang kacau karena
bergantung pada baik-buruknya seorang manajer mengkomunikasikan antara pihak
yang satu dengan yang lain atau sebagai perantara yang komunikan.
è Marketing Problems (Masalah Pemasaran)
Permasalahan pada pemasaran yang terjadi pada manajer Madya
atau pada pengelolaan Middle Management terkait pada hal yang subjektif antara
para pimpinan staff bidang pemasaran dengan penangggungjawab pemasaran (Leader
Staff Marketing). Manajer Madya harus mampu sebagai penengah dan perantara yang
terjadi akibat tidak adanya koordinasi yang baik terhadap beberapa pihak.
è Human Resource Problems (Masalah Sumber Daya Manusia)
Persoalan ini terjadi dan sering bilamana seorang manajer
Madya tidak mampu mengelola dan mengkoneksikan antara lawatan para pimpinan
staff di suatu bidang dengan beberapa bidang yang lain atau mendiamkan masalah
yang ada akan menimbulkan efektivitas pada SDM ketenagakerjaan yang kacau.
Perlu diwaspadai sebab dapat mengurangi efisiensi kerja secara maksimal.
è Manufacturing Problems (Masalah Penghasilan)
Penghasilan produksi yang dimiliki suatu instansi
organisasi atau perusahaan terkadang mengalami kendala tertentu dalam
pengelolaannya. Seorang manajer Madya harus mampu memiliki strategi yang jitu
agar penghasilan produksi barang, jasa, dan informasi ada secara maksimal.
Rata-rata mengalami penurunan, namun terkadang sebaliknya mengalami kenaikan.
Konvensi yang terjadi adalah bagaimana cara seorang manajer Madya dapat
mengatasi masalah pada penghasilan produk perusahaan yang berlebih namun kurang
diminati para konsumen. Jalan keluar haruslah dicari dan dimanfaatkan sebaik
mungkin.
è Financial Problems (Masalah Pendapatan)
Pendapatan para karyawan yang seringkali mendapat komplain
dari para pimpinan staff terkadang berujung pada tindakan anarkis para buruh
atau karyawan yang tidak dapat menerima pendapatan mereka yang dinilai minim
dan tidak sepadan dengan hasil jerih payah mereka. Sebagai manajer Madya
haruslah mampu menjembatani permasalahan ini karena pengawasan dan
tanggungjawab masalah ini hanya dapat dikomunikasikan kepada para atasan untuk
mendapatkan jalan keluar yang lebih baik. Sebagai penengah dalam suatu
problematik, maka harus adil dan tidak memihak siapapun.
- Structured Problems
Adalah tingkatan permasalah yang tidak begitu rumit dalam
penanganannya, namun fleksibilitas kurang dan sering terjadi didalam suatu
organisasi atau instansi suatu perusahaan. Permasalahan ini muncul dan dihadapi
oleh para manajer suatu bidang atau First Level Management. Permasalahan ini
terlihat dan terstruktur karena berkaitan langsung dengan para staff atau para
pekerja.
è Marketing Problems (Masalah Pemasaran)
Persebaran produk barang dan jasa serta informasi tertentu
yang dimiliki suatu instansi organisasi atau perusahaan menjadi tanggungjawab
langsung para pimpinan staff atau manajer bidang tertentu. Sebagai seorang
manajer haruslah tahu dan pandai menemukan lokasi yang strategis, banyak minat
konsumen, dan tahu harga saing dalam pemasaran yang ada.
è Human Resource Problems (Masalah Sumber Daya Manusia)
Pemberdayaan SDM adalah salah satu faktor kemajuan
organisasi atau perusahaan untuk dijadikan sebagai tenaga kerja yang ahli pada
bidangnya merupakan tanggungjawab langsung Manajer staff bidang tertentu.
Namun, masalah yang sering terjadi adalah penempatan SDM yang tidak sesuai
bidangnya dan berakibat pada menghambatnya produktivitas instansi organisasi
atau perusahaan. Perlu diperhatikan agar tidak terjadi kesalahan tertentu
didalamnya.
è Manufacturing Problems (Masalah Penghasilan)
Penghasilan produk barang, jasa, maupun informasi yang
terjadi langsung merupakan tanggungjawab seorang Manajer Staff atau First Level
Management yang mana acapkali terjadi persoalan yang tidak sesuai dengan
pemikiran atau strategi yang dimiliki dalam menangani persoalan tertentu.
Terkadang produktivitas berlebih namun minat konsumen kurang, atau sebaliknya
produktivitas tidak mampu mengatasi permintaan para konsumen. Maka, wajib dan
harus mampu memikirkan kembali serta memiliki strategi yang ampuh bagaimana
cara menanggulanginya.
è Financial Problems (Masalah Pendapatan)
Pendapatan merupakan hak bagi para pekerja atau semua
faktor SDM yang ada diperusahaan atau organisasi tertentu sebagai ganti jerih
payah mereka. Namun, permasalahan yang sering terjadi adalah protes para
pekerja mengenai gaji yang minim, sebagai manajer yang ahli maka harus
memikirkan apa yang terjadi dan bagaimana cara penyelesaian agar pendapatan
mereka tidak berakibat dalam merugikan perusahaan atau organisasi tersebut.
Serta mampu bertindak dalam konsolidasi agar tidak terjadi kesalahpahaman
antara bawahan dengan pihak yang lebih atas.
Penerapan Sistem Informasi Manajemen Bagi Perusahaan
Semua kegiatan yang dilakukan
oleh perusahaan memerlukan informasi. Demikian pula sebaliknya, semua kegiatan
menghasilkan informasi, baik yang berguna bagi perusahaan yang melaksanakan
kegiatan tersebut maupun bagi perusahaan lain diluar perusahaan yang
bersangkutan, oleh sebab informasi berguna untuk semua macam dan bentuk
kegiatan dalam perusahaan.
Apabila sistem informasi
manajemen dirancang dan dilaksanakan dengan baik, maka akan banyak manfaat yang
bisa diperoleh manajemen perusahaan, yaitu mempermudah manajemen dan membantu
serta menunjang proses pengambilan keputusan manajemen. Karena sistem informasi
manajemen menyediakan informasi bagai manajemen perusahaan dimana sistem
informasi manajemen tersebut dilaksanakan.
Sebagai masukan dalam
proses pengambilan keputusan informasi memegang peranan penting. Pentingnya
peranan informasi bagi pemimpin adalah untuk mengambil keputusan sebagai dasar
tindakan di masa mendatang. Suatu keputusan yang dihasilkan dengan tidak
berdasarkan pada penggunaan informasi yang tepat akan berakibat pada
pengambilan keputusan yang cukup fatal dan tidak dapat dipergunakan untuk
mencapai tujuan.
Manajemen menggunakan informasi
untuk dua tujuan yaitu perencanaan dan pengawasan. Perencanaan terjadi sebelum
pelaksanaan aktivitas organisasi. Tujuan yang ditentukan oleh proses
perencanaan harus dicapai dengan aktivitas itu. Meskipun perencanaan meliputi
semua tingkat organisasi, tetapi kebanyakan terjadi pada tingkat keputusan
strategis dan taktis.
Perencanaan banyak bergantung
pada peramalan dan dan informasi dari luar. Pengendalian merupakan hal mebandingkan
hasil aktual dengan rencana yang ditentukan pada proses perencanaan. Demikian
pentingnya peranan sistem informasi manajemen dalam usaha pencapaian tujuan,
sehingga jelaslah bahwa penggunaan dari sistem informasi manajemennya harus
dikaitkan dengan usaha-usaha modernisasi, sedang proses modernisasi hanya dapat
terjadi bila ditarik manfaatnya dari kemajuan yang telah dicapai dalam bidang
ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dalam manfaat dan peranan sistem
informasi manajemen seorang pemimpin dapat mengikut sertakan orang lain dalam
arti memikirikan masalah bersama-sama dan bersama pula bertanggung jawab dalam
pencapaian tujuan perusahaan
Hampir di seluruh sektor bisnis
di dunia ini menggunakan sistem informasi di perusahaan mereka. Bukan hanya
itu, mereka pun selalu berusaha melakukan berbagai macam cara untuk
menggembangkan sistem informasi yang digunakan di perusahaan mereka. Hal
tersebut disebabkan karena sistem informasi memegang peranan yang cukup penting
dalam bisnis mereka. Adapun peranan dan fungsi utama dari sistem informasi
adalah..
1. Mendukung Operasi Bisnis .
Mulai dari akuntansi sampai
dengan penelusuran pesanan pelanggan, sistem informasi menyediakan dukungan
bagi manajemen dalam operasi/kegiatan bisnis sehari-hari. Ketika
tanggapan/respon yang cepat menjadi penting, maka kemampuan Sistem Informasi
untuk dapat mengumpulkan dan mengintegrasikan informasi keberbagai fungsi
bisnis menjadi kritis/penting.
2. Mendukung Pengambilan
Keputusan Managerial.
Sistem informasi dapat
mengkombinasikan informasi untuk membantu manager menjalankan menjalankan
bisnis dengan lebih baik, informasi yang sama dapat membantu para manajer
mengidentifikasikan kecenderungan dan untuk mengevaluasi hasil dari keputusan
sebelumnya. Sistem Informasi akan membantu para manajer membuat keputusan yang
lebih baik, lebih cepat, dan lebih bermakna.
3. Mendukung Keunggulan
Strategis.
Sistem informasi yang dirancang
untuk membantu pencapaian sasaran strategis perusahaan
dapat men-ciptakan keunggulan bersaing di pasar.
Penjelasan lebih mendalam
mengenai fungsi utama sistem informasi dalam suatu organisasi akan dijelaskan
pada bagian klasifikasi sistem informasi di bawah ini:
Klasifikasi Sistem Informasi
Pada prakteknya, berbagai peranan tersebut diintegrasi menjadi suatu gabungan atau
fungsi-silang (cross-functional) sistem informasi yang menjalankan berbagai
fungsi, lebih jelasnya diperlihatkan pada gambar 1 berikut.
1. Sistem Informasi untuk
Operasi Bisnis
Sistem Informasi
Operasi memproses data yang berasal dari dan yang digunakan dalam kegiatan
usaha. Peranan sistem informasi untuk operasi bisnis adalah untuk memproses
transaksi bisnis, mengontrol proses industrial, dan mendukung komunikasi serta
produktivitas kantor secara efisien.
Transaction Processing Systems
Transaction processing
systems (TPS) berkembang dari sistem informasi manual untuk sistem proses
data dengan bantuan mesin menjadi sistem proses data elektronik (electronic
data processing systems). TPS mencatat dan memproses data hasil dari transaksi
bisnis, seperti penjualan, pembelian, dan perubahan persediaan. TPS
menghasilkan berbagai informasi produk untuk penggunaan internal maupun
eksternal. Sebagai contoh, TPS membuat pernyataan konsumen, cek gaji karyawan,
kuitansi penjualan, order pembelian, formulir pajak dan rekening keuangan. TPS
juga memperbaharui database yang digunakan perusahaan untuk diproses
lebih lanjut oleh SIM.
Process Control Systems
Sistem informasi operasi secara
rutin membuat keputusan yang mengendalikan proses operasional, seperti
keputusan pengendalian produksi. Hal ini melibatkan process control
systems (PCS) yang keputusannya mengatur proses produksi fisik yang secara
otomatis dibuat oleh komputer.
Office Automation Systems
Office automation
systems (OAS) mengumpulkan, memproses, menyimpan, dan mengirim data dan
informasi dalam bentuk komunikasi kantor elektronik. Contoh dari office
automation (OA) adalah word processing, surat elektronik (electronic
mail),teleconferencing, dan lain-lain.
2. Sistem Informasi untuk
Pengambilan Keputusan Manajemen.
Sistem informasi manajemen atau
SIM (management information system) adalah sistem informasi yang dirancang
untuk menyediakan informasi akurat, tepat waktu, dan relevan yang dibutuhkan
untuk pengambilan keputusan oleh para manajer. Konsep SIM adalah meniadakan
pengembangan yang tidak efisien dan penggunaan komputer yang tidak efektif.
Konsep SIM sangat penting untuk sistem informasi yang efektif dan efisien oleh
karena:
Menekankan pada orientasi
manajemen (management orientation) dari pemrosesan informasi pada bisnis yang
bertujuan mendukung pengambilan keputusan manajemen (management decision
making).
Menekankan bahwa kerangka sistem
(system framework) harus digunakan untuk mengatur penggunaan sistem informasi.
Penggunaan sistem informasi pada bisnis harus dilihat sebagai suatu integrasi
dan berhubungan, tidak sebagai proses yang berdiri sendiri.
Secara garis besar SIM terdiri
dari 3 macam yakni:
Information Reporting Systems
Information reporting
systems (IRS) menyediakan informasi produk bagi manajerial end
users untuk membantu mereka dalam pengambilan keputusan dari hari ke hari.
Akses data IRS berisi informasi tentang operasi internal yang telah diproses
sebelumnya oleh transaction processing systems. Informasi produk memberi
gambaran dan laporan yang dapat dilengkapi (1) berdasarkan permintaan, (2)
secara periodik, atau (3) ketika terjadi situasi pengecualian. Sebagai contoh,
manajer penjualan dapat menerima laporan analisa penjualan setiap minggunya
untuk mengevaluasi hasil penjualan produk.
Decision Support Systems
Decision support
systems (DSS) merupakan kemajuan dariinformation reporting
systems dan transaction processing systems. DSS adalah interaktif,
sistem informasi berbasis komputer yang menggunakan model keputusan dan
database khusus untuk membantu proses pengambilan keputusan bagi
manajerial end users. Sebagai contoh, program kertas kerja elektronik
memudahkan manajerial end user menerima respon secara interaktif
untuk peramalan penjualan atau keuntungan.
Executive Information Systems
Executive information
systems (EIS) adalah tipe SIM yang sesuai untuk kebutuhan informasi
strategis bagi manajemen atas. Tujuan dari sistem informasi eksekutif berbasis
komputer adalah menyediakan akses yang mudah dan cepat untuk informasi selektif
tentang faktor-faktor kunci dalam menjalankan tujuan strategis perusahaan bagi
manajemen atas. Jadi EIS harus mudah untuk dioperasikan dan dimengerti
(O’brien, 2000).
3. Sistem Informasi untuk
Keuntungan Strategis
Sistem informasi dapat memainkan
peran yang besar dalam mendukung tujuan strategis dari sebuah perusahaan.
Sebuah perusahaan dapat bertahan dan sukses dalam waktu lama jika perusahaan
itu sukses membangun strategi untuk melawan kekuatan persaingan yang berupa (1)
persaingan dari para pesaing yang berada di industri yang sama, (2) ancaman
dari perusahaan baru, (3) ancaman dari produk pengganti, (4) kekuatan
tawar-menawar dari konsumen, dan (5) kekuatan tawar-menawar dari pemasok.
Kelima faktor tersebut merupakan hal-hal yang harus diperhatikan dalam membangun
upaya peamsaran yang mengarah kepada competitive advantage strategies.
Hubungan kelima faktor tersebut dapat digambarkan seperti pada gambar 2
berikut.
Beberapa strategi bersaing yang
dapat dibangun untuk memenangkan persaingan adalah:
- Cost leadership (keunggulan biaya) –
menjadi produsen produk atau jasa dengan biaya rendah.
- Product differentiation (perbedaan
produk) – mengembangkan cara untuk menghasilkan produk atau jasa yang
berbeda dengan pesaing.
- Innovation – menemukan cara baru untuk
menjalankan usaha, termasuk di dalamnya pengembangan produk baru dan cara
baru dalam memproduksi atau mendistribusi produk dan jasa.
Peran Strategis Untuk Sistem
Informasi
Sistem informasi manajemen (SIM)
dapat menolong perusahaan untuk (1) meningkatkan efisiensi operasional, (2)
memperkenalkan inovasi dalam bisnis, dan (3) membangun sumber-sumber informasi
strategis.
1. Meningkatkan efisiensi
operasional
Investasi di dalam teknologi
sistem informasi dapat menolong operasi perusahaan menjadi lebih efisien.
Efisiensi operasional membuat perusahaan dapat menjalankan strategi keunggulan
biaya (low-cost leadership).
Dengan menanamkan investasi pada
teknologi sistem informasi, perusahaan juga dapat menanamkan rintangan untuk
memasuki industri tersebut (barriers to entry) dengan jalan meningkatkan
besarnya investasi atau kerumitan teknologi yang diperlukan untuk memasuki
persaingan pasar.
Selain itu, cara lain yang dapat
ditempuh adalah mengikat (lock in) konsumen dan pemasok dengan cara membangun
hubungan baru yang lebih bernilai dengan mereka.
2. Memperkenalkan inovasi dalam
bisnis
Penggunaan ATM (automated teller
machine) dalam perbankan merupakan contoh yang baik dari inovasi teknologi
sistem informasi. Dengan adanya ATM, bank-bank besar dapat memperoleh
keuntungan strategis melebihi pesaing mereka yang berlangsung beberapa tahun.
Penekanan utama dalam sistem
informasi strategis adalah membangun biaya pertukaran (switching costs) ke
dalam hubungan antara perusahaan dengan konsumen atau pemasoknya. Sebuah contoh
yang bagus dari hal ini adalah sistem reservasi penerbangan terkomputerisasi
yang ditawarkan kepada agen perjalanan oleh perusahaan penerbangan besar. Bila
sebuah agen perjalanan telah menjalankan sistem reservasi terkomputerisasi
tersebut, maka mereka akan segan utnuk menggunakan sistem reservasi dari
penerbangan lain.
3. Membangun sumber-sumber
informasi strategis
Teknologi sistem informasi
memampukan perusahaan untuk membangun sumber informasi strategis sehingga
mendapat kesempatan dalam keuntungan strategis. Hal ini berarti memperoleh
perangkat keras dan perangkat lunak, mengembangkan jaringan telekomunikasi,
menyewa spesialis sistem informasi, dan melatihend users.
Sistem informasi memungkinkan
perusahaan untuk membuat basis informasi strategis (strategic information base)
yang dapat menyediakan informasi untuk mendukung strategi bersaing perusahaan.
Informasi ini merupakan aset yang sangat berharga dalam meningkatkan operasi
yang efisien dan manajemen yang efektif dari perusahaan. Sebagai contoh, banyak
usaha yang menggunakan informasi berbasis komputer tentang konsumen mereka
untuk membantu merancang kampanye pemasaran untuk menjual produk baru kepada
konsumen.
Sistem Informasi Manajemen
Sistem Informasi
Manajemen
Oleh
: Bayu Pramutoko,SE,MM
PENDAHULUAN
Diskripsi
Singkat:
Mata Kuliah Sistem Informasi Manajemen (SIM) ini
dirancang untuk memberi pengetahuan mendasar kepada mahasiswa tentang philosopy
dan skills yang diperlukan bagi pengembangan dan pemanfaatan sistem informasi
yang berbasis Komputer (computer – based information sistem). Titik berat
pembahasan akan ditekankan pada kecocokan sistem informasi pada kegiatan
organisasi.
Topik-topik yang akan dibahas dalam mata
kuliah ini antara lain mencakup penguasaan konsep dasar basis data (data base),
sistem pendukung keputusan (decision support sistem) dan expert systems.
TujuanMata
Kuliah :
Mata kuliah SIM ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa
tentang bagaimana memanfaatkan sistem informasi sebagai alat bantu dalam proses
pengambilan keputusan manajemen.
BAB 1
PENGANTAR SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
Sebuah
masyarakat yang maju dan berkembang, pada dasarnya tidak akan terlepas dari apa
yang dinamakan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimilikinya. Masyarakat
modern yang berkembang pada era millenium dua ini merupakan masyarakat yang
menikmati fasilitas dari sebuah perkembangan teknologi canggih. Dunia seakan
menjadi sempit dengan teknologi, tidak ada yang mampu disembunyikan pada era
modern sekarang ini. Mautidak mau, setuju tidak setuju kemajuan tekhnologi
telah memasuki urat nadi kehidupan manusia.
Maka
saat ini kita lebih mengenal sebagai sebuah era masyarakat informasi dan
tentunya ada masa dimana masyarakat belum mengenal informasi. Dari hampir semua
lini kehidupan manusia dewasa ini telah menggunakan kecanggihan tekhnologi
informasi, baik pada tingkat individual, kelompok, semua jenis organisasi, pada
tingkat negara, dan bahkan dalam hubungan antar organisasi dan antar negara.
Salah satu produk pekembangan tersebut ialah tumbuhnya disiplin ilmiah baru
yang kini dikenal dengan istilah informatika.
Walaupun terbilang masih baru, namun perkembangannya telah sangat dibutuhkan
hampir semua orang, salah satu kontribusi substansial dan bahkan telah membuka
kesadaran pada perbagai pihak tentang pentingnya informasi sebagai suatu Resource (sumber daya) organisasi
yang strategis.
Tentunya
dalam perkembangannya ada suatu proses dalam masyarakat hingga mencapai sebuah
tahapan sebuah sistem informasi yang sedemikian canggih seperti sekarang ini.
Dibawah ini akan dijelaskan tahapan dan perbandingan perkembangan teknologi
informasi di masyarakat :
Masyarakat Pra –
Informational
è adalah masyarakat yang mengolah informasi
secara “ traditional “ dalam arti tidak menggunakan sarana yang bermuatan
tekhnologi tinggi atau bisa dikatakan “manual sistem “
Masyarakat Informational
è adalah masyarakat yang mengolah berbagai komponen
penanganan informasi dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi atau bisa
dikatakan “ Computerisasi sistem “.
Arti
Penting Perlunyasebuah Sistem Informasi
1.Meningkatnya Kebutuhan masyarakat (konsumen) Tiap hari, terhadap kebutuhan Pokok dan kebutuhan
pelengkap lainnya.
2.Tingkat kecerdasan (kemampuan berfikir)
masyarakat meningkat searah dengan berkembangnya kualitas pendidikan di
masyarakat
3.Kualitas hidup semakin meningkat dan
penuh tantangan.
4.Pekerjaan tidak hanya satu (monoton)
tetapi semakin banyak dan luas wilayahnya.
5.Kecenderungan Manusia Modern mencari
alternatif untuk cadangan masa depan.
6.Orientasi hidup semakin jelas dan
pemahaman managerial semakin tinggi.
7.Persaingan hidup semakin ketat dan
membutuhkan banyak energi.
8.Kualitas pekerjaan (hasil karya) berubah
interprestasinya dan dituntut setiap hasil pekerjaan untuk bisa cepat , cerdas,
akurat dan segera bisa dimanfaatkan.
9.Persaingan dunia Usaha makin keras dengan
adanya pasar bebas dunia.
Contoh : Sebuah Perusahaan rokok. Saat
pertama didirikan manajer hanya mengelola semua sistem perusahaan dengan cara
manual. Namun setelah berkembang dan memerlukan perluasan usaha maka yang
dikelola manajer tidak hanya bagian produksi saja, tetapi bagian:
personalia,material, marketing, keuangan dll. Yang membutuhkan penanganan yang
maksimal dan itu tidak bisa dilakukan dengan hanya mengandalkan satu orang
tetapi karyawan yang banyak dari semua cabang yang ada di seluruh dunia. Maka
pentingnya sebuah pengelolaan informasi pada perusahaan rokok tersebut mutlak
diperlukan.
Menurut McLeod, 1995 ( seorang pakar management ) : Seorang manajer mengelola lima jenis
sumber daya utama yaitu :
1.Manusia
2.Material
3.Mesin (fasilitas dan energi)
4.Uang (capital)
5.Informasi ( data )
è Maka selain mengelola sumber daya fisik,
manajer juga mengelola sumber daya informasi.
èSeorang manajer memastikan bahwa sumber
daya yang diperlukan terkumpul dan kemudian diproses menjadi informasi yang
berguna.
èKemudian seorang manajer memastikan bahwa
orang yang berkompeten dalam organisasilah yang menerima informasi tersebut dan
memanfaatkannya.
è Setelah informasi tersebut tidak lagi
bermanfaat, manajer membuang atau menyimpan (sebagai arsip) informasi tersebut dan menggantinya dengan yang baru.
¯Sehingga
seluruh aktivitas tersebut mulai dari :
è Memperoleh informasi è menggunakannya seefektif mungkin è dan membuangnya/menyimpan pada saat yang
tepat disebut
MANAJEMEN
INFORMASI
¯ Dampak Perubahan Dunia Global
Beberapa tahun
yang lalu sedikit sekali organisasi yang memiliki kepedulian terhadap informasi
termasuk bagaimana memperolehnya, mengelola dan mendistribusikan kedalam
seluruh organisasi. Namun karena adanya perubahan lingkungan bisnis, maka
organisasi bisnis tidak bisa mengabaikan sistem informasi, terdapat kekuatan
yang menjadi pendorong perubahan tersebut :
1.Perubahan ekonomi secara Global ( the emergence and strengthening of the
global economy) sehingga
terjadi :
a.Manajemen dan pengendalian pada berbagai
tempat dibanyak negara.
b.Tingkat persaingan di pasar dunia
c.Unit-unit usaha yang berada di lintas negara
d.Sistem pengiriman produk antar negara.
2.Perubahan ekonomi industrial è elemen penting yang sangat berpengaruh
terhadap perubahan ekonomi adalah :
a.Pengetahuan dan informasi yang didasarkan
atas nilai ekonomi.
b.Produktivitas
c.Produk dan jasa-jasa baru
d.Kepemimpinan
e.Persaingan berdasarkan waktu
f.Siklus hidup produk yang lebih pendek
g.Basis pengetahuan karyawan yang terbatas.
3. Perubahan Lingkungan
Bisnis juga berpengaruh pada cara mengorganisir dan mengelola Perusahaan,
sehingga dengan Teknologi informasi cara menciptakan nilai (hasil produksi barang dan jasa) juga berubah.
PadaPerusahaan
Tradisional umumnya :
1.Hirarki (jabatan yang berurutan)
2.Sentralistis
3.Pengelolaan struktur yang ditandai dengan
prosedur operasi standart.
è Perubahanya pada Perusahaan :
a.struktur organisasi yang mendatar
b.Desentralisasi
c.Fleksibilitas
d.Kebebasan lokasi
e.Biaya transaksi dan koordinasi yang
rendah
f.Pemberdayaan
g.Kerjasama team.
ýSISTEM INFORMASI
:Sistem Informasi adalah seperangkat
komponen yang saling berhubungan, dan yang berfungsi mengumpulkan, memproses,
menyimpan dan mendistribusikan informasi untuk mendukung pembuatan keputusan
dan pengawasan dalam organisasi.
: Informasi adalah data yang telah diolah
menjadi suatu bentuk yang mempunyai arti dan bermanfaat bagi manusia.
: Data adalah aliran fakta-fakta mentah yang
menunjukkan peristiwa yang terjadi dalam organisasi dan lingkungan fisik
sebelum diorganisir dan ditata menjadi bentuk yang bisa difahami dan digunakan.
Terdapat tiga Aktivitas
pada Sistem Infromasi :
1.Input è adalah sekumpulan data mentah dalam
organisasi maupun di luar organisasi untuk diproses dalam suatu sistem ekonomi.
2.Processing è adalah konversi/pemindahan, manipulasi dan
analisis input mentah menjadi bentuk yang lebih berarti bagi manusia.
3.Output è adalah distribusi informasi yang sudah
diproses ke anggota organisasi dimana output tersebut akan digunakan.
PERSPEKTIF
BISNIS DALAM SISTEM INFORMASI :
Sistem Informasi terdapat dalam ruang lingkup :
1.ORGANISASIè Terdapat tiga elemen kunci yaitu : Orang,
Struktur dan prosedur,politik dan kultur.
a.Orang Ø orang
yang ahli pada bidangnya dipekerjakan dan dilatih untuk berbagai fungsi :
termasuk penjualan dan pemasaran, manufaktur, keuangan, akuntansi, dan
sumberdaya manusia.
b.Struktur dan prosedur Ø Struktur mengacu pada pembagian tugas menurut keahlian orang di
setiap bagiannya. Suatu organisasi mengkoordinasi kerja melalui hierarki yang
tersruktur, formal, dan prosedur operasional yang standart.
c.Politik dan kultur Ø Tingkatan dan keahlian yang berbeda dalam
organisasi menimbulkan kepentingan dan sudut pandang yang berbeda pula. Hal ini
seing menimbulkan konflik. Konflik juga merupakan dasar bagi politik
organisasi. Sistem informasi muncul dengan berbagai perspektif, konflik,
kompromi dan persetujuan yang semuanya ini merupakan sifat-sifat dari
organisasi.
2.MANAJEMEN è manajemen menyelesaikan masalah-masalah
bisnis dalam lingkungan bisnis, mereka membuat strategi organisasi untuk
merespon, dan mereka mengalokasikan sumberdaya manusia dan keuangan untuk mencapai
strategi dan mengkoordinasikan pekerjaan. Mereka juga harus melatih
kepemimpinan yang bertanggung jawab.
3.TEKNOLOGI è teknologi informasi adalahsatu alat bagi manajer
untuk menyesuaikan diri dengan lingkangan usahannya. Teknologi yang dimaksud misalnya
perangkat keras komputer yang digunakan untuk membantu aktivitas : input, processing dan output dalam suatu
sistem informasi.
ýSISTEM INFORMASIDALAM ORGANISASI
Keterangan Gambar :
1.Sistem Informasi pada
Tingkat Operasional yakni sistem informasi yang memonitor aktivitas mendasar
dan transaksi dari organisasi. Misal Kegiatan penjualan,penerimaan kas
penjualan. Tabungan, gaji keputusan kredit, dan aliran bahan baku suatu pabrik.
2.Sistem Informasi pada
Tingkat Pengetahuan yakni sistem informasi yang mendukung pekerja pengetahuan
dan data dalam suatu organisasi. Tujuannya adalah membantu organisasi
mengontrol aliran kertas kerja.
3.Sistem Informasi pada
Tingkat Manjemen yakni sistem informasi yang mendukung monitoring, pengawasan,
pembuatan keputusan, dan aktivitas administratif manajer.
4.Sistem Informasi pada
Tingkat Strategis yakni sistem informasi yang mendukung kegiatan perencanaan
jangka panjang dari manajemen puncak. Perhatian utama dari sistem ini adalah
menyesuaikan perubahan pada lingkungan eksternal.
Pengaruh Perkembangan Teknologi Informasi :
1.Tahun 1980-an telah
terjadi revolusi pengolahan data, otomatisasi kantor, telekomunikasi, dan
aplikasi lainnya dalam teknologi informasi yang digunakan dan berpengaruh
langsung pada kinerja perusahaan besar maupun kecil.
2.Tahun 1990-an banyak
organisasi yang menerapkan teknologi informasi hampir pada setiap peningkatan
kinerja perusahaan dalam pengawasan manajerialnya. Contoh : Mesin scanning
untuk harga produk pada pasar swalayan/supermarket, ATM (outomatic teller machine/ anjung
tunai mandiri) sebuah
mesin transaksi pengambilan uang tunai perbankan langsung secara langsung.
3.Selanjutnya pada
tahun-tahun berikutnya perkembangan ide mendesain sebuah sistem informasi kian
meningkat pesat seperti pada stasiun radio, stasiun televisi dan surat kabar.
Juga pada media telekomunikasi hand phone dengan fasilitas yang kian canggih
dengan permance menarik dan kecil, tetapi bisa mengakses internet dan hubungan
telebanking sistem.
4.Kesempatan penerapan
sistem informasi telah membawa penggunaan teknologi yang lebih besar daripada
sebelumnya. Karena dihadapkan pada permintaan jasa yang berkembang, kebanyakan
departemen sistem informasi telah melakukan perubahan dramastis dengan dukungan
teknologi. Perubahan-perubahan tersebut diantaranya :
a.Penurunan waktu
pengembangan produk dan biaya pemanufacturan, tehnik yang biasa digunakan MAP
(manufacturing automatic protocol) dan CIM (Computer intgrated manufacturing
b.Jasa perbankan
cross-selling
c.Perbaikan sistem
perdagangan eceran
d.Peningkatan akses
informasi pelanggan
e.Memungkinkan pencatatan
otomatis
f.Mengintegrasikan semua
fungsi nilai tambah
g.Kontribusi terhadap
persaingan secara keseluruhan.
BAB 2
KOMPONEN DAN STRUKTUR
SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
* Batch
Procesing (Proses Pengelompokan)
FPada tahap awal perkembangan komputer
, semua pemrosesan komputer berdasarkan batch-nya (Kelompoknya). Tehnisnya
organisasi mengumpulkan tumpukan
traksaksi lalu diolah pada suatu waktu, kemudian dicatat kedalam media computer
yang dapat dibaca, seperti pita magnetik. Selanjutnya secara fisik dibawa
kepusat Komputer dan seluruh persedian diperbaharui melalui pemrosesan dimana
tumpukan data harian ditambah master file persediaan komputer. Baru setelah itu
menghasilkan laporan.
* On –
line sistem
FDengan
maksud menghindari kelambatan waktu dalam pemrosesan sistem Batch, dengan
sistem on-line setiap transaksi dimasukkan langsung ke Komputer ketika terjadi
transaksi.
Bidang
Aplikasi Pendukung Manajemen :
1.Transaction
Procesing System► Sistem pemrosesan transaction, sistem ini memprose
ribuan transaksi yang terjadi di organisasi setiap hari : penjualan,
pembayaran, penerimaan, mengiriman dan penerimaan barang, sewa beli dll
2.Decision Support
System (DSS)► adalah sistem yang berbasis komputer,
biasanya bersifat interaktif, dirancang untuk membantu manajer atau membuat
keputusan yang lain. DSS memasukkan baik data atau model untukmembantu pembuat
keputusan dalam mengatasi masalah, khususnya masalah yang tidak terstruktur.
3.Group Decision
Support System (GSS) ► sistem dirangcang untuk
mendukung suatu kelompok tidak hanya individu sistem ini disebut GSS (Group
Decision Support System) atau Electronik Meeting System (EMS) yang bertujuan
untuk memberi keuntungan kekuatan bagi kelompok organisasi dalam membuat
keputusan yang lebih baik dibandingkan dengan keputusan yang dibuat sendiri.
4.Geographic
Information System (GIS) ► adalah suatu sistem berbasis komputer yang dirancang untuk
mengumpulkan, menyimpan, mengambil, memanipulasi dan menampilkan data tempat
(spatial data). GIS menghubungkan data ke peta yang ada dalam komputer sehingga
karakteristik tempat dari data bisa dihimpun dengan mudah. GIS seringkali
berfungsi sebagai DSS untuk menjalankan tugas penyeleksian tempat restauran fas
food dan penetapan rute pengiriman barang.
5.Exccutive
Information System (EIS) ► Konsep kunci dari sistem ini adalah mampu mengirim informasi terbaru
tentang keadaan bisnis langsung pada eksekutif puncak. EIS didesain untuk
digunakan secara langsung oleh manajer puncak tanpa bantuan perantara. EIS
menggunakan tampilan grafik, komunikasi, dan metode penyimpanan data untuk
memudahkan para eksekutif dalam mengakses secara on-line informasi terbaru
tentang keadaan organisasi yang dipimpinnya.
Bidang Aplikasi
Pendukung Fungsional :
1.Office Automation► Otomasi
kantor melibatkan seperangkatfungsi yang saling berhubungan dan dapat
diintegrasikan dalam sistem tunggal. Fungsi-fungsi yang biasa dipakai adalah
electronic mail, word processing, pengopian, penyimpanan dokumen, voice mail,
desktop publishing.
2.Factory Automation
►melibatkan seperangkat mesin-mesing yang terkontrol secara numerik (numericsal
controlled machines) yang menggunakan program komputer untuk mengawasi jalannya
mesin-mesin canggih.
3.Computer Integrated
Manufacturing (CIM) ► sistem yang menghubungkan MRP dan mesin yang dikontrol
dengan angka (numerik) memungkinkan tidak hanya membuat jadwa,tapi mengawasi
berbagai mesin yang sedang bekerja.
Bidang Aplikasi
Berbasis Teknologi :
1.Aftificial Intelligence
(AI) ► Ide AI sendiri berdasarkan pemikiran bahwa bagaimana membuat komputer
melakukan pekerjaan lebih baik dari yang dilakukan manusia. Sistem AI ini
meliputi bahasa Natural, robot, sistem penglihatan dan pendengaran, sistem pakar,
dan jaringan neural .
a.Bahasa Naturalð ditujukan untuk menghasilkan sistem yang
mampu menerjemahkan instruksi manusia ke dalam suatu bahasa yang memungkinkan
komputer memahami dan melaksanakannya.
b.sistem penglihatan dan
pendengaran ð melibatkan pembuatan mesin yang memiliki
kemampuan melihat atau bicara (atau keduanya) yang mempengaruhi prilaku dasar
mereka.
c.Sistem pakar ð (Expert Sistem) berkaitan dengan sistem
bangunan yang memasukkan pembuatan keputusan yang logis dari seorang ahli
manusia.
d.Jaringan Neural ð yakni sistem terbaru yang mempelajari
bagimana sistem nervous bekerja.
2.Virtual Reality ► sistem
yang mengacu pada penggunaan sistem berbasis komputer yang menciptakan suatu
lingkungan yang tampak nyata terhadap satu atau lebih sensor dari pengguna.
3.Bidang Aplikasi Berbasis
Rancang Bangun ►
a.Distibuted System ð adalah sistem dimana komputer dari
beberapa ukuran diletakkan diberbagai tempatsuatu organisasi menjalankan
aktivitas bisnisnya (kantor pusat,pabrik,toko,gudang,bangunan kantor) dan
komputer tersebut dengan jalur telekomunikasi agar mampu menyokong proses
bisnis.
b.Keuntunngan :
1.Pelayanan dan respon yang
meningkat terhadap pengguna lokal
2.Perilaku yang membaik
karena melibatkan orang dalam (lokal)
3.Kemampuan untuk
mengadaptasi struktur organisasi
4.Kemampuan mengelola yang
meningkat karena bagian-bagian sistemnya lebih kecil.
5.Biaya penghitungan yang
berkurang.
c.Kelemahan:
1.Sangat tergantung pada
jalur telkomunikasi
2.Menggunakan teknologi yang
relatif baru dan kurang dipahami dengan baik.
3.Resiko pengamanan yang
lebih besar karena mudah untuk diakses oleh orang lain
4.Tempat-tempat di dalam
yang mungkin berbeda standarnya.
5.Membutuhkan koordinasi
yang lebih besar.
6.Biaya komunikasi yang
meningkat.
d.Client.Server system ð adalah sistempemrosesan yang
didistribusikan antara komputer server pusat, seperti minicomputer atau
workstation, dengan jumlah komputer klien, yang biasanya dalam bentuk
microkomputer destop.
BAB 3
Sistem Informasi Dan Organisasi
1. PENGERTIAN ORGANISASI
“ Organisasi
yaitu kumpulan orang – orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan yang
dilakukan berdasar atas suatu aturan tertentu dan penjabaran fungsi pekerjaan
secara formal serta memiliki struktur formal, stabil yang membutuhkan
sumberdaya dari lingkungan dan memprosesnya untuk menghasilkan output/keluaran
yang maksimal “.
2. Tujuan
a.Secara umum è Agar proses pekerjaan tercapai dengan cara
diatur, disusun sehingga seluruh pekerjaan dapat diselesaikan secara efektif
dan efisien.
b.Secara khusus
1.Bidang
agama> meningkatkan pendidikan moral dan iman.
2.Bidang
sosial>kemanusiaan
3.Bidang ekonomi
> mencari laba
4.Bidang
politik> mencari kekuasaan
3.Manfaat
Agar pelaksanaan tugas dilakukan lebih baik
terkoordinir dan tujuan serta jalannya pekerjaan tercapai secara efektif dan
efisien.
4. Asas / prinsip organisasi
a.Asas / prinsip
perumusan dan penentuan tujuan
b.Asas / prinsip
pembagian kerja
c.Asas / prinsip
pendelegasian wewenang
d.Asas / prinsip
organisasi
e.Asas / prinsip
efisiensi sederhana
f.Asas / prinsip
pengawasan umum
5. Struktur Organisasi
a.Struktur
Organisasi Garis è Digunakan pada
perusahaan / lembaga yang sederhana / kecil
b.Struktur
Organisasi Fungsionalè
Susunan organisasi yang memberikan gambaran pembagian tugas dan wewenang
menurut fungsi pekerjaan
c.Organisasi
membutuhkan sistem informasi, agar tujuan dan kepentingan organisasi dapat
tercapai.
d.Sebuah Sistem
Informasi agar berhasil dengan baik, maka kita harus mengenali organisasi dan
berupaya mencari bentuk sistem informasi yang paling sesuai.
Mengapa Perilaku Organisasi Penting Untuk Dipelajari ?
Organisasi
seperti halnya manusia dapat diidentifikasi dari perilakunya. Perilaku Tersebut
dapat positif ataupun negatif. Banyak definisi tentang perilaku organisasi.
Menurut Gibson (1996) perilaku Organisasi adalah sebagai penelaahan perilaku,
sikap, dan prestasi manusia di dalam suatu kerangka organisasi, penggunaan
teori, metode dan prinsip-prinsip dari berbagai disiplin ilmu seperti :
psikologi, sosiologi dan antropologi budaya untuk mempelajari persepsi
nilai-nilai, kapasitas belajar dan tindakan-tindakan individu ketika bekerja
didalam kelompok dan didalam organisasi secara keseluruhan, penganalisisan
dampak lingkungan luar atas organisasi dan sumber daya manusia, misi, tujuan,
dan strateginya. Perilaku Organisasi adalah juga merupakan :
1.Cara berfikir, perilaku
yang berada pada diri individu, kelompok dan tingkat organisasi.
2.Perilaku adalah
multidisiplin, yang menggunakan prinsip, model, teori, dan metode-metode
disiplin lain. Perilaku organisasi adalah bidang yang terus tumbuh dan
berkembang dalam kedudukan dan pengaruhnya.
3.Adanya Orientasi
Humanistik (humanistik Orientation)yang jelas dalam prilaku organisasi.ð Manusia dan prilaku
mereka, persepsi, kapasitas pembelajaran, perasaan dan sasaran merupakan hal
penting bagi perusahaan/organisasi.
4.Perilaku Organisasi
berorientasi pada Kinerja, menyangkut sebab kinerja rendah atau tinggi dan
bagamana cara meningkatkan kinerja.
5.Lingkungan eksternal
memberikan dampak signifikan terhadap prilaku organisasi.
6.Karena bidang prilaku
organisasi sangat tergantung dari disiplin yang dikenal, maka metode ilmiah
menjadi penting dalam mempelajari variabel dan keterkaitan.
Organisasi Merupakan Sistem
sosial:
hubungan antar individu dan kelompokdalam suatu organisasi
menciptakan harapan bagi prilaku individu. Harapan ini diwujudnya dalam
peran-peran tertentu yang harus dihasilkan. Orang harus memainkan peran seorang
pemimpin, Sementara yang lainnya sebagai yang dipimpin. Manager menengah,
karena mempunyai atasan dan bawahan, harus memainkan dua peran diatas.
Organisasi memiliki kewenangan, status dan kekuasaan dan manusia dalam
organisasi mempunyai beragam kebutuhan dari masing-masing sistem. Kelompok
didalam organisasi juga mempunyai pengaruh yang kuat atas prilaku individu dan
kinerja organisasi.
Struktur dan Desain Organisasi
Untuk bekerja
secara efektif, manajer harus secara jelas memahami struktur organisasi.
Struktur organisasi adalah pola formal aktivitas dan hubungan antara berbagai
subunit organisasi. Didalamnya terkait dengan :
1.Desain
Pekerjaan ý Desain
Pekerjaan dihubungkan pada proses dimana manajer menspesifikasikan isi, metode
dan hubungan pekerjaan untuk memenuhi kepentingan organisasi dan individu, dan
harus bisa menjelaskan isi dan tugas serta posisi pimpinan unit dan hubungan
posisi masing-masing anggota team.
2.Desain
Organisasi ýBerkaitan
dengan struktur organisasi secara keseluruhan dan berencana mengubah filosofi
dan orientasi team. Usaha ini akan memberikan suatu struktur baru dari tugas,
wewenang, dan hubungan antar personel yang dipercayainya akan menghubungkan
perilaku individu dan kelompok dalam meningkatkan kinerja mutu.
3.Proses
Organisasi : memberikan
kehidupan terhadap struktur organisasi. Jika proses ini tidak berfungsi dengan
baik, masalah yang tidak diinginkan akan berkembang.
4.Komunikasi
: kelangsungan
organisasi tergantung dari kemampuan manajemen menerima, meneruskan dan
bertindak atas informasi. Proses komunikasi menggabungkan organisasi dengan
lingkungan, demikian juga sebaliknya. Informasi mengalir dan dari organisasi
serta di dalam organisasi. Informasi akan menyatukan aktivitas dalam
organisasi.
5.Pengambilan
Keputusan : Mutu pengambilan
keputusan di suatu organisasi tergantung atas pemilihan sasaran yang tepat dan
mengidentifikasi cara untuk mencapainya. Dengan integrasi yang baik antara
faktor prilaku dan struktur, manajemen dapat meningkatkan kemungkinan
tercapainya keputusan yang bermutu tinggi. Organisasi akan sangat tergantung
pada keputusan individu maupun keputusan kelompok. manajemen yang efektif
membutuhkan pengetahuaan dan kedua tipe keputusan tersebut.
6.Karakteristik Struktur Organisasi
tersebut adalah :
a.Pembagian tugas yang jelas
b.Hirarki
c.Aturan dan prosedur yang jelas
d.Pertimbangan yang tidak terpisah-pisah
(Impartial judgements)
e.Kualifikasi posisi tehnis
f.Efisiensi organisasi yang maksimum
7.Organisasi mempengaruhi
sistem informasi :
a.Karena
organisasi akan berpengaruh terhadap sistem informasi melalui
keputusan-keputusan yang dibuat oleh manajer dan karyawan. Manajer membuat
keputusan tentang desain sistem. Mereka juga menggunakan teknologi informasi.
b.Sistem informasi
mampu mengubah cara hidup suatu organisasi. Beberapa sistem informasi mengubah
keseimbangan hak, priviliges, kewajiban, pertanggungjawaban dan perasaan yang
telah terbangun sekian lama pada suatu organisasi.
8.Teknologi Komputer
memiliki kemiripan dengan tekhnologi yang lain termasuk didalamnya salah
satunya,
9.teknologi Otomotif : Masyarakat
membutuhkan jalan bebas hambatan, mechanic (ahli mesin), pompa bensin, desainer
mesin, polisi dan produsen spare part.
10.Membangun sebuah sistem
informasi dalam organisasi : Manajer
mempunyai alasan yang rasional baik menyangkut umum ataupun khusus. Alasan yang
paling pokok bagi manajer untuk memilih menggunakan sistem adalah untuk
mencapai alasan-alasan ekonomi, menyediakan pelayanan yang baik. Dampak
komputerisasi terhadap organisasi tergantung dari bagian dan bagaimana manajer
membuat keputusan.
Gambar 7
11.SISTEM INFORMASI
MEMPENGARUHI ORGANISASI
a.Pada Teori Ekonomi dan Teori Ekonomi
Mikro, dimana membicarakan keterlibatan sejumlah besar perusahaan di suatu
negara dan negara lain dalam skala bahasan ekonomi mikro dan makro dengan
segala aspek perdagangan dalam lingkup negara dan international. Maka dengan
demikian dalm teori ekonomi mikro teknologi informasi semestinya menghasilkan
keikutsertaan sejumlah manajer menengah dan pekerja khusus yang lebih sedikit
yaitu pada saat teknologi informasi menggantikan tenaga kerja manusia.
b.Teori Biaya Transaksi : teknologi
informasi dapat membantu perusahaan dalam menurunkan biaya transaksi, dan
membuatnya lebih bernilai bagi perusahaan untuk melakukan kontrak dengan
pemasok luar daripada menggunakan sumber-sumber penawaran dari luar.
c.Teori Agensi : teknologi informasi
memungkinkan bagi organisasi untuk mengurangi keseluruhan biaya manajemen dan
memungkinkan untuk meningkatkan revenues, sementara manajemen menengah dan
pekerjaan-pekerjaan klerikal dapat dikurangi.
d.Teori Prilaku : Karena teknologi
informasi digunakan untuk mempromosikan nilai-nilai dan keinginan organisasi.
Pengaruh teknologi informasi adalah sebuah refleksi dari apa yang diorencanakan
atau diinginkan organisasi dan perancang sistem. Dalam model prilaku
perusahaan, pengaruh sistem informasi tidaklah sesederhana dan langsung seperti
model ekonomi.
e.Teori keputusan dan pengawasan : Fungsi
organisasi adalah membuat keputusan dibawah kondisi yang tidak pasti dan
beresiko serta tetap berada dibawah batasan rasionalitas.
√Maka seorang manajer
senior memungkinkan dapat menggunakan teknologi infromasiuntuk berhubungan
langsung dengan unit operasi tingkat bawah melalui jaringan telekomunikasi
maupun komputer LAN dan meniadakan manajer perantara tingkat menengah. Secara
alternative tekonologi informasi dapat mendistribusikan informasi kepada
pekerja level bawah, yang selanjutnya dapat membuat keputusan-keputusannya
berdasarkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tanpa intervensi manajemen.
f.Teori Sosiologi :
Oligarchi dan Rutin
Teori sosiologi memfokuskan pada pertumbuhan hirarki, sruktur
birokrasi dan prosedur operasi standart sebagai alat utama bagi organisasi
dalam rangka menghadapi lingkungan yang tidak stabil.
√ Dewasa ini beberapa
organisasi teleh merubah dan mendistribusikan otoritasnya dari kantor pusat,
mengurangi staff, dan menempatkan lebih banyak kekuasaan pada para manajer
divisi dan manajer perusahaan pada tingkat lokal.Namun organisasi yang lain
secara sadar mencari dan mengumpulkan informasi dari unit-unit operasi dalam
jumlah besar. Manajer membuat keputusan berdasarkan interes yang dimiliki.
g.Teori Post-industrial :
bentuk dan struktur yang bermuatan Pengetahuan.
√ Dalam masyarakat paska
industri, yaitu ekonomi paska industri tahun 1960-an. Sektor pelayanan
mendominasi aktivitas perekonomian. Sektor pelayanan itu sendiri sangat
mengutamakan knowledge worker(ilmuan, ahli tehnik, dan bahkan manajer) dan data
worker seperti sekretaris, akuntan atau sales people. Dalam masyarakat paska
ekonomi industri global, industri manufaktur dipindahkan kenegara-negara
berupah rendah dan high skill, sementara pekerjaan berbasis pengetahuan
(knowledge based) tumbuh dengan cepat di negara-negara maju dengan upah yang
tinggi.
h.Teori Budaya : Teknologi
Informasi dan Asumsi Dasar.
√ Teknologi informasi dapat
mengancam atau mendukung budaya sebuah organisasi. Berkembangnya teknologi
komputer mikro mengancam manufaktur komputer mainframe dan para pelanggannya.
Sebaliknya, Teknologi informasi dapat mendukung budaya dalam organisasi,
sebagaimana yang terjadi dalam industri asuransi yang menggunakan teknologi
komputer untuk menekan cost. Khususnya dalam memproses klaim.
i.Teori Politik :
Teknologi Informasi sebagi sumber daya Politik
√ Organisasi dibagi ke dalam
sub-sub kelompok fungsional sepertipemasaran, akuntasi, dan produksi.
Kelompok-kelompok inimempunyai nilai (value) yang berbeda dan mereka bersaing
untuk mendapatkan resources, membuat kompetisi dan konflik. Teori politik
menggambarkan sistem informasi sebagai outcome dari persaingan politik antar
sub-sub kelompok untuk mempengaruhi kebijakan, prosedur, dan resources
organisasi.
Faktor – Faktor yang perlu dipertimbangkan pada
rencana-rencana sistem, Yaitu :
1.Lingkungan dimana
organisasi harus melakukan fungsi
2.Struktur organisasi,
Hirarki, spesialisasi, standart prosedur operasi
3.Budaya dan politik
organisasi
4.Tipe organisasi
5.Kemampuan mendukung dan
memahami top manajemen
6.Level organisasi dimana
sistem diadakan
7.Kelompok kepentingan
utama yang dipengaruhi sistem
8.Jenis tugas dan
keputusan dalam mana sistem informasi didesain
9.Sentimen dan sikap
karyawan dalam organisasi yang akan menggunakan sistem informasi
10.Riwayat organisasi:
investasi dalam bidang teknologi informasi yang telah dilakukan skill yang
dimiliki, program-program penting, dan sumber daya manusia.
Konsep Dasar Sistem
Terdapat
2 kelompok pendekatan yang digunakan dalam mendefinisikan sistem, yaitu :
1. Lebih menekankan
pada prosedur yang digunakan dalam sistem dan mendefinisikan sistem sebagai
jaringan prosedur, metode, dan cara kerja yang saling berinteraksi dan
dilakukan untuk pencapaian suatu tujuan tertentu.
2. Lebih menekankan
pada elemen atau komponen penyusun sistem, mendefinisikan sebagai kumpulan
elemen baik abstrak maupun fisik yang saling berinteraksi untuk mencapai tujuan
tertentu.
Kedua definisi di atas sama benarnya dan
tidak saling bertentangan. Yang berbeda hanyalah cara pendekatan yang dilakukan
pada sistem. Karena pada hakekatnya setiap komponen sistem, untuk dapat saling
berinteraksi dan untuk dapat mencapai tujuan tertentu harus melakukan sejumlah
prosedur, metode, dan cara kerja yang juga saling berinteraksi. Beberapa
karakteristik sistem informasi adalah sasaran, sumber daya, jaringan
komunikasi, konversi data, masukan data, keluaran informasi, dan
pengguna-pengguna informasi.
2.1.1 Sasaran
Setiap sistem berupaya mencapai satu atau
lebih sasaran : artinya, sasaran merupakan kekuatan pemotivasi yang mengarahkan
suatu system.
2.1.2 Masukan – Proses – Keluaran
Masukan terdiri dari semua arus berwujud
(tangible) yang masuk ke dalam sistem di samping juga dampak tak berwujud
(intangible) terhadap sistem. Keluaran terdiri dari semua arus keluar atau
hasil. Dan proses terdiri dari metode yang digunakan untuk mengubah masukan
menjadi keluaran.
Mekanisme kerja dalam suatu sistem dijelaskan dalam
gambar berikut :
Gambar 8
Gambar 2.1 Mekanisme Kerja Sistem
Sasaran sistem mempengaruhi dan sering mengendalikan
konten masukan menjadi keluaran.
2.1.3 Lingkungan
Setiap sistem (barangkali kecuali sistem
jagad raya) secara fisik terbatas. Alam yang terletak di luar suatu sistem
dinamai lingkungan sistem. Suatu batas sistem memisahkan sistem itu dengan
lingkungannya. Walaupun batas-batas sistem tertentu tidak kelihatan dan mungkin
sukar ditetapkan secara pasti, setiap sistem pasti dibatasi oleh batas-batas
tertentu.
2.1.4 Saling Kebergantungan
Setiap sistem mempunyai saling
kebergantungan. Selain memiliki subsistem-subsistem yang erat berkaitan, suatu
sistem pada dasarnya merupakan bagian integral dari sistem lain yang lebih
besar. Hubungan antara subsistem dengan sistem dan dengan supersistem dinamai
hirarki sistem.
2.1.5 Jaringan Kerja Sistem
Jaringan kerja sistem menggambarkan macam
saling kebergantungan yang lain. Jaringan kerja (network) terbentuk bilamana
sebuah sistem digabungkan dengan sistem lain yang tingkat hirarkinya sama.
Sistem-sistem yang membentuk jaringan kerja berinteraksi satu sama lain melalui
penghubung (kopling/coupling) atau batas bersama (shared boundaries) yang
dinamakan antarmuka (interfaces). Antarmuka ini memungkinkan sumber daya
mengalir di antara sistem-sistem yang berinteraksi.
Subsistem-subsistem yang saling bergantung
dalam suatu sistem tunggal juga membentuk jaringan kerja, karena mereka saling
berhubungan. Sumber daya mengalir di antara subsistem-subsistem, dengan
keluaran dari satu subsistem menjadi masukan bagi subsistem lain yang
berantarmuka.
Konsep saling kebergantungan sistem ini
berguna dalam studi sistem informasi. Konsep ini mengingatkan analis bahwa
sebuah sistem atau subsistem tidak boleh dilihat secara terpisah dari sistem
atau subsistem lain yang terkait dengannya. Konsep ini juga mengatakan bahwa
analis dapat berpindah ke tingkat sistem yang lebih rendah hirarkinya guna
menyempitkan cakupan analisis.
2.1.6 Kendala
Setiap sistem menghadapi kendala,
batasan-batasan intern atau ekstern yang menentukan konfigurasi atau kemampuan
sistem. Batas / boundary sistem, misalnya, merupakan kendala fisik yang
menentukan ukuran dan bentuk sistem. Dalam beberapa keadaan kendala dapat
dihilangkan atau dikurangi. Cara yang biasa digunakan untuk engurangi kendala
yang mempengaruhi operasi dikenal dengan dekopling (decoupling).
2.1.7 Pengendalian Sebagai Konsep Inti
Sistem
Pengendalian dapat dianggap sebagai
konsepsi inti sistem, karena faktor inilah yang menjiwai ide pokok dari
pengembangan sebuah sistem dan sekaligus juga merupakan manifestasi nyata dari
tiap sistem. Sistem-sistem dibentuk secara langsung atau tidak, untuk melakukan
pengendalian, misal :
· Pemerintah dibentuk untuk menentukan apa
yang boleh dilakukan dalam masing-masing yuridiksinya.
· Sistem kardiovaskuler bertanggung jawab
untuk mengontrol aliran darah dan pendistribusian oksigen dalam tubuh.
Pengendalian bisa berarti menciptakan atau
memelihari nilai atau karakteristik suatu variabel agar selalu berada dalam
batas yang telah ditentukan. Melakukan pengendalian berarti menyebabkan segala
sesuatu berjalan sesuai keinginan atau rencana sehingga suatu tujuan akhir bisa
tercapai. Setiap sistem harus mengatur subsistem-subsistemnya agar dapat
mencapai sasaran. Pengendalian adalah proses regulasi (pengaturan) yang
dilakukan sistem untuk mengoreksi setiap penyimpangan dari rangkaian langkah
menuju sasaran yang diinginkan. Pengendalian anggaran, pengendalian mutu,
pengendalian kredit, dan pengendalian sediaan, merupakan proses-proses
pengendalian yang biasa dilakukan perusahaan.
Pengendalian yang efektif tergantung pada
umpan balik. Melalui umpan balik, keluaran sistem dukur terhadap standar untuk
menentukan penyimpangan, yang kemudian dikoreksi dengan mengubah masukan atau
proses. Pengendalian yang efektif dalam konteks suatu sistem juga ditegaskan
dengan kaidah keragaman keperalihan (law of requisite Variety). Menurut kaidah
ini, sistem yang baik harus memiliki satu atau lebih mekanisme atau variasi
pengendalian untuk menanggulangi setiap kemungkinan keadaan lepas kendali.
2.2 Konsep Dasar Informasi
Informasi dibutuhkan oleh manajemen untuk
menghindari proses enthropi. Proses enthropi adalah proses berakhirnya
keberadaan suatu sistem manajemen yang didahului kondisi tanpa pola dan tidak
menentu. Informasi adalah hasil pengolahan data yang dapat digunakan sebagai
dasar pengambilan keputusan. Data sebagai bahan baku informasi adalah gambaran
kejadian yang berwujud karakter, angka, atau simbol tertentu yang memiliki
arti.
2.2.1 Siklus Informasi
Data merupakan bentuk yang masih mentah
yang belum dapat berbicara banyak, sehingga perlu diolah lebih lanjut. Data
yang diolah melalui suatu model menjadi informasi, penerima kemudian menerima
informasi tersebut, membuat suatu keputusan dan melakukan tindakan, yang
berarti menghasilkan tindakan lain yang akan membuat sejumlah data kembali.
Data yang ditangkap dianggap sebagai input, diproses kembali melalui model dan
seterusnya membentuk suatu siklus. Menurut John Burch dan Gary Grudnitski,
(“Information Systems Theory and Practice”, John Wiley and Sons, New York 1986)
siklus ini disebut dengan Siklus Informasi (Information Cycle) atau Siklus
Pengolahan Data ( Data Processing Cycle).
Gambar 9
Gambar 2.2 Siklus informasi
2.2.2 Kualitas Informasi
Agar informasi dapat mempunyai manfaat
dalam proses pengambilan keputusan, informasi harus mempunyai kualitas dan
nilai. Kriteria kualitas informasi adalah :
§ Akurat : yang berarti informasi harus
tidak bias atau menyesatkan dan bebas dari kesalahan.
§ Tepat waktu : yang berarti informasi yang
sampai kepada penerima tidak boleh terlambat. Mahalnya nilai informasi saat ini
adalah karena harus cepatnya informasi tersebut didapatkan, sehingga diperlukan
teknologi mutakhir untuk mendapatkan, mengolah, dan mengirimkan.
§ Relevan : yang berarti informasi harus
mempunyai manfaat bagi pihak yang menerimanya.
2.2.3 Konsep Umpan Balik Informasi
Konsep umpan balik informasi menjelaskan
perihal pencarian sasaran dan saling mempengaruhi antar bagian sistem yang
mengkoreksi dengan sendirinya. Pada dasarnya konsep umpan balik ini berkaitan
dengan cara informasi digunakan untuk maksud pengendalian. Pengendalian sebagai
konsepsi inti sistem sangat membutuhkan umpan balik informasi. Informasi
tentang mekanisme sistem atau input sistem jika perlu, untuk menjaga agar
sistem bekerja sesuai dengan rencana pencapaian sistem.
2.2.4 Pendekatan Sistem Dalam Pertukaran
Informasi
Pendekatan sistem adalah suatu gagasan yang
bersumber pada paham sinergistik yang menyatakan bahwa total keluaran suatu
organisasi dapat ditingkatkan jika bagian-bagian komponennya dapat
diintegrasikan. Penerapan konsep umpan balik informasi, yang juga merupakan
pengertian dasar pendekatan sistem, selaras dengan paham sinergistik.
Pada masa lalu, efektivitas organisasi
bisnis berada di bawah titip optimum kaarena terhambatnya komunikasi, yang
dapat disebabkan oleh birokrasi atau ketiadaan teknologi. Dewasa ini ketika
kemajuan teknologi yang semakin pesat menyebabkan umur hidup relatif bertambah
pendek, organisasi bisnis mulai membutuhkan suatu sistem yang bisa
mengintegrasikan bagian atau sub sistem yang ada, melalui pertukaran informasi
agar tetap hidup.
Pendekatan sistem diperlukan untuk mengubah
mekanisme pertukaran informasi antara setiap bagian sistem yang terhubungkan
melalui jalur kewenangan klasik, agar menjadi hubungan informasi antar setiap
bagian sistem secara terintegrasi.
2.3 Konsep Dasar Sistem Informasi
Telah
diketahui bahwa informasi merupakan hal yang sangat penting bagi manajemen
dalam pengambilan keputusan. Informasi diperoleh dari sistem informasi
(information systems) atau disebut juga processing systems atau information
processing systems atau information-generating systems. Menurut Robert K.
Leitch dan K. Roscoe Davis, (“Accounting Information Systems”, Prentice-Hall,
New Jersey, 1983) hal 6 Sistem Informasi adalah :
Suatu sistem di dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan
transaksi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial dan kegiatan strategi
dari suatu organisasi dan menyediakan pihak luar tertentu dengan
laporan-laporan yang diperlukan.
Komponen Sistem Informasi
John Burch dan Gary Grudnitski,
(“Information Systems Theory and Practice”, John Wiley and Sons, New York,
1986) mengemukakan bahwa sistem informasi terdiri dari komponen-komponen yang
disebutnya sebagai blok bangunan (block building).
Block building ini kemudian dibagi menjadi
:
1 Blok masukan (input block)
2 Blok model (model block)
3 Blok keluaran (output block)
4 Blok teknologi (technology block)
5 Blok basis data (data base block)
6 Blok kendali (controls block)
Gambar
10
Gambar
2.3 Blok Bangunan
2.4 Konsep Dasar Sistem Informasi
Manajemen
Dalam organisasi bisnis, harus ada hubungan
timbal balik dan keterkaitan yang erat antara setiap fungsi manajemen dengan
setiap teknik manejemen agar kondisi sinergi bisa tercapai. Fungsi manajemen
menjelaskan apa yang dilakukan dan bagaimana mengendalikan sumber daya agar
tujuan bisa dicapai dari dalam melakukan hal ini bersandar pada pengetahuan
teknik manajemen. Untuk mewujudkan keterkaitan antara setiap fungsi manajemen
dengan setiap teknik manajemen, dibutuhkan sistem informasi manajemen yang akan
melingkupi seluruh fungsi dan teknik manajemen. Sistem Informasi Manajemen ini
bertugas mengumpulkan, menyimpan dan mengolah data untuk akhirnya menyajikan
informasi kepada semua tingkatan manajemen berkaitan dengan fungsi manajemen
dalam pengelolaan sumber daya. Sistem informasi manajemen bertujuan menunjang
proses pengambilan keputusan dalam melaksanakan fungsi manajemen pada berbagai
tingkatan manajemen, dengan mewujudkan hubungan timbal balik dan keterkaitan
informasi antar bagian organisasi sehingga sinergi organisasi dapat tercapai.
Gregory M. Scott, (“Prcinciples of
Management Information Systems”, McGraw-Hill, New York, 1986) mengemukakan
pengertian Sistem Informasi Manajemen adalah sebagai berikut :
Sistem Informasi Manajemen adalah kumpulan
dari interaksi-interaksi sistem-sistem informasi yang menyediakan infromasi
baik untuk kebutuhan manajerial maupun kebutuhan operasi.
Sedangkan Barry E. Cushing, (“Accounting
Information Systems and Bussiness Organizations”, Addison Wesley Publishing
Company, Philippines, 1974) mengemukakan pengertian Sistem Informasi Manajemen
adalah sebagai berikut :
Sistem Informasi Manajemen adalah kumpulan
dari manusia dan sumber-sumber daya modal di dalam suatu organisasi yang
bertanggung jawab mengumpulkan dan mengolah data untuk menghasilkan informasi
yang berguna untuk semua tingkatan manajemen dalam kegiatan perencanaan dan
pengendalian.
Menurut Frederick H. Wu, (“Accounting
Information Systems Theory and Practice”, (International Student Edition:
Tokyo: McGraw-Hill Japan, 1984), pengertian Sistem Informasi Manajemen adalah :
Kumpulan dari sistem-sistem yang
menyediakan informasi untuk mendukung manajemen.
Menurut Gordon B. Davis, (“Management Information
Systems: Conceptual Foundations, Structures and Development”, International
Student Edition, McGraw-Hill, Kogakusha, 1974) Sistem Informasi Manajemen
adalah :
Sistem manusia/mesin yang menyediakan
informasi untuk mendukung operasi, manajemen dan fungsi pengambilan keputusan
dari suatu organisasi.
Menurut Raymond McLeod, Jr., (“Sistem
Informasi Manajemen: Studi Sistem Informasi Berbasis Komputer”, PT.
Prenhallindo, Jakarta, —- ) hal. 30 menyatakan pengertian Sistem Informasi
Manajemen sebagai berikut :
Sistem Informasi Manajemen adalah suatu
sistem berbasis komputer yang menyediakan informasi bagi beberapa pemakai
dengan kebutuhan sistem serupa
Model Sistem Informasi Manajemen menurut Raymond McLeod, Jr. ini dapat
digambarkan modelnya sebagai berikut :
(Alter, 1992)
1 Berpartisipasi dalam pelaksanaan tugas-tugas Otomasi
2 Mengaitkan perencanaan, pengerjaan, dan pengendali dalam sebuah subsistem
3 Mengkoordinasikan subsistem-subsistem
4 Mengintegrasikan subsistem-subsistem.
TANTANGAN MANAJEMEN
Ada banyak teknologi alternatif untuk membantu perusahaan mencapai keamanan dan
kontrol, tapi disiplin organisasi diminta untuk menggunakan teknologi-teknologi
tersebut secara efektif.
1. Tantangan investasi sistem informasi
2. Tantangan strategik bisnis
3. Tantangan globalisasi
4. Tantangan infrastruktur teknologi informasi
5. Tantangan tanggung jawab dan pengawasan: etika dan keamanan.1. Pendekatan
Teknis
1 Ilmu Komputer, fokus pada akses penyimpanan data.
2 Metode Kuantitatif, fokus pada praktik manajemen.
3 Riset Operasi, fokus pada parameter terpilih.
4 Menekankan pada model normatif berbasis matematis pada ilmu sistem
informasi sebagaimana teknologi fisik dan kapabilitas formal pada sistem.
5 Disiplin yang disumbangkan pada pendekatan teknis adalah ilmu komputer,
ilmu manajemen dan riset operasi. Ilmu komputer menekankan pada teori tentang
kemampuan menghitung, metode komputasi, dan metode penyimpanan dan akses data
yang efisien. Ilmu manajemen menekankan pada pengembangan model untuk
pengambilan keputusan dan praktek manajemen.
2. Pendekatan Perilaku
1 Ahli Sosiologi, mempelajari keterkaitan Individu.
2 Ahli Psikologi, mempelajari keterkaitan dengan pola pengambilan
keputusan.
3 Ahli Ekonomi, mempelajari keterkaitan dengan proses produksi.
4 Bagian penting dalam bidang sistem informasi adalah isu perilaku yang
muncul dalam pengembangan dan pemeliharaan jangka panjang dari sistem
informasi. Isu seperti integrasi strategik bisnis, desain, implementasi,
utilisasi dan manajemen tidak dapat digali dengan baik dengan pendekatan
teknis.
3. Pendekatan lain Sistem Sosioteknik
1 SIM menggabungkan tataran teoritis dari ilmu komputer, ilmu manajemen
& riset operasi dengan orientasi praktis melalui pembuatan sistem dan
aplikasi. Juga menekankan pada isu keperilakuan yang diangkat oleh sosiologi,
ekonomi dan psikologi.
2 Perspektif sistem sosioteknik membantu menghindari pendekatan teknologi
murni pada sistem informasi. Penekanannya adalah pada perlunya optimasi kinerja
sistem secara keseluruhan, baik teknis maupun perilaku. Hal ini berarti bahwa
teknologi harus diubah dan didesain agar sejalan dengan kebutuhan organisasi
dan individu.
PERAN BARU SISTEM INFORMASI MANAJEMEN DALAM ORGANISASI
1 Inisiasi dan perancangan sistem informasi strategis.
2 Perencanaan, pengembangan dan pengendalian infrastruktur.
3 Menggabungkan internet dan e-commerce kedalam bisnis.
4 Mengelola integrasi sistem, termasuk internet, intranet dan extranet.
5 Kerjasama dengan tingkat eksekutif dalam menjalankan bisnis.
6 Mengelola outsourcing.
7 Secara proaktif menggunakan pengetahuan bisnis dan teknologi untuk
menggali ide-ide inovatif tentang TI.
8 Menciptakan aliansi bisnis dengan vendor dan IS Department dalam
organisasi lain.
9 Menyediakan lingkungan komputasi yang baru.
10 Sebagai tambahan dari fungsi tradisioanl : pengelolaan keamanan
sistem, pengembangan dan perawatan, operasional komputer.
PERAN SIM PADA PENGAMBILAN KEPUTUSAN DI DALAM ORGANISASI
Dukungan sistem informasi manajemen pada pembuatan keputusan dalam suatu
organisasi dapat diuraikan menurut tiga tahapan proses pembuatan keputusan,
yaitu pemahaman, perancangan (design), dan pemilihan. Dukungan SIM biasanya
melibatkan pengolahan, file komputer maupun non komputer.
Pada tahap pemahaman hubungannya dengan SIM adalah pada proses penyelidikan
yang meliputi pemeriksaan data baik dengan cara yang telah ditentukan maupun
dengan cara khusus. SIM harus memberikan kedua cara tersebut. Sistem Informasi
sendiri harus meneliti semua data dan mengajukan permintaan untuk diuji
mengenai situasi-situasi yang jelas menuntut perhatian. Baik SIM maupun
organisasi harus menyediakan saluran komunikasi untuk masalah-masalah yang
diketahui dengan jelas agar disampaikan kepada organisasi tingkat atas sehingga
masalah-masalah tersebut dapat ditangani. Pada tahap ini juga perlu ditetapkan
kemungkinan-kemungkinannya. Dukungan SIM memerlukan suatu data base dengan data
masyarakat, saingan dan intern ditambah metode untuk penelusuran dan penemuan
masalah-masalah.
Pada tahap perancangan (design), kaitannya dengan SIM adalah membuat
model-model keputusan untuk diolah berdasarkan data yang ada serta memprakarsai
pemecahan-pemecahan alternatif. Model-model yang tersedia harus membantu
menganalisis alternatif-altematif. Dukungan SIM terdiri dari perangkat lunak
statistika serta perangkat lunak pembuatan model lainnya. Hal ini melibatkan
pendekatan terstruktur, manipulasi model, dan sistem pencarian kembali data
base.
Pada tahap pemilihan, SIM menjadi paling efektif apabila hasil-hasil
perancangan disajikan dalam suatu bentuk yang mendorong pengambilan keputusan.
Apabila telah dilakukan pemilihan, maka peranan SIM berubah menjadi pengumpulan
data untuk umpan balik dan penilaian kemudian. Dukungan SIM pada tahap
pemilihan adalah memilih berbagai model keputusan melakukan analisis kepekaan
(analisis sensitivitas) serta menentukan prosedur pemilihan. Dukungan SIM untuk
pembuatan keputusan terdiri dari suatu database yang lengkap, kemampuan
pencarian kembali database, perangkat lunak statistika dan analitik liainnya, serta
suatu dasar model yang berisi perangkat lunak pembuatan model-model keputusan.
Pada dasarnya peranan SIM tersebut pada proses pemahaman yang menyangkut
penelitian lingkungan untuk kondisi-kondisi yang memerlukan keputusan. Istilah
pemahaman di sini mempunyai arti sama dengan pengenalan masalah. Kemudian pada
proses perancangan serta pada prosed pemilihan. Sering orang menyatakan bahwa
komputer akan mengambil keputusan, ini merupakan suatu pemyataan yang salah
kaprah dan tidak mengetahui letak peranan komputer serta bagaimana suatu proses
pengambilan keputusan dilakukan. Keputusan sebenarnya hanya dapat diambil atau
dilakukan oleh manusia.
Dukungan SIM pada tahapan penelusuran dapat dilakukan menggunakan perangkat
lunak untuk penelusuran masalah. Pada tahapan ini kegiatan-kegiatan yang
dilakukan adalah mencari atau menyaring keadaan lingkungan organisasi baik
internal maupun eksternal untuk menunjukkan adanya peluang dan masalah.
Jenis-jenis peluang atau masalah yang ditemukan pada tahapan penelusuran dapat
dikelompokkan sebagai berikut:
a. Peluang, meliputi:
1) Peluang untuk laba
2) Peluang untuk pengurangan resiko masyarakat
3) Peluang untuk pelayanan
b. Masalah, meliputi:
1) Masalah yang mempengaruhi permintaan akan barang/jasa
2) Masalah yang mempengaruhi prestasi
3) Masalah resiko
Sistem informasi untuk mengidentifikasi peluang atau masalah memerlukan unsur
sebagai berikut:
a. Basis data, meliputi:
1) Basis data masyarakat
2) Basis data lingkungan
3) Basis data lingkungan persaingan
4) Basis data intern organisasi
b. Pengolahan dan penelusuran
1) Penelusuran terstruktur yang kontinyu
2) Penelusuran terstruktur yang khusus (adhoc)
3) Penelusuran tidak terstruktur yang khusus
4) Penelusuran tidak terstruktur yang khusus memerlukan kemampuan SIM untuk menyediakan
sarana pencarian kembali data-data secara langsung (on line)
c. Laporan, meliputi:
1) Keluaran yang langsung untuk perangkat lunak tahapan desain
2) Keluaran yang menyatakan desain keputusan
3) Keluaran yang menyatakan langkah pilihan keputusan yang harus diikuti
4) Keluaran yang menyatakan suatu pemecahan atau peluang yang mungkin tetapi
tanpa indikator-indikator tindakan mendatang
PELUANG BARU DENGAN TEKNOLOGI INFORMASI
Perusahaan-perusahaan saat ini memiliki peluang untuk menciptakan website yang
reliabel dan strategi-strategi yang dapat mendukung e-commerce dan e-business.
Lebih mendalam, pendapatan, liabilitas, reputasi, kesan merek – dan bahkan
kemampuan perusahaan untuk bertahan.
Pengembangan sistem informasi yang baru membutuhkan suatu perencanaan sistem
teknologi informasi. Pembuatan perencanaan strategis sistem teknologi informasi
adalah sebagai langkah awal dalam membuat perencanaan sistem teknologi
informasi. Pada tahap awal penelitian dilakukan studi literatur tentang sistem
informasi dan perencanaan strategis sistem teknologi informasi. Tahap
selanjutnya dilakukan pengumpulan data dan informasi sesuai dengan kebutuhan
penelitian. Tahap berikutnya dilakukan analisis bisnis dan analisis sistem
teknologi informasi. Analisis bisnis yang dilakukan adalah analisis 5
competitive forces model Porter, analisis Strength Weaknesses Opportunity
Threaths (SWOT), analisis value chain. Analisis sistem teknologi informasi yang
dilakukan adalah analisis Information System Strategic Grid model McFarlan dan
analisis kesenjangan. Bagian akhir analisis dilengkapi dengan rekomendasi
strategi untuk pengembangan sistem teknologi informasi. Perbandingan antara
kondisi sistem teknologi informasi XYZ dan kedua kompetitornya, yaitu THF dan
MAF, dari segi teknis dan spesifikasinya adalah tidak jauh berbeda.
|
|
|
|
|
Management
Information System
|
|
Banyak
organisasi yang ingin membangun sistem Informasi Manajemennya sendiri, dan
telah menyediakan dana yang cukup, tetapi ternyata usaha tersebut sering
kali gagal. Penyebabnya antara lain ialah: struktur organisasi keseluruhan
yang kurang wajar, rencana organisasi keseluruhan yang belum memadai,
personil sistem yang tidak memadai, dan yang terpenting adalah kurangnya
partisipasi manajemen dalam bentuk keikutsertaan para manajer dalam merancang
sistem, mengendalikan upaya pengembangan sistem dan memotivasi seluruh
personil yang terlibat.
Sistem
Informasi Manajemen merupakan serangkaian sub-sistem informasi yang
menyeluruh dan terkoordinasi yang secara rasional mampu menstransformasikan
data sehingga menjadi informasi dengan berbagai cara guna meningkatkan
produktivitas yang sesuai dengan gaya dan sifat manajer.
Beberapa point dalam Sistem Informasi Manajemen :
|
|
Sistem
Informasi Manajemen memiliki sub-sistem informasi dimana sub-sistem tersebut
mendukung tercapainya sasaran Sistem Informasi Manajemen dan organisasi
sebagian dari sub-sistem berperan hanya dalam satu kegiatan atau lapisan
manajemen, sementara yang lainya berperan ganda.
|
|
|
Sistem
Informasi Manajemen adalah menyeluruh.
Sebuah Sistem Informasi Manajemen mencakup sistem informasi formal maupun
informal baik yang manual maupun berkomputer. Komponen yang terpenting
dalam Sistem Informasi Manajemen adalah manajer yang memproses dan
menyebarkan informasi secara berinteraksi dengan elemen-elemen lain dari
Sistem Informasi Manajemen.
|
|
|
Sistem
Informasi Manajemen adalah terkoordinasi.
Sistem Informasi Manajemen dikoordinasikan secara terpusat untuk menjamin
bahwa data yang di proses dapat di operasikan secara terencana dan terkoordinasi.
Semuanya untuk menjamin bahwa informasi melewati dan menuju sub-sistem
yang diperlukan, serta menjamin bahwa sistem informasi bekerja secara
efisien.
|
|
|
Sistem
Informasi Manajemen terintegrasi secara rasional.
Sub-sistem dalam Sistem Informasi Manajemen adalah terintegrasi (terpadu)
sehingga kegiatan dari masing-masing saling berkaitaan satu dengan yang
lainnya, integrasi ini dilakukan terutama dengan melewatkan data diantara
sub-sistem tersebut.
|
|
|
Sistem
Informasi Manajemen mentransformasikan data kedalam informasi. Apabila
data diolah dan berguna bagi manajer untuk tujuan tertentu, maka ia akan
menjadi informasi.
|
|
|
Sistem
Informasi Manajemen meningkatkan produktivitas.
Sistem Informasi Manajemen dengan berbagai cara mampu meningkatkan produktivitas,
antara lain: dengan kemampuan melaksanakan tugas rutin seperti penyajian
dokumen dengan efisien, mampu memberikan layanan bagi organisasi intern
dan ekstern, serta mampu meningkatkan kemampuan manajer untuk mengatasi
masalah-masalah yang tidak terduga.
|
|
|
Sistem
Informasi Manajemen sesuai dengan gaya manajer Sistem Informasi Manajemen
dikembangkan lewat pengenalan atas sifat dan gaya manajerial dari
personil yang akan menggunakannya. Para perancang sistem apabila akan
mengembangkan Sistem Informasi Manajemen hendaknya mempertimbangkan
faktor manusiawi dengan cermat. Apabila tidak demikian, maka sistem yang
dihasilkan tidak efektif.
|
Pengelolaan
sistem informasi manajemen bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan
efektifitas kerja dalam suatu perusahaan /pemerintahan. Aplikasi ini
mencakup, sistem informasi sumber daya manusia / sistem informasi manajemen
kepegawaian, sistem informasi keuangan, dan lain-lain.
|
|
|
” Packard-Bell dapat memproduksi
komputer-komputer yang mahal dengan ciri-ciri komputasi tingkat atas yang
sangat hebat seandainya perusahaan itu mengabaikan biaya-biaya masukan bahan
dan tenaga kerja. Dan sejumlah lembaga pemerintah federal telah dikritik
terus-menerus berdasarkan alasan bahwa mereka itu cukup efektif tetapi sangat tidak
efisien. Artinya mereka memang menyelesaikan tugas-tugas mereka tetapi dengan
biaya amat tinggi. Oleh karena itu manajemen menaruh perhatian bukan pada
perampungan kegiatan-kegiatan dan mencapai sasaran-sasaran organisasi (
efektifitas atau hasil guna ). “
Mungkin organisasi itu efisien
namun tidak efektif? Ya, dengan melakukan hal-hal yang keliru secara baik!
contoh :
“Banyak Universitas telah
menjadi sangat efisien dalam memproses mahasiswa. Dengan menggunakan
pembelajaran yang dibantu komputer dan bahan kuliah berdasarkan internet, kelas
belajar jarak jauh, kelas yang besar, dan mengandalkan dosen penggal waktu.
Para pengelola itu telah sangat banyak memangkas biaya pendidikan masing-masing
mahasiswa. Namun, para mahasiswa alumni dan badan-badan akreditasi telah
mempertanyakan apakah mahasiswa-mahasiswa itu di didik sebagaimana mestinya.
Tentu saja, dalam organisasi yang sukses, biasanya efisiensi yang tinggi
terjadi bersama dengan efektifitas yang tinggi. Dan manajemen yang buruk itu
seringkali sekaligus diakibatkan oleh ketidakefisienan dan ketidakefektifan
atau oleh efektivitas yang dicapai melalui ketidakefisienan.”
E- Government: Munuju Efektivitas dan Efisiensi Birokrasi
Indonesia
Negera Indonesia adalah negera besar . Salah satu negara
yang termasuk kawasan Asia Tenggara ini memiliki luas wilayah sebesar 1,904,569
km2 yang terbentang dari Sabang hingga Merauke. Luas wilayah yang demikian
besarnya masih terbagi-bagi menjadi belasan ribu kepulauan dengan akses ke
daerah satu dengan daerah lain tidak selalu mudah. Hal ini disebabkan karena pembangunan
diberbagai aspek kehidupan, khususnya pembangunan dalam bidang transportasi
belum merata menjangkau ke semua daerah. Tidak hanya itu, jumlah penduduk
Indonesia yang mencapai 250 juta jiwa merupakan jumlah penduduk terbesar ke
empat di dunia dengan tingkat heterogenitas suku, budaya, agama, dan ras yang
tinggi. Kondisi demikian menjadi tantangan tersendiri bagi pengelolaan
birokrasi di Indonesia.
Negara yang memiliki sekitar 13.487 pulau ini beribu kota
di Jakarta yang terletak di Pulau Jawa. Oleh sebab itu, Pulau Jawa menjadi
salah satu pusat peradaban, moderenisasi, dan pemerintahan. Maka tidaklah heran
segala aktivitas vital yang berkaitan dengan penyelenggaraan negara terpusat di
Pulau Jawa. Keadaan demikian tentu menjadi penghalang bagi masyarakat-masyarakat
non-Pulau Jawa untuk mengakses berbagai kepentingannya sebagai warga negara,
termasuk dalam hal ini yang berkaitan dengan birokrasi. Maka sejak reformasi
yang bergulir pada tahun 1998 Indonesia mengubah dari sistem pemerintahan
sentralistik menjadi sistem pemerintahan desentralisasi. Maksud dari perubahan
ini adalah , pemerintah berharap pelayanan publik di daerah akan semakin baik
dengan menggali keinginan dan kebutuhan masyarakat daerah tersebut. Sehingga
kebijakan dan pelayanan publik yang diberikan benar-benar merepresentasikan
harapan dan karakteristik masing-masing daerah. Sehingga prinsip efektivitas
dan efisiensi birokrasi yang dicita-citakan dapat tercapai.
Namun pada kenyataannya, desentralisasi yang dicita-citakan
akan memberikan pelayanan publik yang maksimal di seluruh wilayah Indonesia
tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Di sisi lain permasalahan baru
muncul, desentralisasi justru menjadi celah berkembangnya tindakan korupsi yang
semakin merajalela. Jika pada sistem sentralistik, cenderung pejabat pusat yang
melakukan tindak pidana korupsi karena kewenangannya yang tidak terbatas,
sedangkan pada sistem desentralisasi pejabat daerah pun dapat melakukan
tindakan korupsi. Hal ini terjadi mengingat mereka kini juga memiliki kekuasaan
yang besar pada proses penyelenggaraan negara, termasuk dalam hal pelayanan
publik.
Maka tidaklah heran, apabila kita pernah mendengar bahwa
semboyan para birokrat Indonesia adalah “kalau bisa sulit kenapa dipermudah?”.
Karena dengan semboyan tersebut maka setiap aspek penyelenggaraan negara
terutama dalam hal pelayanan publik dapat digunakan untuk mengumpulkan
pundi-pundi uang tambahan bagi Sang Birokrat. Masyarakat yang mendapat
pelayanan yang cepat dan baik adalah mereka yang mau membayar pungutan-pungutan
liar. Sedangkan yang tidak mau membayar, akan cenderung dikesampingkan dan
diperlambat. Akibatnya prinsip birokrasi yang seharusnya efektif dan efisien
justru menjadi birokrasi yang sulit dan berbelit-belit.
Selain itu, sistem birokrasi yang dikelola masing-masing
daerah juga tidak terintegrasi dengan baik dengan pemerintah pusat. Akibatnya
pengawasan dan evaluasi peyelenggaran negara oleh pemerintah pusat di
masing-masing daerah sangat lemah. Hal ini kembali menjadi celah untuk
melakukan tindak pidana korupsi. Contoh yang sering kita dengar adalah masalah
korupsi dalam hal pengadaan barang, baik dengan sistem lelang, tender, maupun
sistem yang lainnya. Sebelum adanya e-procurenment sistem pengadaan barang
tersebut cenderung dilakukan secara tertutup. Masyarakat pun juga memiliki
tingkat keasadaran yang rendah dalam pengawasan penyelenggaraan negara.
Konsdisi demikian membuat sejumlah pejabat terkait dengan mudah melakukan
deal-deal tertentu dengan pengusaha. Sehingga pengadaan barang yang seharusnya
untuk memenuhi kebutuhan publik justru menjadi kesempatan untuk meraup
keuntungan pihak atau kelompok tertentu. Akibatnya tidak jarang anggaran untuk
proyek-proyek tertentu di daerah digelembungkan dari sewajarnya.
Dengan segala permasalahan yang semakin hari semakin rumit
tersebut sudah selayaknya dilakukan reformasi birokrasi untuk menunjang
terciptanya Good Governence yang dicita-citakan oleh hampir semua negara di
dunia ini. Salah satu alternatif reformasi birokrasi tersebut adalah dengan
memanfaat teknologi atau sistem informasi yang kini berkembang semakin cepat
dan semakin canggih.
Gagasan e-Government
Perkembangan teknologi yang semakin canggih menyebabkan
semakin beragamnya sistem informasi yang berkembang. Kondisi ini juga didukung
oleh kemampuan finansial masyarakat yang semakin berkembang dari hari ke hari,
maka sebagian besar masyarakat kini memiliki teknologi yang setidaknya akan
memudahkan komunikasinya. Namun ternyata sistem informasi yang ada kini tidak
hanya mempermudah hubungan antar individu saja tetapi juga mempermudah hubungan
antara pemerintah dengan warga negaranya.
Salah satu konsep yang mempermudah hubungan tersebut adalah
sistem E-Government. E-Government yang “juga disebut e-gov, digital government,
online government atau dalam konteks tertentu transformational government
adalah penggunaan teknologi informasi oleh pemerintah untuk memberikan
informasi dan pelayanan bagi warganya, urusan bisnis, serta hal-hal lain yang
berkenaan dengan pemerintahan. Berdasarkan definisi dari World Bank,
eGovernment adalah penggunaan teknologi informasi oleh pemerintah (seperti :
Wide Area Network, Internet dan mobile computing) yang memungkinkan pemerintah
untuk mentransformasikan hubungan dengan masyarakat, dunia bisnis dan pihak
yang berkepentingan. (www.worldbank.org). Dalam prakteknya,eGovernment adalah
penggunaan Internet untuk melaksanakan urusan pemerintah dan penyediaan
pelayanan publik yang lebih baik dan cara yang berorientasi pada pelayanan
masyarakat.
E-Government dapat diaplikasikan pada legislatif,
yudikatif, atau administrasi publik, untuk meningkatkan efisiensi internal,
menyampaikan pelayanan publik, atau proses kepemerintahan yang demokratis.
Model penyampaian yang utama adalah Government-to-Citizen atau
Government-to-Customer (G2C), Government-to-Business (G2B) serta
Government-to-Government (G2G). Keuntungan yang paling diharapkan dari
e-government adalah peningkatan efisiensi, kenyamanan, serta aksesibilitas yang
lebih baik dari pelayanan publik.”
Secara ringkas tujuan yang ingin dicapai dengan implementasi eGovernment adalah
untuk menciptakan customer online dan bukan in-line. eGovernment bertujuan
memberikan pelayanan tanpa adanya intervensi pegawai institusi publik dan
sistem antrian yang panjang hanya untuk mendapatkan suatu pelayanan yang
sederhana. Selain itu eGovernment juga bertujuan untuk mendukung good
governance. Penggunaan teknologi yang mempermudah masyarakat untuk mengakses
informasi dapat mengurangi korupsi dengan cara meningkatkan transparansi dan
akuntabilitas lembaga publik. eGovernment dapat memperluas partisipasi publik
dimana masyarakat dimungkinkan untuk terlibat aktif dalam pengambilan
keputusan/kebijakan oleh pemerintah. eGovernment juga diharapkan dapat
memperbaiki produktifitas dan efisiensi birokrasi serta meningkatkan
pertumbuhan ekonomi. Adapun konsep dari eGovernment adalah menciptakan
interaksi yang ramah, nyaman, transparan dan murah antara pemerintah dan
masyarakat (G2C-government to citizens), pemerintah dan perusahaan bisnis
(G2B-government to business enterprises) dan hubungan antar pemerintah
(G2G-inter-agency relationship).
Di Indonesia, gagasan tentang E-Government ini mulai
berkembang sejak tahun 2000-an. Pada saat itu berbagai usaha mulai dilakukan
untuk menginternetkan pemerintah, baik di sisi proyek, maupun karena desakan
masalah transparansi pada masyarakat. Melihat tingginya desakan untuk melakukan
internetisasi serta semakin sadarnya pemerintah pentingnya birokrasi sebagai
urat nadi pemerintahan dan birokrasi yang baik adalah yang efektif dan efisien
maka tidak sedikit uang rakyat digunakan bagi pengembangan teknologi informasi
bagi operasionalisasi pemerintahan dan pelayanan umum. Sedangkan dari
pemerintah sendiri inisiatif e-Government di Indonesia telah diperkenalkan
melalui Instruksi Presiden No. 6/2001 tgl. 24 April 2001 tentang Telematika
(Telekomunikasi, Media dan Informatika) yang menyatakan bahwa aparat pemerintah
harus menggunakan teknologi telematika untuk mendukung good governance dan
mempercepat proses demokrasi. Lebih jauh lagi, eGovernment wajib diperkenalkan
untuk tujuan yang berbeda di kantor-kantor pemerintahan. Administrasi publik
adalah salah satu area dimana internet dapat digunakan untuk menyediakan akses
bagi semua masyarakat yang berupa pelayanan yang mendasar dan mensimplifikasi
hubungan antar masyarakat dan pemerintah.
Meskipun masih relatif muda, namun sistemnya sudah cukup
baik. Namun demikian, E-Government belum menunjukkan manfaat yang signifikan
bagi efektifitas dan efisiensi jalannya pemerintahan dan pelayanan umum yang
terbaik. Masih terdapat pulau-pulau E-Government yang terbentuk dalam NKRI dan
memperlebar jurang integrasi database nasional.
Di balik kelemahan-kelemahan tersebut ternyata masih banyak
pihak yang memperjuangkan akan tetap berjalannya e-goverenment. Pada tanggal 27
Juni 2005 Bambang Dwi Anggono, biasa di panggil Ibenk, membentuk mailing list
egov-indonesia@yahoogroups.com tempat berdiskusinya para aktifis e-government
Indonesia, pada pertengahan 2006 telah melibatkan hampir 400 aktifis di
dalamnya. Mailing list egov-indonesia merupakan mailing list paling aktif
diantara berbagai tempat diskusi egov dan berusaha menjebatani keterbatasan
kemampuan daerah dan pusat melalui kebersamaan dan saling mendukung dengan
mengesampingkan ego sektoral. Sinergi antara Akademisi, Bisnis dan Government
diyakini akan mampu membawa E-Government ke arah yang lebih baik.
Prinsip Efektivitas dan Efisiensi Birokrasi
Terkait dengan sistem birokrasi Indonesia yang cenderung
lambat dan berbelit-belit, maka kalangan tertentu mengemukakan pentingnya
reformasi birokrasi. Kata reformasi diarahkan pada terwujudnya efisiensi,
efektivitas, dan clean government. Reformasi ini diarahkan pada perubahan
masyarakat yang termasuk didalamnya masyarakat birokrasi, dalam pengertian
perubahan ke arah kemajuan. Dalam pengertian ini perubahan masyarakat diarahkan
pada development (Susanto, 180). Khan (1981) memberi pengertian reformasi
sebagai suatu usaha perubahan pokok dalam suatu sistem birokrasi yang bertujuan
mengubah struktur, tingkah laku, dan keberadaan atau kebiasaan yang telah
lama.Sedangkan Quah (1976) mendefinisikan reformasi sebagai suatu proses untuk
mengubah proses, prosedur birokrasi publik dan sikap serta tingkah laku
birokrat untuk mencapai efektivitas birokrasi dan tujuan pembangunan nasional.
Aktivitas reformasi sebagai padanan lain dari change, improvement, atau
modernization.
Dari pengertian ini, maka reformasi ruang lingkupnya tidak
hanya terbatas pada proses dan prosedur, tetapi juga mengaitkan perubahan pada
tingkat struktur dan sikap tingkah laku (the ethics being). Arah yang akan
dicapai reformasi antara lain adalah tercapainya pelayanan masyarakat secara
efektif dan efisien.
Istilah efektivitas dan efisiensi merupakan konsep
engineering yang diadaptasi dari sektor privat, yang kemudian dalam
perkembangannya diterapkan dalam sektor publik yakni pemerintah. Efektivitas
adalah pencapaian tujuan secara tepat atau memilih tujuan-tujuan yang tepat
dari serangkaian alternatif atau pilihan cara dan menentukan pilihan dari
beberapa pilihan lainnya. Efektifitas bisa juga diartikan sebagai pengukuran
keberhasilan dalam pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan. Sebagai
contoh jika sebuah tugas dapat selesai dengan pemilihan cara-cara yang sudah
ditentukan, maka cara tersebut adalah benar atau efektif. Sedangkan efisiensi
adalah penggunaan sumber daya secara minimum guna pencapaian hasil yang
optimum. Efisiensi menganggap bahwa tujuan-tujuan yang benar telah ditentukan
dan berusaha untuk mencari cara-cara yang paling baik untuk mencapai
tujuan-tujuan tersebut Apabila membicarakan efektivitas dan efisiensi maka
harus dihubungkan dengan sasaran dan tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan
tersebut.
Dalam pelayanan publik apabila kedua hal diperbandingkan
maka efektivitas jauh lebih penting dari efisiensi. Suatu pelayanan publik yang
tidak efisien masih dapat dimaklumi sepanjang pelayanan itu efektif bagi
masyarakat (Putra :19).Efektivitas dapat dilihat dari 3 pendekatan yakni
(Putra:22)
• Pendekatan Sasaran (goal approach), mengukur efektivitas dari segi output.
• Pendekatan Sumber (system resource approach), melihat dari inputnya
• Pendekatan Proses (process approach), yakni menekankan pada faktor internal
organisasi publik, seperti efisiensi dan iklim organisasi.
Akan tetapi walaupun pelayanan publik lebih menekankan
efektivitas daripada efeisiensi, dalam tataran praktis konsep efektivitas tidak
dapat dipisahkan dari konsep efisiensi. Unsur efisiensi adalah salah satu
determinan untuk mengetahui apakah suatu kegiatan bisa dikategorikan efektif
atau tidak sebagaimana pendekatan ketiga.
Sementara itu Birokrasi diartikan sebagai kekuasaan atau
pengaruh dari para kepala dan staf biro pemerintah. Dalam pengertian
selanjutnya birokrasi adalah pegawai pemerintah, yang menjalankan dan
menyelenggarakan tugas yang ditentukan oleh konstitusi, menjalankan program
pembangunan, pelayanan publik, dan penerapan kebijakan pemerintah, yang
biasanya disebut pegawai Sipil (Rozi:10). Dalam hal di Indonesia lebih dikenal
dengan istiah Aparatur Pemerintah.
Birokrasi dalam pengertian keseharian selalu dimaknai institusi resmi yang
melakukan fungsi pelayanan terhadap kebutuhan dan kepentingan masyarakat
(Tjokrowinoto:112). Segala bentuk upaya pemerintah dalam mengeluarkan produk
kebijakannya semata-mata dimaknai sebagai manifestasi dari fungsi melayani
orang banyak. Walaupun persepsi ini mengandung titik–titik kelemahan, namun
sampai saat ini pemerintah yang diwakili oleh institusi birokrasi tetap saja
diakui sebagai motor penggerak pembangunan. Pemaknaan birokrasi sebagai organ
pelayanan bagi masyarakat luas tentu merupakan pemaknaan yang bersifat idealis,
dan pemaknaan ideal terhadap fungsi pelayanan yang diperankan birokrasi
tidaklah bisa menjelaskan orientasi birokrasi.
Lalu pertanyaanya bagaimana upaya yang dilakukan agar
birokrasi mampu melaksanakan misi utama yakni memberikan pelayanan secara
efektif dan efisien kepada masyarakat. Jawabannya harus dengan melakukan
perubahan atau reformasi, bukan saja terbatas pada proses dan prosedur, tetapi
juga mengaitkan perubahan pada tingkat struktur, sikap dan tingkah laku / etika
(the ethics being).
E-Government Terkait dengan Efektifitas dan
Efisiensi Birokrasi
Penggunaan TI ini dapat mempermudah masyarakat untuk
mengakses informasi untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas di
instansi pemerintah. E-Government juga dapat memperluas partisipasi publik
dimana masyarakat dimungkinkan untuk terlibat aktif dalam pengambilan kebijakan
Pemerintah.
E-Government merupakan sistem TI yang dikembangkan oleh
Pemerintah dalam memberikan pilihan kepada masyarakat, untuk bisa mendapatkan
kemudahan akses informasi dan layanan pemerintah. Selain itu, e-Government,
merupakan bentuk pemanfaatan TI untuk mendukung aktivitas Pemerintah Daerah
yang meliputi aktivitas internal maupun di lingkungan Pemerintah Daerah serta
aktivitas pelayanan publik.
Pendayagunaan e-Government juga sejalan dengan kebijakan
penyelenggaraan otonomi daerah, dengan harapan agar penyampaian layanan
pemerintah kepada masyarakat dapat berlangsung secara lebih efisien dan
efektif. Efisiensi dan efektifitas di sini dapat diperoleh karena otonomi
daerah lebih menekankan pada kedekatan pemerintah untuk memberikan layanan
publik kepada masyarakat. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 32 tahun 2004
mengenai pemerintahan daerah, efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan
pemerintahan daerah perlu ditingkatkan dengan lebih memperhatikan aspek-aspek
hubungan antar pemerintahan daerah, potensi dan keanekaragaman daearah, peluang
dan tantangan persaingan global dengan memberikan kewenangan yang
seluas-luasnya kepada Pemerintah Daerah disertai dengan pemberian hak dan
kewajiban menyelenggarakan pemerintahan daerah dalam kesatuan sistem
penyelenggaraan pemerintahan negara.
Uraian di atas menunjukkan bahwa pentingnya efisiensi, efektifitas,
dan transparansi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Efisiensi,
efektifitas dan transparansi ini merupakan unsur yang penting dalam
pengembangan e-Government, sehingga e-Government sangat sejalan dengan upaya
untuk mewujudkan pemerintahan yang baik (good governance). Disamping itu,
e-Government diharapkan dapat mendukung perbaikan produktivitas dan efisiensi
dalam instansi pemerintahan maupun peningkatkan petumbuhan ekonomi. Dengan
demikian, untuk menghadapi era global ini Pemerintah Daerah dituntut untuk
membangun ketangguhan di segala bidang. Disamping itu, tuntutan masyarakat
terhadap pelayanan yang baik atau pelayanan prima menjadikan Pemerintah Daerah
mau tidak mau harus mengikuti perkembangan teknologi yang dapat meningkatkan
efisiensi dan efektifitas yang tinggi. Dengan semakin meningkatnya tuntutan
pembangunan dan pelayanan oleh masyarakat, menjadikan pemerintah daerah harus
kreatif di segala bidang dan mampu memanfaatkan segenap potensi yang ada
termasuk pendayagunaan e-Government.
Efektivitas dan efisiensi juga akan berkaitan erat dengan
good governance. Istilah good governance mulai muncul di Indonesia sejak tahun
1990-an dan semakin mengemuka pada tahun 1996 seiring dengan interaksi
pemerintah dengan negara-negara luar beserta lembaga-lembaga pemberi bantuan
yang semakin menyoroti kondisi obyektif perkembangan ekonomi dan politik di
Indonesia. Lembaga-lembaga pemberi donor baik yang bersifat multirateral maupun
bilateral mengaitkan penerapan good governance dengan kebijakan pemberian
bantuan. Good governance dijadikan salah satu aspek yang perlu dipertimbangkan
dalam pemberian bantuan baik berupa pinjaman (loan) maupun hibah (grant).
Governance merupakan tata pemerintahan, good governance
adalah tata pemerintahan yang baik. Ada tiga komponen yang terlibat dalam
governance, yaitu pemerintah, dunia usaha dan masyarakat. Hubungan ketiganya
harus dalam posisi sejajar dan saling kontrol untuk menghindari penguasaan atau
eksploitasi oleh salah satu komponen terhadap komponen lainnya. Bila salah satu
komponen lebih tinggi dari komponen yang lain, maka akan terjadi dominasi
kekuasaan atas dua komponen lainnya.
Menurut Bintoro, good governance adalah suatu bentuk
manajemen pembangunan, yang juga disebut administrasi pembangunan. Lebih jauh,
Bintoro menyatakan Pemerintah maenjadi agen perubahan (agent of change) dari
suatu masyarakat (berkembang/developing) dalam negara berkembang. Selanjutnya,
UNDP (1997) mendefinisikan good governance sebagai pelaksanaan otoritas
politik, ekonomi dan administrasi untuk mengatur urusan-urusan negara, yang
memiliki mekanisme, proses, hubungan, serta kelembagaan yang kompleks dimana
warga negara dan berbagai kelompok mengartikulasikan kepentingan mereka,
melaksanakan hak dan kewajiban mereka serta menengahi perbedaan yang ada di
antara mereka (http://ww. mirror.undp.org/magnet/policy/ cahapter1.htm,
31/7/2009). Selain itu, menurut Effendi, (2000), istilah good governance juga
diartikan sebagai pemerintahan yang baik (Domai, 2009).
Good governance melebihi ruang lingkup e-Government. E-government didefenisikan
sebagai penyampaian layanan dan informasi dari Pemerintah kepada publik
menggunakan sarana elektronik. E-Goverment memungkinkan warga negara
berkomunikasi antar mereka maupun dengan pemerintah, dan ikut berpartisipasi
dalam proses pembuatan keputusan, mengekpresikan kebutuhan nyata mereka tentang
kesejahteraan dengan menggunakan e-Government sebagai sarana. Pendayagunaan
e-Government, merupakan bentuk pemanfaatan teknologi informasi untuk mendukung
terwujudnya pemerintahan yang baik (good governance) dalam aktivitas Pemerintah
Daerah yang meliputi aktivitas intern dalam satu lembaga maupun antar lembaga
pemerintah serta aktivitas pelayanan publik.
Dari berbagai definisi tersebut di atas, secara sederhana
pemahaman mengenai good governance dapat dikatakan sebagai tata pemerintahan
yang baik, dalam implementasinya tidak mudah untuk mengimplementasikan secara
seragam. Namun demikian, pada hakekatnya keragaman makna tersebut memiliki
kesamaan prinsip dan tujuan yakni terselenggaranya pemerintahan yang seimbang
di antara semua komponen pelaku. Semua pelaku harus saling tahu apa yang
dilakukan oleh pelaku lainnya, ada ruang dialog agar para pelaku saling
memahami perbedaan di antara mereka. Dengan proses seperti ini diharapkan akan
tumbuh konsensus dan sinergi antara pemerintah dan masyakat.
Tujuan dan Manfaat e-Government
Konsep e-Government diterapkan dengan tujuan bahwa hubungan
pemerintah baik dengan masyarakatnya maupun dengan pelaku bisnis dapat
berlangsung secara efisien, efekti,f dan transparan. Hal ini diperlukan
mengingat semakin dinamisnya gerak masyarakat pada saat ini, sehingga
pemerintah harus dapat menyesuaikan fungsinya dalam penyelenggaraan
pemerintahan, agar masyarakat dapat menikmati haknya dan menjalankan
kewajibannya dengan nyaman dan aman, yang kesemuanya itu dapat dicapai dengan
pembenahan sistem. Selain itu seperti telah disebutkan di atas, e-Government
ditujukan untuk mendukung terwujudnya pemerintahan yang baik (good governance)
yang tercermin dari pemerintahan yang bersih, transparan dan akuntabel. Dengan
demikian transparansi merupakan unsur penting untuk penerapan e-Government
dalam pemerintahan yang modern karena mencerminkan nilai-nilai kejujuran,
kebenaran, dan keadilan yang merupakan tanggungjawab dari aparatur negara.
Implementasi e-Government di instansi pemerintahan dapat membawa manfaat,
antara lain :
• Pelayanan/service yang lebih baik kepada masyarakat.
Informasi dapat disediakan 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu, tanpa harus
menunggu pegawai kantor.
• Peningkatan hubungan antar pemerintah, pelaku bisnis, dan masyarakat umum.
Adanya keterbukaan (transparansi) diharapkan hubungan antara berbagai pihak
menjadi lebih baik. Keterbukaan ini menghilangkan perasaan saling curiga dan
kesalahan dari semua pihak.
• Pemberdayaan masyarakat melalui informasi yang mudah diperoleh. Dengan adanya
informasi yang mencukupi, masyarakat akan belajar untuk dapat menentukan
pilihannya misalnya data tentang sekolah, rumah sakit, dll.
• Pelaksananan pemerintahan yang lebih efisien. Sebagai contoh koordinasi
pemerintahan dapat dilakukan melalui email atau bahkan video konferensi. Bagi
indonesia yang memiliki area yang luas hal akan sangat membantu. Koordinasi,
tanya jawab, diskusi antar pimpinan daerah dapat dilakukan tanpa semuanya harus
berada pada lokasi yang sama, tidak lagi harus berkumpul di satu tempat untuk
pertemuan yang hanya berlangsung satu atau dua jam.
Pendayagunaan e-Government bukan berarti menerapkan sistem
pemerintahan secara elektronik saja atau dengan kata lain otomatisasi sistem,
melainkan bertujuan lebih dalam dari itu. Pertama-tama yang harus dilihat
adalah bagaimana sistem pemerintahan berjalan sebelum pendayagunaan
e-Government. E-Government memerlukan suatu sistem informasi yang baik, teratur
dan bersinergi dengan masing-masing lembaga pemerintahan, sehingga didapatkan
suatu sistem informasi yang terjalin dengan baik. Untuk mewujudkan sistem
informasi yang baik, teratur dan sinergi antara lembaga pemerintahan, maka
sistem informasi dari masing-masing lembaga pemerintahan harus memenuhi suatu
standar informasi, dimana standar ini meliputi persyaratan minimal untuk
faktor-faktor dari sistem informasi tersebut.
Tidaklah mengherankan apabila negara yang dapat menjalankan
e-Government sebagian besar adalah negara-negara maju karena dalam konteks
e-Government seutuhnya bukanlah semata-mata hanya situs informasi. Hal tersebut
dapat terjadi karena untuk membereskan sistem informasi dalam satu lembaga
pemerintah saja sudah sangat sulit apalagi harus tercapainya sinergi dari
sistem informasi dari berbagai lembaga-lembaga pemerintahan, karena hal ini
berkaitan erat dengan faktor budaya, politik dan ekonomi suatu negara.
Keuntungan yang dapat diperoleh dari penerapan e-Government
bukan hanya sekedar menyediakan pelayanan on-line akan tetapi lebih luas dari
pada itu karena kinerja pada sektor publik juga akan berkontribusi pada
kemajuan ekonomi dan sosial suatu negara. Gupta & Jana (2003) berpendapat
bahwa e-Government tidak lagi dilihat sebagai suatu pilihan, melainkan suatu
keharusan bagi semua negara yang bertujuan untuk lebik baik dan lebih efisien
(Dhilon, 2008). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pendayagunaan
e-Government ditujukan untuk mendukung terwujudnya pemerintahan yang baik (good
governance). Pendayagunaan e-Government ini diharapkan dapat meningkatkan
pelayanan publik kepada masyarakat dalam administrasi pemerintahan dan dapat
mengurangi kesenjangan informasi antara pusat dan daerah.
Di era globalisasi, penerapan e-Government sangat penting
karena telah memodernisasi pemerintahan publik di seluruh dunia dan juga
hubungan antar pemerintah. Selain di Uni Eropa beberapa negara di Asia telah
menggunakan e-Government untuk melaksanakan hubungan bilateral mereka. Sejalan
dengan kemajuan teknologi dan tujuan yang ingin dicapai mau tidak mau
pemerintahan di Indonesia juga dituntut untuk menerapkan e-Government. Pada
kondisi saat ini penggunaan e-Government sudah menjadi suatu keharusan dalam
rangka menciptakan pelayanan publik yang lebih baik untuk mendukung
pemerintahan yang baik (good governance). Untuk kepentingan hal itu pemerintah
perlu meningkatkan kesadaran dan kesiapan penggunaan kemajuan teknologi
telematika untuk mengimplementasikan government on-line secara efektif, serta
mengintensifkan pendidkan dan pelatihan teknologi telematika untuk meningkatkan
keahlian pegawai pemerintahan di semua tingkatan.
Wujud Efektivitas dan Efisiensi Birokrasi dengan
E-government
Mengingat kelebihan-kelebihan yang dimiliki e-government
dibandingkan dengan sistem birokrasi tradisional maka e-government mulai banyak
diterapkan di negara-negara di dunia, khususnya negara maju. Beberapa negara
telah membuktikan keberhasilan mereka dalam memanfaatkan e-Government untuk
mendukung good governance. Banyak negara telah menggunakan internet sebagai
sarana pelayanan publik yang menghasilkan transparansi, akuntabilitas, adil
(fair), efektif, dan dapat mengakomodasi partisipasi seluruh warga masyarakat.
Sebagai contoh penyelenggaraan distance learning melalui internet yang dirancang
khusus untuk meningkatan pengetahuan dan ketrampilan pegawai negeri di Mexico
dan Kanada merupakan contoh bagaimana TI digunakan dalam mendukung upaya good
governance (Wigrantoro, 2004).
Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Accenture pada
tahun 2001 negara yang telah menerapkan e-Government berdasarkan ranking secara
berurutan, yaitu: Kanada, Singapura, Amerika Serikat, Australia, Denmark,
Inggris, Firlandia, Hong Kong, Jerman, Irlandia, Belanda, Perancis, Norwegia,
Selandia Baru, Spanyol, Belgia, Jepang, Portugal, Malaysia, Italia, Afrika
Selatan dan Meksiko (Setiawati, 2009)..
Beberapa contoh implementasi e-government yang mendominasi
di seluruh dunia saat ini berupa pelayanan pendaftaran warga negara antar lain
pendaftaran kelahiran, pernikahan dan penggantian alamat, perhitungan pajak
(pajak penghasilan, pajak perusahaan dan custom duties), pendaftaran bisnis,
perizinan kendaraan dsb.
Sebagai studi komparatif, dapat kita simak penerapan
e-Government di negara-negara Uni Eropa. Uni Eropa merupakan salah satu
komunitas yang telah menerapkan e-Government dengan sukses. Hanya Canada,
Singapura dan Amerika yang telah mengungguli Uni Eropa dalam area e-Government.
Uni Eropa sendiri telah memiliki official website yang cukup modern dimana setiap
masyarakat dapat mengakses informasi terbaru dan kebijakan serta dasar hukum
kebijakan pemerintah tersebut. Pada waktu-waktu tertentu masyarakat bahkan
dapat berinteraksi langsung dengan para pengambil keputusan melalui fasilitas
chatting. (www.europa.eu.int). Dengan portalnya yang sangat besar kapasitasnya,
para warga dapat melamar pekerjaan serta magang di institusi tersebut. Masih
banyak lagi fasilitas yang diberikan melalui portalnya. Untuk memotivasi public
service dalam melaksanakan e-Government, e-Europe awards
(www.e-europeawards.org) dilaksanakan dalam rangka memfasilitasi sharing
experience dan mutual learning antar anggota Uni Eropa. Selain itu eGovernment
di Eropa juga ditampilkan dengan memberikan fasilitas akses langsung ke portal
pemerintahan negara anggota dan negara aplikan serta negara Eropa lainnya.
Contoh best practice yang terdapat di Belanda antara lain administrasi bea
cukai yang dapat dilakukan secara online sehingga dapat dikontrol dan
mengurangi kasus suap. Di Inggris para warga negaranya dapat melakukan aplikasi
dan pembaharuan paspor secara online. Sedangkan di Perancis, pembayaran kembali
biaya yang dikeluarkan untuk biaya pengobatan oleh perusahaan asuransi telah
dapat dilakukan secara online. Pemerintahan daerah Bonn di Jerman saat ini
menyediakan pelayanan online berupa pendaftaran Taman Kanak-Kanak. Melalui
portal online-nya masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai seluruh TK di
kota itu dan orang tua murid dapat mendaftar secara langsung untuk dihubungi
melalui telepon.
Penerapan benchmarking process dan best practice
dissemination Uni Eropa telah membuahkan hasil yang cukup fantastis.
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Cap Gemini Ernst & Young terhadap
penerapan e-Government di Eropa diperoleh bahwa 5 negara (Denmark, Perancis,
Italia, Swedia dan Finlandia ) telah berhasil menerapkan pelayanan elektronik
secara penuh untuk beberapa jenis pelayanan seperti pajak pendapatan. Survei
tersebut juga menunjukkan bahwa 86 % pelayanan publik di Uni Eropa telah
tersedia secara online.
Selain itu suksesnya e-Government di Eropa merupakan
kontribusi kebijakan publik yang sesuai dengan karakteristik e-Government itu
sendiri. Soft policy berupa kebijakan Open Method Coordination pada
e-Government Eropa yang dimulai dengan visi yang luas dan jelas dan diikuti
dengan dissemination, proses benchmarking, monitoring berkala, evaluasi dan
review secara pasangan dan diorganisir sebagai proses pembelajaran mutual
terbukti sukses dalam rangka melaksanakan e-Government di Eropa.
Penutup
Terkait dengan sistem birokrasi yang dikenal sulit,
berbelit-belit, dan banyak terjadi korupsi, pada dasarnya kini telah ditemukan
solusi terbaru atas permasalahan tersebut. Dengan memanfaatkan teknologi
informasi kini telah tercipta sistem e-government, yaitu upaya pelayanan publik
dengan berbasis internet. Sistem e-government ini menawarkan kemudahan
masyarakat untuk mengakses informasi-informasi dari pemerintah dan sebaliknya.
Selain itu e-government juga memberi kemudahan akses informasi antara
pemerintah dengan pemerintah maupun pemerintah dengan kalangan usaha.
E-government dengan sistem kecanggihannya juga memiliki kelebihan dalan hal
tranparansi dan akuntabilitas. Sehingga korupsi yang sering terjadi dalam
tataran penyelenggara negara dapat diminimalisir atau ketika semua pihak
benar-benar berkomitmen dan konsisten untuk memanfaatkan e-government ini
sebaik mungkin tidak mustahil seiring berjalannya waktu korupsi dapat
dihilangkan.
Namun pelaksanaan e-government di negara berkembang seperti
di Indonesia juga masih menemui banyak kendala sehingga belum dapat
dilaksanakan secara optimal. Terlepas dari kendala-kendala tersebut pada
dasarnya e-government sangat mendorong terciptanya efektivitas, efisiensi,
tranparansi, dan akuntabilitas penyelenggaraan negara yang pada akhirnya nanti
dapat tercipta suatu birokrasi yang diidam-idamkan atau tercipta suatu good
governance.
i dan
review secara pasangan dan diorganisir sebagai proses pembelajaran mutual
terbukti sukses dalam rangka melaksanakan e-Government di Eropa.
Penutup
Terkait dengan sistem birokrasi yang dikenal sulit,
berbelit-belit, dan banyak terjadi korupsi, pada dasarnya kini telah ditemukan
solusi terbaru atas permasalahan tersebut. Dengan memanfaatkan teknologi
informasi kini telah tercipta sistem e-government, yaitu upaya pelayanan publik
dengan berbasis internet. Sistem e-government ini menawarkan kemudahan
masyarakat untuk mengakses informasi-informasi dari pemerintah dan sebaliknya.
Selain itu e-government juga memberi kemudahan akses informasi antara
pemerintah dengan pemerintah maupun pemerintah dengan kalangan usaha.
E-government dengan sistem kecanggihannya juga memiliki kelebihan dalan hal
tranparansi dan akuntabilitas. Sehingga korupsi yang sering terjadi dalam
tataran penyelenggara negara dapat diminimalisir atau ketika semua pihak
benar-benar berkomitmen dan konsisten untuk memanfaatkan e-government ini
sebaik mungkin tidak mustahil seiring berjalannya waktu korupsi dapat
dihilangkan.
Namun pelaksanaan e-government di negara berkembang seperti
di Indonesia juga masih menemui banyak kendala sehingga belum dapat
dilaksanakan secara optimal. Terlepas dari kendala-kendala tersebut pada
dasarnya e-government sangat mendorong terciptanya efektivitas, efisiensi,
tranparansi, dan akuntabilitas penyelenggaraan negara yang pada akhirnya nanti
dapat tercipta suatu birokrasi yang diidam-idamkan atau tercipta suatu good
governance.